Metro

Satu Balon Wali Kota Terpental


Pilwali Makassar Diprediksi Tiga Paslon

MAKASSAR, BKM — Dalam beberapa pekan terakhir mencuat empat pasangan yang bakal meramaikan pertarungan dalam pemilihan wali kota (pilwali) Makassar, 9 Desember 2020 mendatang. Mereka adalah Moh Ramdhan Pomanto-Fatmawati Rusdi, Syamsu Rizal MI-dr Fadli Ananda, Irman Yasin Limpo-Nunung Dasniar, serta Munafri Arifuddin-Abdul Rahman Bando.
Namun, seiring gencarnya perburuan parpol pengusung, diprediksi hanya akan tersisa tiga pasangan calon (paslon) saja. Satu di antaranya akan terpental dari arena karena parpol pengusungnya tidak mencukupi.
Anomali dukungan partai politik kian kencang terjadi akhir-akhir ini. Yang terbaru pada Senin (29/6). Seperti telah diprediksi sebelumnya, Partai Golkar akhirnya meninggalkan Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto yang memilih berpasangan dengan Fatmawati Rusdi. Dukungan beringin rindang beralih ke Irman Yasin Limpo alias None.
Sebelumnya, adik kandung Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo ini sudah mengantongi dukungan dari PAN. Sementara Danny kini hanya mengantongi dukungan Partai Nasdem. Itupun sementara digoyang oleh None.
Dukungan partai politik sangat memungkinkan untuk berubah. PKS yang mengontrol lima kursi untuk Syamsu Rizal alias Deng Ical, juga belum aman. Termasuk Partai Perindo yang punya dua kursi yang sejak awal dekat dengan Munafri Arifuddin alias Appi, juga berpeluang hengkang.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur Andi Prianto, meyakini bila pilwali bisa jadi hanya diikuti tiga paslon. “Paling banyak tiga. Bahkan bisa saja dua paslon, mungkin,” ujar Luhur ketika mengomentari hasil survei Profetik Institute di Hotel Trisula Makassar, Selasa (30/6).
Direktur Profetik Institute Asratillah Senge, memprediksi jika parpol akan melabuhkan rekomendasi ke tiga paslon saja. “Kalau hasil kajian kami, kemungkinan besar tiga. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah None (Irman Yasin Limpo) yang tidak maju, ataukah Danny (Moh Ramdhan Pomanto) yang tidak maju. Tapi itu masih prediksi sementara. Artinya kita masih menunggu perkembangan-perkembangan selanjutnya,” ujar Asratillah.
Menurutnya, ada dua pasangan calon yang tergolong aman dalam kancah perebutan rekomendasi partai. Yakni pasangan Munafri Arifuddin-Abdul Rahman Bando (Appi-ARB) dan Syamsu Rizal-Fadli Ananda (Dilan).
None dan Danny sendiri bersengkata dalam memperebutkan rekomendasi Partai Nasdem. Meskipun Danny sudah mengantongi surat rekomendasi Nasdem yang memiliki enam kader di parlemen Makassar, namun banyak kalangan yang menilai kedekatan None dengan Ketua DPW Nasdem Sulsel Rusdi Masse (RMS), akan membuat Danny tersingkir sebagaimana Golkar meninggalkan Danny.
Jika pilwali gagal diikuti oleh Danny, maka Appi diprediksi akan leading sebagai pemenang.
Survei Profetik Institute yang dilakukan 17-26 Juni 2020 melibatkan 1.200 responden, menggunakan metode multistage random sampling. Hasilnya menempatkan Appi-ARB sebagai pemenang jika Danny tak ikut. Appi-ARB meraih 42,2 persen, sementara pasangan Ical-Fadli mendapat 19 persen, serta None-Yagkin atau None-Zunnun hanya 4 persen.
“Sebenarnya simulasi ini sangat memungkinkan terjadi jika melihat situasi dukungan partai hari ini,” jelas Asratillah Senge.
Ia melanjutkan, jika pilwali tidak diikuti None, maka Danny-Fatma yang unggul dengan 36,4 persen. Sementara Appi-ARB 29,8 persen dan Ical-Fadli 17,64 persen. Responden yang belum menentukan pilihan sebesar 16,1 persen.
Survei ini memiliki tingkat kesalahan atau margin of error sebesar 2,6 persen. Tingkat partisipasi pemilih di pilwali Makassar juga diprediksi akan cukup tinggi.
Luhur Andi Prianto menilai, kalangan profesional akan menjadi pilihan pemimpin yang terbaik untuk masyarakat Kota Makassar ke depan. Pasalnya, sudah banyak contoh daerah yang berhasil bangkit karena dipimpin oleh kepala daerah yang berlatar belakang profesional.
“Ada kelebihan yang dimiliki para profesional yang bermigrasi ke politik. Itu karena mereka punya differensiasi dalam banyak hal. Banyak daerah lain yang dipimpin profesional, itu berhasil membangun daerahnya dibanding yang pimpin birokrat atau politisi. Mungkin karena pemimpin profesional itu sudah terbiasa dengan kerja-kerja yang terukur,” jelas Luhur.

PAN Bisa Batalkan Rekomendasi

Meski None telah mendapat dukungan dari Partai Golkar serta lebih awal mendapat dukungan dari PAN, namun mantan kepala Dinas Pendidikan Sulsel itu belum bisa memutuskan nama calon wakilnya.
Hal itu disampaikan Ketua DPD PAN Makassar Hamzah Hamid. Alasannya, karena PAN juga boleh merekomendasikan kadernya untuk berpaket dengan None.
“Kita sebelumnya sudah bicarakan ini dengan Pak None. Sebelum menentukan pasangannya harus komunikasi dulu ke kami. Kita belum juga bicarakan soal itu (paket) dengan partai lain. Soal mendorong kader (PAN), kita nanti lihat. Kalau kader bisa kita dorong, kenapa tidak. Karena itu amanat partai,” ujar Hamzah Hamid, Selasa (30/6).
Legislator Makassar ini tak menutup mata dan telinga dengan isu yang santer menyebut None bakal berpasangan dengan Andi Zunnun, putra ketua DPD I Partai Golkar atau kader Gerindra Makassar Nunung Dasniar. Namun, hingga saat ini PAN belum menentukan sikap dan bisa saja membatalkan rekomendasi jika None tidak membicarakan pasangan dengan PAN.
“Harus disepakati dulu, karena pasti dalam mengusung paket pasangan ada perkiraan untuk menang. Jika pasangannya itu tidak menambah elektabilitas, maka kita bisa saja tidak setuju. PAN juga bisa kecewa. Makanya, bicarakan dulu dengan kami sebelum menentukan pasangan,” tandasnya.
Hamzah meminta agar None tidak terlalu terburu-buru memilih calon wakil. PAN telah memberikan dukungan lima kursi kepada None, sementara Golkar juga memiliki lima kursi. Sehingga total dukungan parpol ke None sudah mencukupi 10 kursi.
“Pada prinsipnya kami di PAN, apapun yang akan diputuskan Pak None harus dikomunikasikan ke PAN. Dari awal kami memang menugaskan Pak Irman untuk mencukupkan koalisi partai dulu. Soal wakil harus dibicarakan dulu ke PAN,” tuturnya. (rif-ita)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.