Bisnis

OJK Minta Perbankan Agresif Salurkan Kredit


JAKARTA, BKM — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perbankan di tanah air untuk agresif menyalurkan kredit. Karena pada Juni ada kecenderungan penyaluran kredit tak bergerak alias stagnan.
OJK juga berharap penempatan dana pemerintah pada bank-bank milik negara (Himpunan Bank Milik Negara/Himbara) bisa membuat penyaluran kredit tetap ekspansif untuk mengatasi dampak perlambatan ekonomi karena virus Corona (Covid-19).
”Sebagaimana rapat sebelumnya kami sampaikan restrukturisasi kredit perbankan sudah mulai agak melandai,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, saat rapat dengan Komisi XI DPR, di Jakarta, Senin (29/6).
Artinya, kata Wimboh, sudah sebagian besar dilakukan di April dan Mei, Juni melandai. Ini tanda sebenarnya sudah dilakukan kalau ada tambahan tidak begitu banyak. Dan ini sudah waktunya akan meminta bank mulai memberikan kredit kepada debitur yang kemarin melakukan restrukturisasi maupun yang tidak.
Wimboh menambahkan penempatan dana Rp30 triliun pada empat bank Himbara akan mendorong bank lebih agresif menyalurkan kredit untuk pemulihan ekonomi nasional. Adapun empat bank BUMN itu, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
Dari sisi permodalan, kata Wimboh, hingga saat ini perbankan nasional tidak memiliki masalah dalam hal permodalan dan likuiditas, setelah Bank Indonesia (BI) melonggarkan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM).
Namun ada beberapa hal yang jadi perhatian OJK, di antaranya peningkatan kredit macet (non performing loan/NPL) pada Mei yang sudah diprediksi sebelumnya. Menurut Wimboh, beberapa sektor usaha sudah terkena imbas dari Covid-19.
”Ini hanya bisa diatasi kalau ada kesempatan masyarakat, bisa ada keleluasaan lagi lakukan aktivitas sosial, traveling meski tetap harus memenuhi protokol Covid-19. Ini syarat utama kredit ini. Jadi kalau disalurkan bisa efektif betul generate revenue bagi perusahaan. Hotel kalau sudah kreditnya di-disburse (ditarik) tapi tidak ada penghuninya tidak optimal. Transportasi sudah ada tambahan modal, tapi tidak ada penumpang yang naik. Kan sama saja,” kata Wimboh.
Untuk itu, lanjut Wimboh, bank diminta hati-hati alokasikan sektor mana yang diberikan kredit baru. Diharapkan bisa menyerap tenaga kerja dan bisa tumbuh. (int)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.