Headline

Laboratorium Pembelajaran Syam, Bentuk Jiwa Marketing Nur Hayat


Mereka Berkisah Tentang BKM

SEJAK kehadirannya 23 tahun silam, Berita Kota Makassar telah mencetak generasi-generasi tangguh. Walau banyak di antara mereka tak lagi bersama satu atap dalam sebuah perusahaan, namun kenangan indah, unik, suka serta duka masih tersimpan di benak masing-masing.

Syamsuddin Alimsyah bergabung dengan koran ini di awal penerbitan hariannya. Kala itu masih bernama Harian Binabaru. Ia memulai karir sebagai seorang reporter.
Syam –begitu ia karib disapa– saat ini dikenal sebagai aktivis antikorupsi, yang berawal dari Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Sulawesi. Melalui jejaring media sosial dari Bogor, kota yang ia dan keluarga bermukim saat ini, Syam berbagi cerita.
Dua generasi BKM lainnya yang menuliskan kisahnya adalah H Nur Hayat, yang saat ini menjadi CEO Aljaziyah, sebuah biro perjalanan haji dan umrah di Sulsel. Serta Dr Nurmal Idrus, mantan komisioner KPU Makassar yang kini menjadi konsultas politik di Nurani Strategic.
Kisah ketiganya disampaikan dan dituliskan dengan model bertutur, seperti yang berikut ini.

Syamsuddin Alimsyah

Selamat HUT BKM yang ke-23. Sebagai salah satu koran metro di Makassar, kehadirannya selalu dinantikan oleh masyarakat dalam memotret perkembangan kota. Saya selalu bersemangat mengikuti berita-berita yang disajikan BKM, terutama berkaitan persoalan dan fenomena kota Makassar.
Sejak beberapa tahun lalu, saya bersama keluarga memang sudah tidak tinggal di Makassar. Kami semua hijrah ke Bogor. Namun semua itu tidak menjadi hambatan bagi saya untuk mengikuti perkembangan BKM. Apalagi dengan inovasinya, satu informasi bisa didapatkan dalam tiga media sekaligus. Yakni melalui surat kabar cetak, media daring serta kanal Youtube.
Bagi saya ini kemajuan yang luar biasa bila dibanding di era kami yang zaman old, dengan fasilitas masih serba terbatas. Jangankan bicara online ketika itu. Fasilitas hard saja, seperti komputer untuk mengetik berita masih terbatas oleh masing masing redaktur. Bagi reporter, he… he… sabar kalian harus antre.
Belum lagi bila disketnya rusak atau salah format, ampun dah. Semua data berita yang sudah selesai bisa hilang seketika karena terhapus.
Bersyukur bila anda sudah makan siang sebelum buat berita. Karena ini benar-benar kesabaran anda sepertinya sedang dalam tahap ujian tingkat tinggi. Apakah anda akan memilih bertahan di depan komputer mengetik membuat ulang berita. Atau segera bergegas menuju lantai satu di kantin untuk sekadar isi perut. Sebab terlambat sedikit saja maka anda akan kehabisan. Dan itu berarti anda tidak akan makan siang bukan karena puasa, tapi karena kehabisan makanan di kantin.
Seperti pernah saya alami. Sebagai reporter yang ditugaskan meliput di pengadilan sudah pasti akan selalu terlambat tiba kantor. Bukan faktor malas. Meliput sebuah persidangan selalu membutuhkan waktu yang cukup lama dari perkiraan. Apalagi sudah masuk tahap pemeriksaan saksi-saksi.
Sayangnya, batas waktu atau deadline halaman hukum yang paling cepat. Sehingga tiba di kantor harus berburu komputer untuk buat berita.
Ada kepuasan luar biasa bila tiba di kantor dan menemukan ada satu saja komputer yang sedang kosong. Kursi lipat yang terbuat dari besi pun langsung saja ditarik. Nyalakan segera komputer sambil masukkan disket. Jaket yang dipakai dari jalan, tak Tak perlu buru-buru dilepas. Bahkan seandainya helm tidak mengganggu saat mengetik berita pun juga tidak dilepas. Yang terpenting berita segera selesai.
Saya sendiri tidak terbiasa banyak mencatat saat meliput, bahkan wawancara. Selain tentu yang berkaitan dengan nama-nama dan alamat karena takut salah.
Dengan penuh semangat, saya memulai mengetik berita. Penuh semangat saya menuangkan data ke layar komputer. Karena saya yakin berita yang saya buat hari itu akan diterbitkan headline (HL).
Kebetulan beritanya soal mafia surat dakwaan alias praktik jual beli surat dakwaan. Ketikan terus mengalir. Namun petaka tetiba datang. Saya yang kurang hati-hati ternyata salah tindis, yakni menekan enter dengan shift sampai akhirnya semua terhapus. Padahal saat itu sisa penutup berita, lalu memasukkan kode sebagai reporter. Karena rencana berita ini masuk planning redaktur, maka tidak ada pilihan, saya harus segera membuatnya ulang. Saya pun akhirnya tidak menikmati makan siang, tapi bukan karena puasa.
Selamat untuk semua kawan-kawan di BKM. Teruslah berkarya. Zaman tentu berbeda dan tantangan pun tak lagi sama. Meski demikian, ada satu hal yang saya selalu pegang selama aktif di BKM. Ini juga saya sering sampaikan ke orang lain. Bagi saya BKM bukan sekadar tempat bekerja, tapi menjadi laboratorium pembelajaran. Tempat saya dikader banyak hal. Dan terpenting karena kita semua saling peduli.

H Nur Hayat

Saya bergabung saat Harian Berita Kota masih bernama Binabaru. Bekerja sebagai tenaga pemasaran iklan, setiap hari keliling kota Makassar. Awalnya berboncengan, karena belum PD (perdaya diri) nego sendiri. Masuk ke toko-toko menawarkan iklan.
Bahkan pernah masuk ke kandang ayam berbicara langsung dengan pemiliknya agar menawarkan jualan ayamnya lewat iklan di koran. Saya berdua dengan teman mengenakan dasi kala itu.
Perjalanan waktu saya pun diangkat sebagai pegawai tetap dengan jabatan manajer sirkulasi. Kemudian menjadi manajer iklan dan sponsorship. Rumah pertama saya bahkan saya beli dari gaji di koran metro ini.
Prestasi terus berlanjut. Saya ditarik ke Harian Fajar. Dari staf iklan hingga akhirnya menjadi manajer iklan. Bekerja 16 tahun di media memberi pengalaman dan motivasi menjadi owner bisnis.
Terima kasih Harian Berita Kota yang telah membentuk mental dan passion saya sebagai orang marketing, sekaligus cikal bakal sebagai pengusaha. Sukses terus teman-teman semua. Love you all.

Dr Nurmal Idrus

Saya menjadi jurnalis BKM selama delapan tahun, dari tahun 2000-2008. Dalam rentang waktu itu itu saya menempati posisi reporter, redaktur olahraga, redaktur politik, redaktur daerah. Tahun 2008 saya harus meninggalkan BKM karena terpilih menjadi anggota KPU Makassar.
Semua mungkin wartawan yang paling lengkap peliputan di BKM, terutama liputan olahraga. Tahun 2005 saya pernah di Yokohama, Jepang, meliput laga PSM yang menantang tuan rumah Yokohama Marinos. Ketika itu PSM kalah 0-3.
Hampir semua ibukota provinsi saya pernah datangi karena liputan olahraga. 2004, saya meliput PON di Palembang selama hampir sebulan.
Pengalaman paling berkesan di BKM ketika saya diutus ke Republik Yaman yang tengah berkonflik bersenjata. Kejadian itu tahun 2007 pascasaya diutus BKM mengikuti ibadah umrah di Arab Saudi. Kami singgah di Yaman dan menginap beberapa malam di ibukota Sana’a yang saat itu dikuasai kelompok pemberontak.
Kami sempat mengunjungi Kota Magrib, Yaman Utara, yang justru tengah berkonflik dengan Yaman Selatan, tempat kami menginap. Saya ke sana karena ingin melihat peninggalan Ratu Balqis yang terkenal cantik. Untuk ke sama harus melewati wilayah kekuasaan pemberontak dan mengalami beberapa kali pemeriksaan. Sepanjang perjalanan saya dan rombongan sering berhenti karena terjadi kontak senjata. (*)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.