Bisnis

Webinar Krista Exhibition Kupas Tuntas Tantangan dan Peluang Bisnis Daur Ulang Plastik di Indonesia Dimasa Pandemi


WEBINAR -- Atas ke bawah: Christina Sudjie, CMO Krista Exhibitions selaku moderator, Hengkie Hendra Wibawa, Direktur Eksekutif IPF, Christine Halim, Ketua Umum ADUPI, dan Yohanes Fredy Marsetya (Sales Manager PT Krones Machinery Indonesia) saat acara Webinar 'Tantangan dan Peluang Bisnis Daur Ulang Plastik di Indonesia Pada Masa Pandemi'.
MAKASSAR, BKM — Krista Exhibitions sukses menggelar webinar bertajuk ‘Tantangan dan Peluang Bisnis Daur Ulang Plastik di Indonesia Pada Masa Pandemi’, Jumat (26/6).
Meski dilaksanakan secara daring (dalam jaringan), tapi tidak mengurangi animo masyarakat dari berbagai kalangan untuk ikut dalam webinar ini.
Seperti disampaikan Christina Sudjie selaku CMO Krista Exhibitions, webinar ini diikuti 850 orang peserta dari 24 provinsi di Indonesia. Bahkan, ada pula beberapa peserta dari luar negeri, seperti Singapura dan Australia.
”Ini menunjukkan kalau bisnis daur ulang plastik telah mendapat perhatian dari masyarakat Indonesia maupun dari luar negeri. Jadi masyarakat tidak lagi melihat plastik itu sebagai sampah. Tapi telah menjadi sebuah peluang bisnis,” kata Daud D Salim, CEO Krista Exhibition saat menyampaikan sambutan pembukaan.
Webinar yang berlangsung selama dua jam, menghadirkan sejumlah pembicara yang kapabel dibidangnya, masing-masing Muhammad Khayam (Dirjen Industri Kimia, Farmasi, Tekstil Kementerian Perindustrian RI), Novrizal Tahar (Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan RI), Christine Halim (Ketua Umum ADUPI), Hengkie Hendra Wibawa (Direktur Eksekutif IPF), dan Yohanes Fredy Marsetya (Sales Manager PT Krones Machinery Indonesia).
Muhammad Khayam yang tampil sebagai pembicara pertama menyampaikan, selama masa pandemi virus Corona atau Covid-19, industri daur ulang plastik merupakan salah satu industri yang terdampak besar. Dimana, utilisasi produksi hanya mencapai 30 persen sampai 40 persen.
Rendahnya utilisasi produksi tersebut dikarenakan menurunnya permintaan pasar. Baik pasar dalam negeri maupun luar negeri atau ekspor. Kondisi tersebut berdampak pada 120 ribu tenaga kerja langsung dan 3,3 juta pemulung sebagai pekerja informal pendukung sektor industri daur ulang plastik.
Sampai bulan Juni 2020, sebanyak lebih dari 63 ribu tenaga kerja langsung di sektor industri ini telah dirumahkan. Dan sebagian karyawan belum menerima THR (tunjangan hari raya).
”Selama masa pandemi Covid-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan pada beberapa kota besar, kebutuhan barang plastik menurun tajam. Fluktuasi harga bahan baku virgin berdampak pada harga bahan baku daur ulang di pasaran. Ditambah lagi harga minyak bumi yang sempat hingga di bawah USD20 per barrel, mengakibatkan rendahnya harga bahan baku virgin hingga dikisaran USD900 per ton (untuk PE). Sehingga  penggunaan bahan baku plastik daur ulang tidak lagi ekonomis. Untuk dapat bertahan dari kondisi tersebut, industri daur ulang plastik nasional membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah,” ujar Muhammad Khayam. (amir)
Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.