Headline

Rekannya Diadili, Guru Gelar Aksi Solidaritas


BKM/PURMADI AKSI SOLIDARITAS-Guru yang tergabung dalam PGRI dan IGI Sidrap menggelar aksi solidaritas di depan kantor PN Sidrap, Rabu (24/6).

SIDRAP, BKM — Bebaskan guru. Tulisan di spanduk itu, terpampang besar di kantor Pengadilan Negeri (PN) Sidrap, Rabu (24/6). Kehadiran ratusan guru dari berbagai pelosok Bumi Nene’ Mallomo itu tak lain sebagai aksi solidaritas terhadap rekan mereka Tamsir.
“Hari ini kami datang di kantor pengadilan dan kejaksaan. Kita minta Pak Tamsir dibebaskan,” ujar Ketua PGRI Sidrap Muslimin, didampingi Ketua IGI Sidrap Nurdin.
Tamsir adalah seorang guru berstatus aparatur sipil negara (ASN). Sehari-hari ia mengabdi di SMPN 2 Pangkajene Sidenreng. Siang kemarin, Tamsir menjalani sidang perdananya atas dugaan kasus penganiayaan terhadap salah seorang siswinya berinisial AU.
Sidang dipimpin hakim ketua Satriany Alwi, didampingi dua hakim anggota, masing-masing Yoga Pramudana dan Andhi Yudha Ristanto. Achmad Imam Lahaya bertindak selaku jaksa penuntut umum (JPU) dalam perkara yang berlangsung sekira tiga bulan silam tersebut.
Agenda sidang pemeriksaan berkas dan juga saksi-saksi itu, awalnya berlangsung lancar. Namun terpaksa ditunda karena saksi tidak lengkap.
Sedianya, ibu korban dihadirkan oleh JPU sebagai saksi. Tapi ia berhalangan hadir dengan alasan sakit.
Hakim berpendapat, dua orang saksi yang dihadirkan JPU dari kalangan pelajar, belum terpenuhi untuk melanjutkan persidangan.
Karenanya, sidang dengan agenda yang sama kembali akan dilanjutkan pada Rabu, 1 Juli 2020.
Humas PN Sidrap Andi Maulana mengatakan, pihaknya akan menggelar sidang perkara tersebut secara terbuka agar semuanya transparan dan diketahui publik.
“Tadi sidangnya kita gelar secara langsung dan itu dilakukan terus menerus, tidak secara virtual seperti menyindangkan kasus yang lainnya,” kata Andi Maulana.
Lantas mengapa Tamsir bisa terseret kasus penganiayaan tersebut?
JPU Achmad Imam Lahaya menerangkan, peristiwa itu berawal saat terdakwa sedang mengajar di dalam kelasnya.
Ceritanya, terdakwa sedang mengabsen kehadiran siswa-siswinya. Pada saat itu, korban tidak menghiraukannya dan sedang bernyanyi
Melihat itu, terdakwa lalu menghampiri korban. Ia diduga melakukan kekerasan dengan cara memukul belakang kepala dan punggung menggunakan buku, serta memukul punggung belakang menggunakan tangan kosong.
“Kurang lebih seperti itu yang dalam berita acara pemeriksaan saksi-saksi. Kendati demikian, kita akan lihat fakta sebenarnya dalam persidangan,” kata Achmad Imam Lahaya.
Atas perbuatan itu, Tamsir didakwa dengan pasal 80 ayat (1) juncto Pasal 76 huruf C UU No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Jika merujuk pasal tersebut, maka Tamsir diancam hukuman pidana penjara selama 3 tahun 6 bulan.
Terpisah, Kajari Sidrap Syamsul Kasim melalui Humas Andi Ikbal, pada intinya menyambut baik aksi solidaritas yang dilakukan rekan-rekan terdakwa.
“Kalau tidak salah, dari Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sidrap,” kata Andi Ikbal
Namun demikian, kata dia, pihaknya tetap harus melanjutkan perkara tersebut dikarenakan adanya laporan dan visum korban. “Sebenarnya, kasus ini cukup lama baru ada surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP). Harapannya kasus ini dimediasi, tapi ternyata buntu,” katanya.
Karenanya, sambung Andi Ikbal, ia meminta semua kalangan memaklumi serta mengikuti jalannya persidangan. Dia pun menjamin JPU akan bertindak secara profesional dan berusaha untuk menangani perkara tersebut dengan seobjektif mungkin. (ady/c)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.