Headline

Makassar Menuju Puncak Pandemi


MAKASSAR, BKM — Ahli epidemiologi Universitas Hasanuddin, Prof Ridwan Amiruddin memperkirakan, pertengahan Juni 2020 ini, Makassar akan menghadapi puncak pandemi covid-19.
“Untuk Kota Makassar, Juni ini masuk ke puncak. Ya, sekitar 14 Juni. Saat ini, posisi Makassar sudah berada di leher kurva. Secara perlahan akan menuju puncak,” ungkapnya ketika menjadi salah satu pembicara dalam pertemuan dengan seluruh perguruan tinggi di Ruang Pertemuan Sipakalebbi, Balai Kota Makassar, Kamis (4/6).
Dia mengatakan, untuk Kota Makassar, sebenarnya saat ini diperkirakan orang yang sudah terinfeksi, baik yang nampak maupun tidak, sudah mencapai 117.531 orang.
Prof Ridwan mengemukakan, setelah mencapai puncak, kasus ini secara perlahan akan melandai. Karenanya pemerintah harus semakin intens melakukan intervensi, baik dengan melakukan rapid test, tracing, dan mensosialisasikan aktifitas yang mencegah penularan covid-19.
Kendati angka orang dengan positif covid 19 akan bertambah, namun dengan melihat intervensi pemerintah yang cukup massif, ditambah kesadaran masyarakat semakin baik terhadap pencegahan, penularan covid akan semakin berkurang.
Jika sudah melandai, kata dia, Makassar sudah bisa untuk bersiap menuju kenormalan baru. Menurutnya, sebuah daerah baru bisa menuju tahap kenormalan baru jika enam minggu berturut-turut, kurva atau grafik positif covid-19 terus mengalami penurunan.
Sementara dari Bappenas, kriteria untuk melakukan pelonggaran jika angka R0 mengalami penurunan dua minggu berturut-turut dan berada di bawah 1. Agar kurva terus mengalami penurunan, jenis intervensi yang cukup efisien dilakukan adalah agressif testing yang dilakukan minimal satu persen dari jumlah penduduk. Testing dilakukan kepada kelompok-kelompok berisiko seperti ibu hamil, lansia, petugas kesehatan dan lainnya.
“Jadi kalau misalnya di Makassar jumlah penduduknya sekitar 1,5 juta, maka satu persen atau sekitar 15 ribu warga yang harus ditesting,” ungkapnya.
Selain itu, intervensi kesehatan masyarakat, kendalikan sumber infeksi, sosial distancing di angkutan umum, cegah infeksi baru, tetap tinggal di rumah jika tidak ada keperluan yang sangat penting, serta bangun komunikasi.
Saat ini, jumlah kasus positif covid-19 di Makassar sudah mencapai 800 lebih, khususnya di enam kecamatan. Butuh keterlibatan seluruh sumber daya yang ada untuk memutus mata rantai covid ini. Khususnya yang ada di Makassar. Karena sekitar 60 persen kasus covid berada di Makassar. “Kalau Makassar bisa diatasi, Sulsel secara perlahan akan pulih,” jelasnya.
Penjabat Wali Kota Makassar Yusran Jusuf mengemukakan, sejumlah langkah dilakukan untuk memutus mata rantai covid-19 di kota ini. Salah satunya, dengan merangkul dan mengajak kerja sama perguruan tinggi, khususnya fakultas yang berhubungan dengan bidang kesehatan untuk secara massif mensosialisasikan program pemerintah dalam memutus mata rantai covid.
“Karenanya pemkot bekerja sama dengan gugus tugas dan kampus-kampus untuk turun ke masyarakat memutus mata rantai covid. Kita harus melakukan edukasi secara massif ke masyarakat,” jelasnya.
Menurut rencana, pada 6 Juni mendatang, sosialisasi dan edukasi mulai akan dilaksanakan dengan menggaungkan Gerakan Makassar Sehat, Low Contact, High Immunity.
Kepala Dinas Kesehatan Makassar dr Naisyah Tun Azikin menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan perjanjian kerja sama dengan perguruan tinggi untuk terlibat dalam langkah-langkah edukasi dan sosialisasi yang akan dilaksanakan. Perguruan tinggi itu nantinya akan menurunkan mahasiswanya ke seluruh kecamatan.

Fluktuatif

Pemprov Sulsel mengklaim sebanyak 18 kabupaten/kota saat ini mencatatkan angka reproduksi efektif (Rt) covid-19 di bawah 1. Dengan demikian, daerah-daerah tersebut secara perlahan mulai dapat mengendalikan penyebaran covid-19.
Adapun 18 daerah yang dimaksud berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulsel yakni Bantaeng, Barru, Bone, Gowa, Jeneponto, Selayar, Luwu Timur, Luwu Utara dan Maros. Selanjutnya ada Pangkep, Pinrang, Soppeng, Tana Toraja, Toraja Utara, Wajo, Palopo, Luwu serta Sidrap.
Gubernur HM Nurdin Abdullah mengatakan, kondisi tersebut tidak bisa dianggap enteng. Sebab, jumlah kabupaten bebas covid-19 itu masih fluktuatif.
“Kita tidak boleh lengah. Saya kira yang terpenting sekarang ini adalah protokol kesehatan secara ketat. Masker, cuci tangan, jaga jarak, dan hindari kerumunan. Covid-19 ini kan tidak akan hilang,” ujarnya.
Nurdin mengingatkan masyarakat agar tidak berpuas diri dengan apa yang telah dicapai saat ini. Menurutnya, selama vaksin belum ditemukan maka selama itu juga masyarakat harus lebih berhati-hati.
“Di setiap kesempatan, saya ingatkan semua bahwa menuju new normal itu adalah kehidupan yang sama sekali sangat berbeda dengan kehidupan kita sebelum-sebelumnya,” terangnya.
Untuk itu, lanjut Nurdin, tak hentinya ia menegaskan agar masyarakat fokus menerapkan protokol kesehatan. Seluruh pihak berwenang juga diimbau untuk terus menyosialisasikan protokol kesehatan tersebut kepada masyarakat.
Ia berharap dengan upaya tersebut, rantai penularan terutama di pusat-pusat episentrum penularan terus mengalami penurunan, sehingga tidak ada lagi transmisi lokal.
“Menggunakan masker itu sudah membantu kita memutus rantai penularan. Jadi kita berusaha terus, termasuk di Makassar ini,” tutupnya.

Reaktif di TPI Paotere

Pada Rabu (3/6), Pemkot Makassar menggelar rapid test covid-19 di Tempat Pelelangan Ikan (Lelong) Paotere, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar. Sebanyak 300 alat rapid tes disiapkan. Namun hanya 129 orang yang merupakan nelayan dan penjual ikan yang mengikuti proses pemeriksaan tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan dr Naisyah Azikin menyebut, dari total 129 orang nelayan yang menjalani tes cepat, tercatat ada enam orang yang dinyatakan reaktif. “Enam di antaranya reaktif,” ujarnya, kemarin.
Dia mengatakan, bagi yang terbukti reaktif, akan dilakukan isolasi di hotel. Selanjutnya akan tes swab. Jika hasilnya negatif, pasien boleh pulang.
Tak lupa ia selalu mengingatkan para pedagang dan pembeli agar tetap menggunakan masker saat bertransaksi di tempat pelelangan ikan ini.
Penjabat Wali Kota Makassar Yusran Jusuf mengapresiasi warga Makassar yang melakukan rapid test. “Saya lihat masyarakat cukup antusias, meskipun masih ada beberapa yang merasa takut dirapid test. Padahal ini tidak susah dan baik untuk mendeteksi dini,” ujar Yusran.
Ia mengatakan, rapid test ini bagian dari upaya Pemkot Makassar untuk mendeteksi virus corona. Hal itu juga untuk mencegah penyebarannya di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Yusran juga mengedukasi warga agar mengedepankan protokol kesehatan, dengan mengingatkan para pedagang dan pembeli agar tetap menggunakan masker saat bertransaksi di tempat pelelangan ikan ini. (rhm-nug)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.