Headline

Belajar di Rumah Diperpanjang, Guru Diminta Kreatif


MAKASSAR, BKM — Pemerintah Provinsi Sulsel memperpanjang masa belajar di rumah, terhitung mulai hari ini, Jumat (5/6) hingga 19 Juni 2020. Keputusan ini ditandatangani langsung oleh Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, Kamis (4/6).
Dalam surat edaran Nomor 443.2/3450/Disdik, menyatakan pemberlakuan perpanjangan belajar di rumah berlaku pada jenjang perguruan tinggi, SMA, SMK, MA, SMP, MTs, SD, MI, dan SLB negeri dan swasta se-Sulsel.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Basri mengatakan, keputusan ini berdasarkan putusan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI nomor 13.A tahun 2020. Menyatakan tentang perpanjangan status keadaan darurat bencana wabah penyakit akibat covid-19 di Indonesia.
“Selain keputusan BNPB, perpanjangan ini juga mengacu kepada surat Mendikbud RI nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19,” ungkap Basri, kemarin.
Dalam surat edaran gubernur, disampaikan beberapa hal. Antara lain perpanjangan masa kuliah/belajar di rumah, dan juga tidak diperbolehkan berada di lingkungan kampus dan sekolah. Termasuk di dalamnya asrama bagi yang berstatus boarding school.
“Keputusan ini berlaku mulai 5 Juni 2020 sampai tanggal 19 Juni 2020,” tambah Basri.
Sementara untuk penerimaan peserta didik baru (PPDB) tetap dilaksanakan, dan akan dimulai pada 8 Juni mendatang.
Berdasarkan Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44 Tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB) 2020 PPDB tahun ini tetap dilaksanakan secara daring.
Namun di tengah kondisi pandemi covid-19, kegiatan penerimaan di sekolah dihilangkan, mulai dari pengembalian formulir, masa pengenalan sekolah, dan pelaksanaan tes psikotes dikonsep berbasis daring.
Menurut Basri, PPDB online akan dimaksimalkan di tengah pandemi ini. Tidak diperbolehkan adanya kontak fisik antara calon peserta didik, orangtua, dan guru.
“Aplikasi e-panrita akan kita maksimalkan. Jadi soal-soal psikotes kita kirim di aplikasi, kemudian mereka akan mengakses untuk menjawab soal-soalnya,” ucap Basri.
Sistem zonasi tetap berlaku. Olehnya itu, peserta didik dan orangtua diharapkan mendaftar ke sekolah-sekolah yang terdekat dari tempat tinggalnya agar pendidikan bisa merata dan adil. Tidak ada lagi label sekolah favorit dan unggilan dalam sistem zonasi ini, sebab kata Basri status sekolah semuanya sama.
Dengan dihilangkannya ujian nasional tahun ini, para siswa bisa menggunakan nilai rapor sekolahnya yang ada di semester 1 hingga lima. Mereka cukup melampirkan hasil scan rapor kemudian mengirimkan ke laman PPDB sekolah yang akan didaftarkan.
“Syaratnya tetap sama. Tapi karena tidak ada ujian nasional tahun inim jadi nilai rapor semester satu hingga lima yang dilampirkan untuk mendaftar,” paparnya.
Diketahui, total jumlah alumni SMP/MTS sebanyak 152.848. Sementara daya tampung untuk SMA, SMK, dan SLB sebanyak 174.282. Sehingga masih ada selisih sebanyak 2.234 ketersediaan bangku.
“Saya meyakini bahwa PPDB tahun ini tidak ada masalah, kecuali jika orangtua memaksakan kehendak dengan menyesuaikan sekolah dengan zonasinya,” tegasnya.
Adapun kuota jalur zonasi sebanyak 50 persen, jalur afirmasi paling sedikit 15 persen, jalur perpindahan orangtua/wali paling banyak 5 persen, serta jalur prestasi.

Guru Kreatif

Di tengah pandemi covid-19, guru dituntut agar lebih kreatif maupun memodifikasi gaya belajarnya agar anak-anak yang mengikuti pembelajaran dari rumah lebih aktif dan tidak bosan. Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Amalia Malik.
Dikatakan Amalia, meskipun upaya yang ditempuh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menyediakan sarana belajar dari rumah melalui TVRI, tenaga pengajar perlu mengubah sistem belajar lain. “Proses pendidikan ini tetap harus berjalan,” kata Amalia di Balai Kota Makassar, Kamis (4/6).
Mengingat Kota Makassar tengah berada di zona merah, pihaknya memastikan tetap belajar secara daring. “Ya, apalagi kalau melihat keadaan di Makassar ini masih zona merah,” imbuhnya.
Selain itu, perihal jadwal masuk sekolah pihaknya tetap menanti keputusan dari Kemendikbud. “Kalau belajarnya di sekolah atau di rumah belum ada keputusan dari pemerintah pusat. Jadi tetap berjalan,” ucapnya.
Jika mengacu kepada kalender pendidikan, dimulai pada 13 Juli 2020 hingga 20 Juli 2021. (nug-rhm)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.