Headline

Olah Lahan 1.000 Meter Persegi Hanya Butuh Rp150 Ribu


Tamatan SD Ciptakan Traktor Mini dari Barang Bekas

BKM/MUH AMIN TRAKTOR MINI-Syamsul bersama traktor mini hasil rakitannya dan yang sementara dalam proses perampungan.

BULUKUMBA, BKM — Nama Dusun Bontosuka, Desa Bontotangnga, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba kini ramai dibicarakan. Salah seorang warganya mendadak viral di media sosial berkat inovasi yang dilakukannya. Apa itu?

DI SEBUAH bengkel las yang sekaligus menjadi tempat reparasi jok mobil, Senin (1/6). Di pinggir jalan poros. Tiga orang tengah beraktivitas. Satu pemilik bengkel. Namanya Syamsul. Biasa disapa Amsu. Usianya 35 tahun. Dua lainnya merupakan pekerja di bengkel itu
Amsu merupakan korban kerusuhan Ambon beberapa tahun silam. Sepulang dari sana, ia kemudian mendirikan bengkel las. Siapa sangka, nama Amsu kini jadi perbincangan banyak orang.
Bapak empat anak berhasil melakukan inovasi di bidang pertanian. Suami dari Hasma ini merakit hingga akhirnya menciptakan traktor mini untuk mengolah lahan, khususnya areal perkebunan.
Bahkan beberapa pekan lalu, traktor mini ciptaan Amsu telah digunakan membajak lahan kebunnya seluas 1.000 meter persegi.
Kepada BKM, Amsu bertutur tentang traktor mini rakitannya. Semua berawal dari banyaknya barang bekas yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal dan lokasi usahanya, yang kondisinya masih bisa dimanfaatkan.
Untuk merakit sebuah traktor mini, Amsu memanfaatkan roda serta gardan mobil bekas. Sementara mesinnya, menggunakan mesin pabrik kelapa dan mesin diesel. Harganya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp3 juta.

Onderdil bekas lainnya yang digunakan, seperti bekas kampas mobil, aneka pelat besi atau logam. Dengan sedikit sentuhan teknik dan analisa terapan, limbah barang bekas itupun berhasil digunakan.
“Biaya yang kami butuhkan untuk satu unit traktor mini ini kurang lebih Rp35 juta. Kalau kendala yang dihadapi, yaitu ketersediaan barang bekas tertentu yang stoknya terbatas,” ujar Syamsul.
Hasil inovasi Amsu ternyata mendapat respons positif dari warga sekitar. Sejumlah petani di desanya silih berganti menyewa traktor mini tersebut. Amsu pun semakin termotivasi. Ia merakit lagi, hingga jumlahnya menjadi lima unit. Dua di antaranya kini sudah bisa dioperasikan. Sementara tiga lainnya masih dalam tahap perampungan.
Amsu hanyalah tamatan SD Negeri Ereinung, sebuah sekolah di daerah tempat tinggalnya. Ia sempat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Namun hanya sampai kelas satu. Setelah itu, berhenti bersekolah.
Ide munculnya menciptakan traktor mini berawal dari permasalahan yang dihadapi petani di daerahnya. Mereka kesulitan untuk mengolah tanah miliknya. Karena lokasinya tidak bisa dijangkau traktor berukuran besar. Sementara banyak lahan di daerah ini yang butuh diolah lebih efektif dan efisien.
Untuk itu, agar dapat meringankan beban para petani, utamanya golongan menengah ke bawah, Amsu kemudian berinovasi dengan menciptakan teknologi yang efektif serta tepat guna, dan tentunya hemat biaya.
Persoalan efektifitas waktu dan tenaga petani di pedesaan dalam mengolah lahan pertanian, juga menjadi alasan inovasi ini muncul. Di luar itu, teknologi ini juga diharapkan bisa mengatasi biaya tenaga pekerja yang melambung.
Traktor mini ciptaan Amsu sangat efektif untuk mengolah lahan kering. Dilengkapi alat yang mampu menggemburkan tanah saat persiapan masa tanam. Terdapat pula alat parit yang berfungsi untuk membuat alur lubang agar benih jagung lebih tertata sehingga mempermudah dalam perawatan. Ada pula pula alat tabur benih jagung. Traktor ini dilengkapi satu perangkat tabur benih jagung yang otomatis langsung masuk ke alur parit. Termasuk adanya alat penutup benih jagung yang ditabur otomatis.
“Pada traktor ini juga dilengkapi satu alat untuk menutup lubang, sehingga ketika benih masuk lubang, secara otomatis langsung tertutup kembali,” terang Syamsul.
Berdasarkan analisis dari praktik yang dilakukan Syamsul, alat ciptaannya bekerja sangat efektif. Ia kemudian memberi contoh sebagai perbandingan.
Misalnya, untuk pengolahan lahan seluas 1.000 meter persegi dengan tenaga manual manusia, rerata akan selesai dalam waktu satu hari dengan jumlah pekerja enam orang. Jika biaya tenaga per orang sebesar Rp70.000, maka akan menghabiskan biaya Rp420.000. Bila ditambah biay konsumsi sekitar Rp200.000, maka pengeluaran yang mesti dikeluarkan bisa mencapai angka Rp620.000.
”Namun, dengan alat traktor mini ini, lokasi seluas 1.000 meter persegi dapat selesai dalam waktu di bawah tiga jam. Bahan bakar yang dihabiskan sebanyak tiga liter bensin. Jika dikalkulasi, total biaya diperkirakan di bawah Rp150.000,” bebernya.
Untuk dua unit traktor mini yang telah dimanfaatkan penggunannya, Syamsul memberlakukan sistem sewa kepada petani. Untuk lahan seluas 1.000 meter persegi, ia memberlakukan angka bervariasi. Antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Kendaraan tersebut dioperasikan oleh dua pekerjanya.
Syamsul berharap, traktor mini ciptaannya bisa membantu meringankan beban petani di desanya. Sehingga lahan pertanian di Bontotangnga bisa dimanfaatkan lebih baik lagi, dengan biaya produksi yang dapat diminimalisir.
Kepada Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Amsu berharap bisa diberi ruang. Khususnya untuk mendapatkan modal merakit traktor mini agar jumlahnya lebih lagi, demi memenuhi keperluan petani. (min/b)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.