Headline

15 Menit Jadi Pengobat Rindu Anak dan Istri


Warga Binaan Rutan Bersua Keluarga Secara Virtual

BKM/PURMADI KOMUNIKASI VIRTUAL-Pihak keluarga berkomunikasi secara virtual dengan warga binaan Rutan Klas IIB Sidrap. Fasilitas ini disiapkan setelah peniadaan waktu besuk di tengah merebaknya wabah covid-19.

SIDRAP, BKM — Suasana lebaran Idul Fitri 1441 Hijriyah tahun ini sangat berbeda. Untuk pertama kalinya diterapkan social dan physical distancing. Hal ini pun berdampak pada cara besuk warga binaan rumah tahanan (rutan).

RUTAN Klas IIB Sidrap cukup serius dalam menyikapi wabah covid-19. Khususnya dalam interksi antara keluarga dengan warga binaan. Salah satunya dilakukan secara daring (online).
Pembatasan jam besuk pada rutan yang berlokasi di Galung Aserae, Kelurahan Lakessi, Kecamatan Maritengngae, Sidrap digantikan dengan kunjungan virtual lewat fasilitas video call.
Menyusul merebaknya covid-19, pihak rutan memang meniadakan jam besuk, baik hari-hari biasa maupun pascalebaran. Biasanya, hiruk pikuk suasana temu kangen di tempat ini selalu tampak seusai lebaran.
Namun kali ini tidak. Tak ada lagi jam besuk atau saling bertemu antara keluarga dengan warga binaan. Sistem daring yang disiapkan rupanya cukup efektif bagi mereka yang ingin mengobati rasa rindunya bagi orang-orang tersayang.
Di Rutan Sidrap saat ini ada 314 orang tahanan diberi fasilitas jam besuk online. Baik pria maupun wanita, semuanya mendapat hal sama untuk berkomunikasi dengan pihak keluarganya secara gratis.
Hanya saja, jam besuk virtual ini dibatasi 15 menit setiap satu orang tahanan. Meski rasa tidak puas tidak bertemu langsung, namun para warga binaan mengaku jam besuk daring itu bisa sedikit mengobati rasa rindu pada keluarga.
Sebut saja Muh Yunus (32). Warga binaan kasus narkoba ini, mengaku haru bisa melihat dan berkomunikasi istri serta anak semata wayangnya, setelah dirinya dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun lamanya. Ia baru menjalani hukumannya hampir setahun ini, sejak divonis September 2019 lalu.
“Apa kabarta? Bagaimana kondisinya anaknya, Bu,” ujar Ucu, sapaan akrabnya saat menyapa pertama kali istrinya, sejak pandemi covid ini berlangsung.
Dengan mata sayu disertai nada terbata-bata, Yusuf bisa mengurai rasa rindunya melihat istri dan anaknya yang masih berusia dua tahun bisa tersenyum
Begitu pun yang dirasakan Ahmad (35). Kasus narkoba yang menjerat memaksa dirinya harus mendekam di balik jeruji besi selama tujuh tahun lamanya.
Untuk pertama kalinya, dirinya tak bisa dibesuk dan memeluk langsung istrinya. Pandemi corona membuat dirinya hanya bisa bersua lewat aplikasi WhatsApp.
“Baru lebaran tahun ini saya tidak bisa memeluk dan mengusap air mata istri dan anak saya. Semuanya karena wabah ini. Kami tidak bisa bertemu keluarga,” tutur Ahmad mengusap air mata saat diberikan fasilitas virtual online.
Ia pun berharap pandemi ini bisa segera berlalu, agar dirinya bisa bertemu dan bersapa langsung orang-orang yang disayanginya, meski hidup di balik jeruji besi.
Kepala Rutan Klas IIB Sidrap Mansur, mengatakan kebijakan yang diterapkan ini menindaklanjuti instruksi Kementerian Hukum dan HAM melalui Kanwil Kemenkumham Sulawesi Selatan untuk membatasi jam besuk di tengah pandemi covid-19.
“Pak Menteri dan pak Kanwil Sulsel telah memberikan instruksi untuk antisipasi pembatasan orang berkumpul pascalebaran. Jangan sampai menimbulkan gejolak sosial terkait kunjungan besuk dan sebagainya. Tapi kami tetap berikan hak besuk mereka dengan menyiapkan sarana video call Whatsapp,” kata Mansur, Selasa (26/5).
Untuk mendapatkan fasilitas ini, kata dia, keluarga warga binaan dapat melakukan pendaftaran secara daring terlebih dahulu. “Pendaftaran online ini merupakan salah satu inovasi layanan Rutan Sidrap untuk memudahkan masyarakat dan warga binaan untuk bersilahturahmi dengan keluarganya,” imbuhnya.
Mansur menambahkan, pihaknya selalu menerapkan langkah preventif dengan hidup bersih bagi warga binaan. Seperti rajin mencuci tangan dan pembatasan kegiatan berkumpul di area lingkungan rutan.
“Kita juga menempatkan wastafel dan sabun cair pada ruang kunjungan, ruang pendaftaran, ruang keluar masuk pegawai, ruang keluar masuk warga binaan yang akan sidang virtual, dan area keluar masuk lainnya. Tidak hanya di satu tempat saja. Bagaimana caranya orang-orang di dalam bisa cuci tangan setiap saat,” ungkapnya.
Untuk menerapkan pola hidup sehat itu, lanjutnya, setiap tahanan juga diberikan fasilitas alat mandi sehat seperti sikat gigi, sabun dan hand sanitiser.
“Alhamdulillah, sejauh ini kami sudah dilakukan rapid test pada seluruh warga binaan dan semuanya negatif,” ucapnya.
Mansur juga menambahkan, lebaran tahun ini ada 218 orang warga binaan yang beragama Islam diberikan remisi atau pengurangan masa hukuman. Rinciannya, 70 orang mendapat remisi 15 hari, 134 orang remisi 30 hari, serta 14 orang mendapat remisi 1 bulan 15 hari. (ady/b)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.