Headline

Merangkai Manik Jadi Kalung Choker, Hasilnya Beli APD


Kepedulian Bentley, Bocah Tujuh Tahun di Tengah Pandemi Covid-19

IST KALUNG CHOKER-Bentley Humprey Asaloei merangkai manik-manik menjadi kalung choker. Hasil penjualannya kemudian digunakan untuk membeli baju hazmat lalu disumbangkan bagi tim medis yang menangani pasien covid-19 di Kabupaten Gowa.

UMURNYA masih kanak-kanak. Tapi jangan tanya tentang jiwa sosial serta kepedulian. Khususnya di tengah pandemi covid-19. Ia mengalahkan mereka yang sudah dewasa.

NAMANYA Bentley Humprey Asaloei. Karib dipanggil Bentley. Usianya masih 7 tahun. Namun perhatiannya terhadap sesama patut diacungi jempol.
Bocah laki-laki ini merupakan putra sulung Ivanna Phie, pemilik Phie’s Bentley Salon, Makassar. Bentley punya keahlian khusus dalam membuat kalung choker, sebut untuk kalung etnik aneka warna.
Hobinya itu ia salurkan bukan semata menyenangkan dirinya sendiri. Melainkan untuk berbagi terhadap sesama di kala wabah melanda.
“Bentley ini sangat unik. Dia anak sulung saya (dua bersaudara). Baru duduk di bangku sekolah dasar. Saya bangga dia anak cerdas dan punya rasa kepedulian yang tinggi,” ujar Ivanna, tentang buah hatinya.
Bentley, kata Ivanna, punya keahlian merangkai manik-manik menjadi kalung choker yang sangat cantik. Kalung choker buatan Bentley itu kemudian dijual oleh sang putra dengan harga Rp200 ribu seuntai. Kreasi Bentley membuat choker sangat menawan. Bahkan Ivanna memberi jempol buat putranya, sebab ide-ide kreatifnya cukup banyak. Hasilnya, choker buatannya pun beragam.
Yang tak kalah mengharukan bagi Ivanna, Bentley mendonasikan seluruh hasil penjualan kalung choker buatannya itu untuk membantu dokter dan tenaga medis dalam menangani pasien covid-19.  Hasil penjualan kalung chokernya membuahkan 54 lembar baju hazmat yang merupakan alat pelindung diri (APD). APD ini kemudian disumbangkan oleh Bentley untuk tenaga medis. Salah satunya kepada Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Gowa. 
Di mana Bentley memperoleh keterampilan hingga akhirnya ahli membuat kalung choker? Ivanna bertutur, putranya itu suka melihat aktivitas ibunya yang bukan hanya mengurusi salon miliknya yang berlokasi di Makassar.
Bentley ternyata memiliki daya paham yang tinggi. Sehingga baru saja sekilas diajari membuat choker, ia sudah mahir dan akhirnya membuat sendiri. Padahal Bentley seorang bocah lelaki. Hobi membuat kalung chocker mulai diminati Bentley sejak dirinya sering membantu Ivanna ketika ada pesanan yang diterimanya.
“Hasilnya cantik menawan. Ketika dia jual ke teman-temannya, termasuk ke kolega saya, choker-choker bikinan dia laris. Bentley pun senang. Kemudian idenya muncul secara tiba-tiba untuk menyumbang di tengah pandemi ini. Dia meminta agar hasil penjualan kalungnya disumbangkan untuk tenaga medis. Saya bangga,” ujar Ivanna, haru.
Mampu mengadakan 54 baju hazmat, akhirnya Bentley pun mengajak ibundanya untuk membuat choker lebih banyak lagi guna disumbangkan ke tim medis lainnya.
“Karena melihat para dokter dan suster yang berada di garda terdepan kekurangan APD, Bentley mengajak saya untuk bikin kalung lebih banyak. Biar seluruh hasil jualan kalung choker buatannya bisa diberikan kepada para tenaga medis di Sulsel. Salah satunya di Kabupaten Gowa,” terang Ivanna.
Diakui Ivanna, sejak dibukanya pemesanan choker buatan Bentley pada akhir Maret 2020 lalu, ternyata banyak yang tertarik. Bentley pun menggenjot produksinya. Ia bisa menghasilkan dan menjual lima picis choker dalam sehari.
“Dari awal niat kami memang untuk membantu. Seluruh hasil penjualan choker yang dibuat Bentley untuk membantu tenaga medis. Khusus bantuan ke Kabupaten Gowa nominal yang terkumpul sekitar Rp4 juta. Dana itu kemudian kami dibelikan pakaian hazmat,” kata Ivanna.
Dengan bantuan ini, diharapkan para tenaga medis sebagai garda terdepan bisa melindungi diri dalam menangani pasien covid-19, dan pandemi ini bisa segera berlalu.
“Ini masih kurang sih, menurut saya. Tapi kami berharap bantuan ini bisa bermanfaat bagi tenaga medis kita,” kata Ivanna.
Bantuan yang diberikan Bentley mendapat apresiasi dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Gowa Priska Paramita Adnan. “Super terharu mendengar ceritanya, karena Bentley sendiri yang mengusulkan agar kalung buatannya dijual dan hasilnya disumbangkan untuk dapat membantu para dokter. Ide yang sangat mulia,” ucap Priska saat menerima bantuan tersebut, kemudian diteruskannya kepada Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Gowa.
Istri bupati Gowa ini pun menyampaikan terima kasih atas kepedulian masyarakat, dan seluruh pihak yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi. Termasuk kepada Bentley dan dan Dwi Kirana (murid kelas 5 SD di Kecamatan Bontomarannu, Gowa) yang menyumbangkan isi celengannya dalam membantu Indonesia, Sulawesi Selatan, hingga Kabupaten Gowa dalam memutus mata rantai penularan covid-19. 
“Mari kita memutus mata rantai penyebaran covid-19 ini dengan tinggal di rumah saja. Tinggal di rumah pun bisa melahirkan inovasi dan kreativitas untuk saling menopang, saling mendukung sehingga kita semua bisa terhindar dari virus corona. Selalu semangat dan jangan mudah menyerah,” kata Priska Paramita Adnan. (sar)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.