Politik

Balon Dengan Elektoral Rendah Diuntungkan


Jika Pilkada Ditunda

MAKASSAR, BKM–Bakal calon wali kota maupun wakil wali kota, bupati dan wakil bupati yang memiliki tingkat pengenalan (popularitas), kesukaan (akseptabilitas) hingga keterpilihan (elektabilitas) yang masih rendah masih memiliki banyak waktu untuk bersaing dengan bakal calon yang memiliki elektoral yang cukup tinggi.
Hal ini manakala pemerinta dan penyelenggara sepakat untuk menunda pelaksanaan pemilihan gubernur (pilgub) pemilihan wali kota (pilwali) dan pemilihan bupati (pilbup) yang rencananya dihelat pada 23 september mendatang.
Hal tersebut lantaran Covid-19 yang masih terus mewabah. Pemerintah bersama dengan KPU RI sepakat untuk menunda pelaksanaan Pilkada serentak. Penundaan ini membuat waktu pelaksanaan Pilkada semakin panjang. Pengamat politik dari Unibos Dr Arief Wicaksono mengatakan, penundaan pelaksanaan Pilkada ini pastinya akan dimanfaatkan dengan baik oleh bakal calon yang memiliki survei rendah untuk meningkatkan elektabilitasnya. Karena waktu pelaksanaan Pilkada semakin panjang, maka semakin banyak pula kesempatan buat bersosialisasi.
Meski demikian, masih ada sejumlah bakal claon bersurvei rendah ini, terutama cara mereka menarik perhatian partai politik dan investor. “Yang jadi masalah adalah apakah penambahan waktu ini membuat kandidat bersurvei rendah bisa menarik minat partai atau menarik minat investor untuk membiayai majunya yang bersangkutan,” ujarnya.
Oleh karena itulah bakal calon bersurvei rendah ini mesti memperkuat lagi usahanya untuk menarik minat parpol agar tertarik mengusungnya.
“Jadi tetap ada kekurangannya. Seandainya dia adalah kandidat yang bagus tentu surveinya akan bagus. Cuma masalahnya jika kandidat tersebut agak rendah surveinya maka usahanya harus keras menarik minat partai politik dan juga investor untuk anggaran-anggaran yang bisa dia gunakan nanti untuk menghidupi masa perpanjangan ini, ” ujarnya. (rif)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.