Bisnis

Virus Corona Merebak, Jasa Keuangan Tetap Terjaga


Moh Nurdin Subandi

MAKASSAR, BKM — Sejak bulan Februari 2020, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mengeluarkan POJK No.11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Counter Cyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Diseas 2019 (Covid-19).
Sehingga dapat mendorong optimalisasi kinerja industri jasa keuangan. Khususnya fungsi intermediasi, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan sampai Februari2020 masih dalam kondisi terjaga dengan fungsi intermediasi. Sektor jasa keuangan masih membukukan kinerja positif dan profil risiko industri jasa keuangan tetap terkendali meski perekonomian tertekan akibat merebaknya virus Corona di banyaknegara.
Hal ini disampaikan Kepala OJK Kantor Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua, Moh Nurdin Subandi dalam rilisnya yang disampaikan ke Redaksi Berita Kota Makassar, beberapa hari lalu.
Menurut Nurdin, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan Februari 2020 bergerak sejalan dengan perkembangan yang terjadi di perekonomian domestik. Kredit bank umum mencatat pertumbuhan positif sebesar 2,54 persen year on year (yoy) menjadi sebesar Rp122,21 triliun.
Ditopang kredit produktif yang tetap tumbuh double digit dilevel 13,38 persen (yoy) sebesar Rp73,56 triliun. Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh sebesar 8,71 persen (yoy) menjadi sebesar Rp14,06 triliun.
Adapun pembiayaan melalui perusahaan pergadaian tumbuh sebesar 28,43 persen (yoy) menjadi sebesar Rp4,56 triliun di tengah pertumbuhan intermediasi lembaga jasa keuangan, profil risiko masih terjaga dengan rasio NPL dan LDR perbankan masing-masing sebesar 3,05 persen dan 123,57 persen.
Sedangkan rasio NPF Perusahaan Pembiayaan sebesar 2,82 persen. Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 4,86 persen (yoy) menjadi sebesar Rp98,76 triliun. Lebih tinggi dari pertumbuhan kredit.
”Latar belakang penerbitan POJK dimaksud yaitu perkembangan penyebaran Covid-19 berdampak secara langsung ataupun tidak langsung terhadap kinerja dan kapasitas debitur. Termasuk debitur UMKM Sehingga berpotensi mengganggu kinerja perbankan dan stabilitas sistem keuangan yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, untuk mendorong optimalisasi fungsi intermediasi perbankan, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi diperlukan kebijakan stimulus perekonomian sebagai countercyclical dampak penyebaran Covid-19,” jelas Nurdin. (mir)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.