Metro

Antara Omelan dan Aroma Sampah yang Busuk


Arifuddin Sopir Mobil Sampah Tangkasa Kecamatan Tallo (1)

BKM/JUNI SEWANG SOPIR--Arifuddin menikmati profesinya sebagai sopir sampah Tangkasaki. Ia mengaku tidak ada lagi pekerjaan yang sesuai tingkat pendidikannya di SMA.

KEHIDUPAN sopir pengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Antang, tak cuma soal duka. Ada saja pengalaman yang membuatnya tetap kuat. Seperti yang dialami Arifuddin sang sopir mobil sampah Tangkasaki di wilayah Kecamatan Tallo.

Laporan: JUNI SEWANG

Kamis pagi pekan lalu, suhu masih terasa dingin, khususnya di tempat pengelolaan sampah terbesar ini.
Penulis sempat menemui Arifuddin. Ia sempat menikmati minuman hangatnya. Mengaku, berlatar belakang pendidikan Tingkat Sekolah Menengah Atas, Arifuddin siap bekerja mengumpul dan mengangkut sampah warga di wilayah Tallo.
Pria yang beralamat di Jalan Pongtiku 1, lorong 7, No 5 Kelurahan Suangga ini awalnya seorang buruh bangunan.
Pria berumur 30 tahun ini-pun menjadi petugas pengangkut sampah bukanlah cita-citanya. Namun, pria beristri ini mau tidak mau kini harus menekuni ‘karir’ sebagai petugas pengangkut sampah, karena pekerjaan lain yang lebih menjanjikan sulit didapatkannya.
Sebagai lulusan SMA, tidak banyak alternatif pekerjaan kantoran yang bisa didapatkannya. Maka, ketika pada 2016 lalu ada tawaran menjadi petugas pengangkut sampah, ia pun dengan senang hati menjalani pekerjaan yang di mata banyak orang tidak cukup bergengsi itu.
Meskipun awalnya terasa berat, Arifuddin mengaku kini merasa enjoy dengan pekerjaannya. Ia mengaku menjalani hidup dengan prinsip layaknya air mengalir.
“Ya hidup ini mengalir saja, jalani saja. Dari pengalaman sebelumnya, menjadi sopir mobil sampah penghasilan lebih baik, dan waktu untuk mencari rejeki diluar pekerjaan sedikit lebih ada,” ujar Arifudddin.
Hampir Empat tahun dirinya bekerja sebagai sopir truk pengangkut sampah, tepatnya lokasi terminal transfer sampah yang akrab disebut zona 2 Jalan Sultan Abdullah Raya, stand by menunggu para sopir fukuda memindahkan sampahnya ke dalam truk lalu diantar oleh kelokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menurutnya, menjadi sopir pengangkut sampah bukanlah hal yang mudah. kurang lebih Empat tahun menjadi sopir pengangkut sampah, sudah banyak suka dan duka dialami Arifuddin.
”Suka dukanya banyak sekali. Sukanya ketika dapat pemberian dan senyuman dari tuan rumah yang diangkut sampahnya dijalan jalan poros. Dukanya, ketika hujan deras datang dan sampah yang diangkut volumenya banyak dimana aroma sampah lebih menyengat, hingga di marahi warga,” kata pria yang belum dikaruniai anak ini. Meskipun berpenghasilan pas-pasan, Arifuddin.(*)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.