Headline

Lansia pun Bisa Sembuh dari Covid-19


Kuncinya, Perkuat Motivasi dan Ikuti Anjuran Dokter

SIDRAP, BKM — Kesembuhan untuk pasien covid-19 terus berlanjut. Dua perempuan asal Sidrap yang sebelumnya dinyatakan positif terjangkit virus corona, kini telah berkumpul kembali dengan keluarganya. Bukan hanya yang berusia muda, yang lansia pun berhasil sembuh.
BKM menghubungi keduanya melalui sambungan telepon selular, Minggu (5/4). Mereka adalah Novita Burhan. Berusia 35 tahun. Satu lainnya, adalah Hj Monneng. Berumur 65 tahun. Beralamat di Kecamatan Maritengngae.
Novita Burhan merupakan warga Sidrap pertama yang dinyatakan positif covid-19. Ia kini sudah mengirup udara segar di rumahnya, usai 14 hari menjalani isolasi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Ia menuturkan, virus corona memang ganas. Bahkan bisa membunuh. Sebaliknya, penyakit yang ditimbulkannya juga tetap bisa disembuhkan.
“Terus berdoa kepada Allah Swt. Minum obat secara teratur dan terus memakai masker. Yang terpenting, ikuti anjuran pemerintah. Terutama dokter dan perawat. Itulah kuncinya,” ujar Novita Burhan.

Informasi yang berisi harapan serta semangat terus disampaikan Novita. Perempuan yang menjabat sebagai kepala Seksi Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nene’ Mallomo, Sidrap ini berbagi cerita tentang semua yang telah ia alami. Mulai dari awal sakitnya hingga terpapar virus asal Wuhan, Tiongkok tersebut.
“Saya dirawat selama 14. Selama itu saya terus berjuang untuk sembuh. Saya semangati diri, sambil meminta pertolongan dari Allah Swt, melalui perantara para dokter, medis, serta paramedis. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa sembuh,” akunya.
Sebagai orang yang pernah terinfeksi covid-19 dan telah dinyatakan sembuh alias negatif, Novita Burhan tak lupa bersujud syukur atas kesembuhannya ini. Ia juga menyampaikan terima kasihnya kepada pihak medis yang telah membantunya selama dalam perawatan.
“Terima kasih ya Allah. Berkat pertolongan-Mu saya sudah sembuh dan diberi kesempatan berkumpul kembali dengan keluarga. Terima kasih bapak ibu dokter dan perawat di ruang infection center RS Wahidin Makassar,” ujarnya.
Novita menyampaikan jika dirinya adalah klaster jamaah umrah yang diberangkatkan ke Tanah Suci Mekkah pada awal Februari lalu. Rombongannya merupakan yang terakhir diberangkatkan dari Sidrap sebelum Pemerintah Arab Saudi menutup seluruh akses masuk sebagai dampak dari penyebaran covid-19.
“Saya salah satu klaster terakhir jamaah umrah yang berangkat dari Sidrap. Saya pasien pertama asal Sidrap yang positif covid-19. Untuk itu saya mengimbau kepada semuanya untuk mengikuti protokol penanganan covid-19,” imbuhnya.
Novita mengaku tidak mengetahui kapan dan di mana ia terkontaminasi virus tersebut. Ia berangkat umrah bersama suaminya Heriyanto.
Selama menunaikan ibadah umrah, Novita bersama 105 orang jamaah rombongannya dalam keadaan sehat walafiat, sejak diberangkatkan hingga dipulangkan ke tanah air.
Saat tiba di rumah, ia juga masih sangat sehat. Namun, seminggu lebih setelah berada di kampung halaman, Novita mengaku baru merasakan gejala sakit. Beberapa kali ia sesak napas dan demam tinggi.
“Saya mulai batuk dan tenggorokan terasa nyeri. Awalnya kukira sakit flu biasa, karena menyesuaikan hawa cuaca di kampung setelah pulang dari tanah suci. Tapi lama kelamaan, saya terus batuk disertai demam. Apalagi marak pemberitaan soal virus corona. Saya kemudian mengecek diri di Rumah Sakit (RS) Nemal (Nene’ Mallomo). Tapi dua hari saya dirawat intensif, dokter merujuk ke Makassar karena kondisi saya memburuk,” terangnya.
Petugas media kemudian melakukan foto rontgen untuk paru-parunya. Dokter lalu melakukan uji swab, karena gejala yang dialaminya mengarah ke covid-19. Benar saja, hasil swab menyatakan Novita positif covid-19. Dia pun dibawa ke ruangan isolasi ICU, tempatnya dirawat seorang diri.
Serangkaian tindakan medis mulai dilakoninya. Mulai isolasi di ruang khusus tanpa ditemani seorang pun. Novi mengaku melewati banyak hal selama dirawat.
Sakit begitu ia rasakan. Di ruangan itu ia hanya seorang diri dengan bantuan alat pernapasan. Meski telah dibantu alat pernapasan, paru-parunya terus menerus sakit seperti tertusuk paku.
Ia harus tidur telungkup untuk mengurangi rasa sakit. Dokter dan perawat terus bolak balik setiap jam mengeceknya dan memberikan obat pereda sakit, serta mengecek keadaannya.
Semua yang datang mulai dari dokter, perawat hingga cleaning service di rumah sakit mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap.
Diakuinya, penguatan daya tahan tubuh tidak kalah penting dalam proses pengobatan covid-19. Selain asupan gizi, nutrisi dan vitamin yang cukup, pasien diminta melakukan olahraga ringan setiap hari. Yang lebih utama, menyandarkan semuanya pada perlindungan Allah Swt. Ia rajin menunaikan salat, membaca Al-Qur’an serta bacaan positif lainnya.
Akhirnya, 14 hari telah berlalu. Setelah melakukan pemeriksaan dua kali secara insentif, hasilnya selalu negatif. Novi pun akhirnya bisa pulang dan menjalani isolasi mandiri di rumahselama 14 hari.
Kini, Novita Burhan sudah berada di kediamannya berkumpul dan suaminya. Dia menjalani masa pemulihan dan menerapkan physical distancing.
Di balik kesembuhannya, Novita bersyukur karena suaminya
Heriyanto tidak mengalami gejala terjangkit virus. Ia hanya dimasukkan sebagai orang dalam pemantauan (ODP). Padahal, selama umrah bersama mereka tidak pernah pisah. Bahkan kamarnya tersendiri dan hanya berdua.
“Mungkin imun bapak kuat melawan virus, sehingga Alhamdulillah dia tidak apa-apa,” ucapnya haru.
Sebelum mengakhiri ceritanya, Novi mengimbau kepada pasien covid-19 lainnya untuk tetap berdoa. Jangan panik. Berusaha sabar terima ketentuan Allah, akan menambah imun dan mengalahkan virusnya. Termasuk mengikuti arahan dokter, gunakan masker dan saling menjaga jarak.
Sebagai bentuk rasa syukur telah diberi kesembuhan, Novita punya rencana mulia usai diisolai. Ia berencana mendatangi pasien covid-19 yang tengah menjalani perawatan. Tujuannya, memberikan dukungan, semangat serta kekuatan bahwa mereka juga bisa sembuh.

Lansia Sembuh

Pasien positif covid-19 asal Sidrap lainnya yang telah dinyatakan sembuh adalah Hj Monneng. Nenek berusia 65 tahun ini merupakan pasien kedua yang positif terpapar virus corona di Bumi Nene’ Mallomo.
Ia baru saja dipulangkan dan diisolasi mandiri di rumahnya, Kelurahan Wala, Kecamatan Marintengngae. Sebelumnya, Hj Monneng menjalani perawatan selama 16 hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Makkasau, Kota Parepare. Sama dengan Novita, Hj Monneng juga masuk dalam klaster eks jamaah umrah terakhir yang diberangkatkan dari Sidrap.
Dalam perbincangannya melalui sambungan telepon selular, kemarin, Hj Monneng mencoba memberi semangat hidup. Terutama bagi para lanjut usia (lansia) yang kini terbaring di rumah sakit akibat covid-19.
Hj Monneng mencoba menegaskan, bahwa anggapan lansia sulit disembuhkan dari covid-19, tidaklah tepat. Karena di usianya yang telah kepala enam, virus membahayakan tersebut berhasil ditangkal dan dirinya mendapatkan kesembuhan.
Kuncinya, kata dia, adalah ikuti anjuran pemerintah. Terutama tim medis yang selalu merawat. Juga penguatan daya tahan tubuh, seperti mencukupi vitamin, berolahraga serta memiliki sikap optimis atau motivasi untuk sembuh kembali.
Ia mengungkapkan, dirinya berhasil sembuh setelah mendapat perawatan intensif dari tim dokter RS Andi Makkasau Parepare.
Selama masa karantina, pihak rumah sakit memberikan treatment disiplin pasien.
”Vitamin C 500 miligram per hari, makan dan minum cukup, gizi bagus, olahraga cukup dan perilaku hidup bersih dan sehat juga dijalankan. Yang paling penting motivasi untuk sembuh harus tinggi,” ucap Hj Monneng dalam bahasa Bugis. Ia didampingi salah seorang kerabatnya ketika memberi keterangan kepada BKM.
Walau telah dinyatakan negatif covid-19, Hj Monneng masih terus didatangi tim medis RS Nene’ Mallomo. Perkembangan kesehatannya terus dipantau.
Selama menjalani masa isolasi, katanya, ruang geraknya menjadi terbatas hingga kerap menimbulkan kebosanan. Ia tak pernah diperbolehkan dijenguk pihak keluarga.
“Alhamdulillah, ini semua berkat pertolongan Allah Swt melalui petugas medis yang ada di RS Parepare. Setiap hari selama saya diisolasi, tim dokter dan perawat selalu menyampaikan harus bersabar dan disiplin jika ingin sembuh,” ucapnya memotivasi. (ady/b)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.