Metro

Diskusi Daring Mahasiswa Bahasa Indonesia PPs UNM Bahas Covid-19


MAKASSAR, BKM — Sejumlah mahasiswa Program Studi (Prodi) Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) angkatan 2018 menggelar diskusi secara daring, Minggu siang (5/4). Tema yang dibahas terkait pemberitaan tentang coronavirus diseases 2019 (covid-19) yang tengah mewabah saat ini.

Diskusi ini menjadi ajang berbagi cerita dan pengalaman terkait covid-19. Andi Rustan yang juga Pemimpin Redaksi (Pimred) Harian Berita Kota Makassar (BKM) menjadi narasumber dalam kegiatan perdana ini. Mahasiswa lainnya, Ronisalasa menyediakan fasilitas aplikasi zoom sebagai wadah diskusi. Sementara mahasiswi Eka Yulianti Bur bertindak selaku moderator. Peserta terdiri dari Suaib, Harjum Nurdin, Sari Hidayati, Atika, Sahafariana, dan Nirwana.

Ronisalasa mengatakan, diskusi ini sengaja diselenggarakan secara daring sebagai upaya dari sebuah keinginan untuk tetap membangun iklim intelektual di saat mahasiswa mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap di rumah saja. ”Kondisi yang ada saat ini tidak menjadi penghalang bagi kita untuk tetap bertukar pikiran, sekaligus silaturahmi. Apalagi teknologi menyiapkan wadahnya,” ujar Roni, yang seorang guru.

Cair, begitulah gambaran suasana diskusi. Ada yang memanfaatkan laptop. Ada pula menggunakan gawai.

Andi Rustan dalam pengantarnya, menyampaikan posisi media, khususnya media cetak konvensional dalam pemberitaan tentang covid-19. ”Awalnya media cetak ramai-ramai memberitakan tentang siapa yang menjadi korban. Berapa jumlahnya. Termasuk gejala covid-19. Yang sifatnya edukasi kepada masyarakat untuk menghindari penyakit ini masih minim,” tuturnya.

Seiring semakin merebaknya wabah ini, lanjut Rustan, media kemudian mengambil peran dalam upaya pencegahan. Tak lagi semata pada angka korban, baik yang berstatus orang dalam pemantauan (OPD), pasien dalam pengawasan (PDP), hingga positif terinfeksi covid-19.

”Bisa dilihat wacana pemberitaan yang dibuat oleh media cetak di Makassar belakangan ini. Bentuk edukasi kepada masyarakat bagaimana menghadapi pandemi menjadi topik pembahasan. Seperti cara meningkatkan imunitas tubuh, menghindari stres, mengonsumsi dan mengasup gizi yang cukup,” terangnya.

Dalam diskusi, mengemuka pentingnya untuk secara bersama-sama mengerem diri agar tidak mudah menyebarkan informasi melalui media sosial (medsos). Apalagi informasi tersebut tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya alias hoaks. Khususnya yang terkait dengan corona ataupun covid-19.

”Sebagai orang yang berkecimpung di dunia akademik, kita seharusnya lebih bijak dalam memilah dan memilih informasi yang hendak dibagikan di media sosial,” ujar Eka, yang diamini Harjum, salah seorang peserta diskusi.

Di akhir diskusi, disepakati untuk kembali menjadwalkan kegiatan serupa. Tema yang dipilih terkait penerapan aplikasi yang dipilih guru dalam proses mengajar dari rumah untuk siswa-siswinya. (*)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.