Headline

Tak Semua Pakai Android, Kuota Data Jadi Kendala


Cerita Guru Mengajar Murid dari Rumah

Muh Kasim Idam Ernawati

BERAGAM cara dilakukan guru dalam mengaplikasikan belajar di rumah bagi para siswanya. Suka dan duka mereka hadapi. Salah satunya, tidak semua bisa mengikuti pembelajaran daring ini karena fasilitas gawai.

SALAH seorang guru mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga SD Inpres Perumnas Antang III, Muhammad Kasim Idam menceritakan bagaimana dirinya mengajarkan teori dan praktik. Ia mengajar murid kelas I hingga kelas XI.
Pekan pertama ia sempat merasa kebingungan. Pembelajaran yang tak biasa membuatkan sulit menemukan sistem yang cocok untuk murid-muridnya.
Namun karena semakin lama, ia melihat perkembangan penyebaran covid yang semakin parah, maka pembelajaran daring memang harus dilakukannya. “Kami berikan tugas melalui grup WhatsApp melalui masing-masing rombel. Misal kelas I, saya berikan ke grup orang tua siswa untuk tugas-tugas,” katanya kepada BKM, Kamis (2/4).
Kekurangan dari pembelajaran daring ini, menurut Kasim, tidak semua murid memakai ponsel android. Sehingga mereka tidak bisa mengikuti proses pembelajaran.
“Biasanya dalam satu kelas ada 32 orang. Yang bisa ikut 25 saja yang mengirim. Karena yang lainnya belum punya android,” ungkapnya.
Dalam pembelajaran daring ini, Kasim memotret tugas yang akan diberikan ke murid dari buku, baru dikirimkan ke grup WA. Atau hanya disebutkan halaman, baru murid yang mencarinya.
Setelah dikerja oleh murid, mereka kemudian memotretnya lalu dikirim lagi ke grup untuk jawabannya. Setelah dikirim, murid membuat daftar nama yang sudah mengirim tugas.
Ia mengatakan, menggunakan aplikasi Zoom sebenarnya lebih baik. Apalagi bisa berinteraksi langsung dengan murid. Namun kendala utama penggunaan aplikasi itu pada paket data murid serta jaringan yang tersedia.
“Kendalanya membutuhkan data yang banyak dan jaringan yang kuat. Kalau jaringan tidak kuat, tidak bisa juga masuk. Kalau pakai zoom, yang ikut biasa hanya 10 orang saja,” ungkapnya.

Untuk pelajaran olahraga yang penuh praktik, maka Kasim biasanya mengambil video. Murid akan mengamati video, menentukan gerak apa namanya, kemudian ditulis dalam buku. “Mereka fotokan, lalu dikirimkan lagi di grup,” tambahnya.
Guru mata pelaran PPKN SMPN 40 Makassar, Ernawati menyampaikan hal yang hampir serupa. Beberapa siswa tidak memiliki android. Ada juga yang menggunakan ponsel milik orangtuanya.
Ernawari biasanya memberikan tugas-tugas mandiri kepada peserta didik, tentu dengan pembimbingan orang tua.
Ia membentuk grup belajar untuk bisa berinteraksi dengan orang tua murid supaya paham pembelajaran daring. “Kami pantau melalui grup WA itu. Dampak positif, lebih banyak waktu mengembangkan kreatifitasnya,” ungkap Ernawati.
Ernawati pun biasa memberikan tugas di grup WA yang telah dibuat. Kemudian murid akan menjawabnya, entah melalui voice note ataupun melalui video.
“Kalau melalui video, mereka membuat video-video, kita buat pertanyaan sesuai konten materi,” tambahnya.
Namun, kendalanya sama. Tidak semua siswa bisa mengikuti pembelajaran daring ini. Ponsel android yang tak dimiliki masih menjadi kendala besar.
“Di kelas itu kan biasa ada 37 siswa. Paling satu atau dua siswa yang tidak ikut. Ternyata mereka tidak punya android,” terangnya.
Biasanya juga ada murid yang masuk dalam pembelajaran tidak tepat waktu. Karena menggunakan ponsel orang tuanya. Biasanya ia harus menunggu orang tuanya ada di rumah terlebih dahulu baru bisa bergabung.
Selain itu, kendala yang biasa dihadapi adalah paket data para murid. Terkadang juga, ada murid yang tak bisa ikut pembelajaran karena tidak memiliki paket data. (nug)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.