Headline

Ekonomi Memburuk, Perlu Kebijakan Non Moneter


MAKASSAR, BKM– Sejumlah kebijakan telah diambil untuk mengatasi persoalan perekonomian di Indonesia di tengah pandemi covid-19. Pengamat ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Marzuki mengatakan kebijakan moneter yang diambil Bank Indonesia (BI) saat ini seharusnya dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Sebab ekonomi Indonesia kian merosot. Nilai tukar rupiah sudah semakin jauh dari target otoritas.
“Saya melihat kondisi saat ini sudah menunjukkan indikasi ekonomi kita yang cukup memprihatinkan. Meskipun memang di negara lain mata uangnya juga melemah, tapi dalam kasus di Indonesia, dampaknya akan berbeda di tengah bencana kemanusiaan covid-19,” ujar Marzuki, Kamis (2/4).
Kebijakan moneter BI dalam menghadapi wabah virus corona, diakui tidak akan secara cepat direspons oleh sektor ril. Karena butuh waktu untuk ditransfer sektor perbankan, yang kemudian ditangkap sektor ril.
”Harus ada dari segi penguat kebijakan non moneter, seperti kebijakan fiskal dan kebijakan ekonomi pendukung skala yang dekat ini. Semua pelaku ekonomi sekarang lagi panik. Investor besar juga menjual sahamnya. Sekarang ini BI dengan kebijakan yang diambil ingin meredam kepanikan di masyarakat,” terangnya.
Apalagi, beberapa indikator ekonomi makro dan mikro belum menunjukkan tren membaik. Masih dalam arah atau perkembangan penurunan dan pelemahan. Seperti indeks keyakinan konsumen, produksi dan investasi, pertumbuhan kredit dan DPK, serta ekspor dan impor. Sehingga posisi neraca pembayaran belum membaik.
”Artinya, kebijakan BI sepertinya belum dapat mendongkrak beberapa indikator ekonomi yang menentukan pertumbuhan. Apalagi kondisi fiskal yang semakin sulit dan kondisi global yang perkembangannya semakin kearah yang kurang membaik. Saya takut, kebijakan BI tersebut justru dapat berakibat sebaliknya, jika tidak diikuti kebijakan-kebijakan yang mendukung dari otoritas strategis lainnya, seperti fiskal, keuangan dan sektoral,” bebernya.
Sementara itu, pengamat ekonomi Unismuh Makassar, Sutardjo Tui mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia di tengah wabah saat ini sangatlah mengkhawatirkan. Hal itu terlihat dari melemahnya nilai tukar rupiah karena adanya spekulan. Apalagi saat ini nilai ekspor lebih besar daripada impor. Hal ini menjadi aneh.
“Kondisi ekonomi Indonesia seperti ini karena adanya wabah. Kalau bisa ditangani dari akarnya, maka kondisi ekonomi kita juga bakal ikut membaik. Nilai tukar rupiah kita naik pada saat wabah ini mulai masuk ke Indonesia. Begitu pun nilai ekspor impor kita. Lihat saja Wuhan (China), ketika kasus baru infeksi corona sudah tidak ditemukan, ekonominya langsung menggeliat secara otomatis,” tuturnya.
Ia menilai, penurunan suku bunga acuan bisa menggairahkan kembali perekonomian jika dimanfaatkan dengan baik. Jika digunakan untuk membeli dollar, karena nilainya yang terus naik, tentu tidak akan menunjang pertumbuhan ekonomi. Namun, jika digunakan untuk berinvestasi di sektor riil, ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Ini yang diharapkan, agar daya beli bisa meningkat kembali lagi nanti. Secara umum penurunan suku bunga acuan bisa memacu pertumbuhan ekonomi,” jelasnya. (ita)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.