Headline

Selain untuk Kesehatan Tubuh, Juga Bisa Diekspor


Ilham Ahmad, Sarjana Peternakan Kembangkan Kampung Kelor di Gowa

IST TANAMAN KELOR-Ilham dengan latar belakang tanaman kelor yang dibudidayakannya di Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa.

DI TENGAH pandemi covid-19, nama tanaman kelor naik daun. Itu karena manfaat besar yang dikandungnya. Salah satunya dapat meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas) bagi siapa saja yang mengonsumsinya.

Laporan: Saribulan

NAMANYA Ilham Ahmad. Usianya 38 tahun. Seorang sarjana peternakan. Bermukim di Dusun Sanrangan, Desa Berutallasa, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa.
Termotivasi dengan manfaat besar yang dikandung daun kelor, ia kemudian merintis sesuatu yang sudah lama diidamkannya. Ya, ayah dua anak ini punya obsesi ingin membuat kopi kelor. Suami Basmiati ini punya impian besar untuk mengangkat harkat dan martabat kampung halamannya yang jauh terletak di dataran tinggi Gowa.
Ketika tanaman kelor ramai diposting di media sosial, serta melihat sejumlah artikel tentang manfaat tanaman yang lebih banyak dikonsumsi masyarakat sebagai sayuran ini, Ilham pun tergoda untuk lebih jauh mengenali manfaatnya.
Status sarjana peternakan yang terlahir sebagai anak petani, Ilham pun tak canggung kembali ke habitat masa kecilnya. Awalnya, pria yang suka berkeliling menjajal medan terjal mengendarai motor trail ini, melakukan budidaya ternak kambing, sapi dan ayam. Namun sebagai orang yang suka tantangan, ia akhirnya menyalurkan bakat taninya dengan mengembangkan tanaman kelor.
Alasan mengembangkan tanaman kelor, karena selain sebagai bahan sayuran, jenis tanaman ini juga punya manfaat besar bagi kesehatan tubuh. Bahkan memiliki nilai ekspor sebagai bahan baku kosmetik (masker), campuran kosmetik, teh daun kelor, obat herbal, kapsul herbal, dan lainnya.
Dengan modal kemauan tinggi, Ilham mencoba membibitkan tanaman kelor yang banyak tumbuh subur di sekitaran rumahnya.
Dari semula hanya menggunakan halaman rumahnya yang lumayan luas, kini dia sudah mengembangkan di atas lahan seluas 1,5 hektare.
Di kampungnya yang sejuk yang merupakan daerah pegunungan, Ilham sudah menanam sekitar 10.000 batang. Sementara yang sudah dipindahkan dari pembibitan sekitar 600 batang dan juga sudah ditanamnya. Masih ada 5.000 bibit lagi masih dalam polybag.
“Untuk melakukan budidaya kelor ini, saya dibantu lima orang yang masih keluarga saya,” kata Ilham.
Menurut dia, tanaman kelor di daerahnya sebenarnya sudah lama ada. Bahkan sejak nenek leluhurnya. Dia pun bersyukur karena tanah di Biringbulu sangat subur, sehingga tanaman kelor pun tumbuh di mana-mana. Hanya saja belum tertata dengan baik.
”Tanaman kelor di kampung ini tumbuh subur. Namun masyarakat masih sebatas konsumsi sehari-hari untuk sayur,” tuturnya.
Setelah lebih banyak mengetahui manfaat kelor, Ilham akhirnya terinspirasi untuk membudidayakannya. “Saya baru mulai tahun ini, dan lumayan subur. Baru beberapa bulan saya bibitkan, tanamannya sudah tumbuh dan mulai meninggi,” imbuhnya.
Ia kemudian mengembangkannya dengan skala banyak. Mulai dengan cara pembibitan, bukan dengan stek batang. Alasannya, potensi tumbuhnya sangat cepat dan referensi daya produksinya bisa sampai 60-70 tahun, bila dibanding dengan stek yang hanya bisa 20-30 tahun.
Untuk nilai ekonominya, kata dia, adalah dengan mengolah daun menjadi bubuk kelor dengan cara tertentu. Dengan cara itu bisa menghasilkan bubuk daun kelor yang berkualitas dan berdaya saing ekspor.
Untuk sementara, kata Ilham, proses budidaya ini dia kelola secara pribadi, namun tetap melibatkan masyarakat sekitar. Khususnya dalam mengedukasi mereka untuk dapat mengembangkan tanaman kelor dan menjadikan Biringbulu sebagai sentra pengembangan kelor.
“Terus terang, saya mengembangkan kelor ini karena termotivasi dengan nilai ekonominya yang cukup menjanjikan. Selain itu, juga bisa dijadikan sebagai mata pencaharian yang utama untuk masyarakat nantinya,” terangnya.
Apalagi, lanjut Ilham, saat ini Pemerintah Kabupaten Gowa memang memprogramkan pengentasan stunting dengan banyak mengkonsumsi kelor. Karenanya, apa yang dilakukannya saat ini menjadi bagian dari upayanya turut mendukung program pemerintah tersebut.
Salah satu kesyukuran Ilham, karena selama melakukan pembibitan, sudah banyak pula penikmat tanaman kelor yang memesan bibit untuk dibeli melalui medsos.
Dijelaskannya, nilai ekonomi pengembangan kelor bukan hanya pada daunnya saja. Tapi juga ada pada bunga, buah muda dan bijinya. Bahkan di mancanegara, minyak biji kelor sangat bernilai ekonomi yang sangat fantastis. ”Per liternya bisa dibanderol hingga Rp2 juta,” sebut Ilham.
Untuk menghasilkan satu liter minyak biji kelor, menurut Ilham, dibutuhkan sekitar 7-8 kg biji kelor. Sementara tepung daun kelor sekarang nilai ekonominya sekitar Rp250 ribu per kg. Semakin halus bubuknya (dalam bentuk debu) akan semakin mahal harganya.
Apa yang dilakukan Ilham ini, diakunya mendapat dukungan penuh dari istrinya Basmiati. Semua demi masa depan dua buah hati mereka, Aqila Az-zahrah Ilham (6) dan Mikaila Az-zahrah Ilham (5).
Obsesi Ilham untuk menjadi pengusaha kelor pun disepadankan dengan obsesinya di peternakan. Ilham telah lama membudidaya kambing dan sudah dikerjasamakan dengan masyarakat setempat menggunakan sistem bagi hasil. Sementara ternak ayamnya pun mulai meningkat.Sapi yang dimilikinya yakni dua ekor jenis  brahmana dan dua ekor lagi jenis simental-brahmana. “Alhamdulillah, sudah ada yang tawar Rp15 juta padahal masih umur jalan lima bulan (jantan),” kuncinya. (*)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.