Headline

Psikolog: Jaga Kesehatan Mental Lawan Covid-19


MAKASSAR, BKM — Reaksi masyarakat terhadap pandemi covid-19 begitu beragam. Mulai dari perasaan tertekan, stres, hingga kecemasan. Apalagi dengan pemberitaan mengenai jumlah penderita yang terus meningkat, telah memicu tingkat stres.
Hal itu tidak dipungkiri Dr Widyastuti, dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM). Kata dia, kepanikan masyarakat begitu terasa sejak pemberitahun virus corona sudah tersebar di Indonesia. Seiring bertambahnya jumlah korban, kecemacan tersebut ditampilkan masyarakat dengan beberapa macam emosi.
“Jika kita lihat, kepanikan masyarakat terhadap wabah virus ini begitu beragam. Karena penyebaran dan jumlah yang terpapar semakin cepat bertambah. Ditambah lagi berita hoaks yang begitu banyak. Tentu ada banyak ketakutan dan kecemasan yang kini dirasakan. Sementara tidak semua bisa mengerti dan tahu cara mengelola kecemasan dan ketakutan mereka. Untuk itu perlu ada peran kita semua untuk menenangkan dan tidak membuat panik,” ujar Dr Widyastuti ketika dihubungi, Minggu (29/3).
Dalam keadaan seperti ini, lanjut dia, dampak yang dirasakan tidak hanya bagi penderita. Melainkan oleh seluruh masyarakat. Tentu pemeritah dan seluruh pihak seharusnya tidak mengabaikan dampak kesehatan mental dari pemberitaan dan informasi wabah ini.
“Ini sangat berat. Karena tidak hanya dirasakan oleh si penderita. Tapi yang lain juga begitu merasakan. Utamanya kesehatan mental. Karena tiap baca berita, nonton televisi atau pun di media sosial, semua berisi hal-hal yang seolah-olah menakut-nakuti. Ini tentu memberi dampak negatif juga. Karena takut berlebihan dan ketidakberdayaan dalam menghadapi ancaman besar,” jelasnya.
Stres akibat mengonsumsi pemberitaan wabah covid-19 yang berlebihan, kata Widya, dapat menyebabkan sistem imun menurun sehingga rentan tertular covid-19.
Bahkan beberapa hari belakangan ini, dirinya mendapati warga mulai mengalami gejala obsesif compulsif, yaitu kecemasan atau ketakutan berlebihan. Karena itu, dia menganjurkan semua pihak untuk tidak membuat panik berlebihan dan bisa mengerti dengan kondisi saat ini.

Tumbuhkan Semangat

Apa yang disampaikan Widya sejalan dengan harapan Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah. Ia mengharapkan informasi dan berita ataupun produksi program media yang menumbuh semangat dan bersifat positif.
“Ini agar imunitas kita naik. Jangan terus berita yang menegangkan. Ini penting,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ketersediaan kamar pasien untuk penanganan pasien covid-19 di Sulsel hingga saat ini masih cukup. Untuk Rumah Sakit Sayang Rakyat dan Rumah Sakit Dadi, memiliki 318 kamar. Jumlah itu masih dirasa cukup untuk menangani pasien PDP maupun pasien positif.
Rumah Sakit Sayang Rakyat terdiri dari 118 kamar yang disiapkan sebagai kamar isolasi. Sementara Rumah Sakit Dadi dengan 200 kamar.
Nurdin juga telah mengimbau kepada rumah sakit yang belum menjadi rumah sakit rujukan, agar segera membenahi supaya bisa menjadi rumah sakit rujukan.
“Jadi yang belum menjadi rujukan tolong dibenahi sebagai rumah sakit penyangga,” ucapnya.
Terkait dukungan bagi tim medis, mereka disiapkan hotel untuk menginap dan juga kendaraan antar-jemput. Pemerintah Provinsi menyiapkan Hotel Grand Sayang dan Hotel Grand Puri. Jika tidak mencukupi, Hotel Dalton pun disiapkan dengan 250 kamar untuk memback-up.
“Kenapa itu kita lakukan? Agar mereka bisa bekerja nyaman dan tidak khawatir kalau pulang ke rumah,” jelasnya.
Nurdin juga sudah memerintahkan ke dinas terkait untuk konsentrasi pada penanganan covid-19. Pemprov juga menyiapkan dukungan ambulans sebanyak tujuh unit untuk standby di posko dan media center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel di Gedung Manunggal.
Nurdin meminta agar kepala daerah lebih intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pemakaman korban covid-19. Bahwa semua yang positif tidak lagi diperkenankan kembali ke rumah. Rumah sakit sudah memberikan semua pelayanan hingga pemakaman.
“Masyarakat perlu memaklumi, bahwa ini sudah tidak ada pengaruh apa-apa. Apalagi ada penularan dan sebagainya. Saya sedih sekali melihat ada yang akan dimakamkan harus ditolak. Padahal ini bukan sebuah kejahatan. Ini adalah sebuah cobaan,” ucapnya.
Di bagian lain penjelasannya, Nurdin mengucapkan terima kasihnay atas kesediaan Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Andi Sumangerukka untuk menjadi Ketua Gugus Tugas. Sebelumnya, gugus tugas diketuai Kepala BPBD Provinsi Sulsel Ni’mal Lahamang dengan juru bicara Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Ichsan Mustari.
Mereka diganti saat Ni’mal memgalami demam setelah pulang dari Jakarta, dan Ichsan dinyatakan positif covid-19.
Struktur organisasi Gugus Tugas Penanganan Covid-19 yang telah dibentuk, terdiri dari Ketua Pangdam XIV Hasanuddin, dan Wakil Ketua Gugus Wakapolda Sulsel. Ada pula beberapa unit, antara lain Unit Penindakan dan Peringatan Dini, Unit Sterilisasi, Unit Penegakan Disiplin, dan Unit Deteksi Awal. (ita-nug)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.