Headline

Hunian Hotel Anjlok, Ekspor Dibatasi


Wabah Covid-19 Pengaruhi Ekonomi Sulsel

Anggiat Sinaga La Tunreng

MAKASSAR, BKM — Penyebaran covid-19 telah berdampak pada berbagai sektor. Tak terkecuali di bidang ekonomi.
Di Sulawesi Selatan, tingkat hunian hotel (okupansi) mengalami penurunan yang cukup drastis. Bahkan anjlok hingga di angka 20 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel Anggiat Sinaga, mengatakan penurunan ini sudah terjadi sejak bulan Februari dan berlangsung hingga Maret. Data PHRI Sulsel, terdapat 355 hotel yang ada di wilayah Sulsel, mulai dari hotel berbintang hingga non bintang yang mengalami penurunan okupansi besar-besaran. Merebaknya covid-19 mengakibatkan industri perhotelan semakin lesu.
“Kondisi ini sangat terasa bagi kami. Penurunan okupansi sudah berlangsung selama dua bulan. Puncaknya bulan ini. Okupansi turun hingga 20 persen. Semua reservasi hotel dicancel. Begitu juga beberapa event hotel dibatalkan dengan alasan tidak jadi menggelar kegiatan,” terang Anggiat, Kamis (19/3).
Untuk tidak membiarkan kondisi ini terus menerus berlanjut, kata Anggiat, pengelola hotel di Sulsel diminta untuk bisa melakukan penetrasi dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan lokal atau sosial, seperti menyediakan paket ulang tahun, dan paket arisan.
“Kita semua tahu kondisi ini buruk, tapi industri hotel harus tetap berjuang. Karenanya manajemen hotel harus lebih kreatif,” imbuhnya.
Dihubungi terpisah, Manajer Hotel Amaris Makassar Supri Anto, mengakui adanya penurunan tingkat hunian kamar akibat wabah covid-19. Beberapa reservasi dari luar kota dan daerah dibatalkan. Namun pihak hotel berupaya kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Salah satu caranya, memberikan diskon kamar dan pelaksanaan kegiatan.
“Memang cukup terasa penurunannya. Karena ada imbauan pemerintah yang melarang keluar rumah dan melakukan kegiatan. Makanya kami mencoba menyiasatinya dengan memberi diskon untuk harga kamar,” jelasnya.
Untuk menambah pendapatan, lanjut dia, manajemen hotel menyediakan penawaran murah untuk paket ulang tahun dan arisan. Sebagai langkah antisipatif penyebaran virus corona di hotel, kebersihan terus ditingkatkan.
“Kami menyediakan hand sanitizer di reception, lift dan fasilitas umum. Kita juga mawas diri terhadap itu,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Gubernur Sulsel mengakui jika dampak wabah covid-19 ini cukup dirasakan di sektor ekonomi. Aktivitas perdaganganan atau ekspor yang berperan dalam peningkatan ekonomi dibatasi, bahkan ada pula yang disetop.
“Pertumbuhan ekonomi pasti kita koreski, Sulsel kemungkinan paling buruknya 6. Makanya, bantuan keuangan terus kita support ke daerah. Tidak usah ragu karena kita punya pangan. Sisa penguatan bagaimana daya beli masyarakat bisa dijaga,” sambungnya.
Kata Nurdin, yang terpenting saat ini adalah bagaimana menyelamatkan masyarakat agar terhindar dari virus corona.
“Sekarang kita berbicara masalah kemanusiaan. Kalau dampak virus corona terhadap perekonomian pasti terasa,” ungkap Nurdin.
Meskipun dibatasi dan ada yang dihentikan, sambung Nurdin, saat ini kegiatan ekspor di Sulsel terus berjalan. “Masih berjalan kok sampai sekarang,” imbuhnya.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel cukup merasakan dampak penyebaran covid-19. Ketua Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Apindo Sulsel La Tunreng, akibat dari merebaknya penyakit ini dirasakan langsung oleh pengusaha yang bergerak dalam bidang manufaktur.
La Tunreng memproyeksikan, dampak dari virus corona ini menurunkan produksi perusahaan manufaktur hingga 5 persen.
“Kalau melihat situasi saat ini jelas berpengaruh terhadap proses produksi dan adanya penurunan daya beli. Kalau untuk sekarang belum terasa. Dampaknya diprediksi akan terasa bulan April mendatang. Bisa turun hingga 5 persen, khususnya bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur,” jelasnya.
Berbanding terbalik bagi usaha yang bergerak dalam bidang makan minum dan alat kesehatan. Menurutnya, mengalami peningkatan. Ia tidak menyebutkan berapa peningkatannya.
“Kecuali makanan dan minuman serta peralatan kesehatan yang akan meningkat. Karena permintaan semakin besar. Sementara barang konsumtif lainnya, seperti elektronik dan sebagainya pasti terpengaruh juga,” ujarnya.
La Tunreng berharap, kebijakan yang diwacanakan pemerintah pusat untuk perekonomian segera diberlakukan. Kebijakan yang akan diberlakukan awal April mendatang, diharapkan sedikit membantu perusahaan agar tidak terjadi cash flow. La Tunreng mengatakan cash flow perusahaan saat ini masih stabil.
“Stimulus dari pemerintah pusat ini rencananya bulan April akan turun, berupa insentif pajak dan bea masuk. Jika memang stimulus yang direncanakan turun, saya kira sangat membantu cash flow perusahaan,” ucap La Tunreng.
Meskipun berpengaruh terhadap perusahaan akibat dari kebijakan pemerintah saat ini, La Tunreng sangat mengapresiasi untuk sama-sama memerangi penyebaran virus corona. (ita-nug)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.