Kriminal

Totok Lisdiarto Akui Minta Tolong Kepada Terdakwa


Lanjutan Sidang Perkara Dugaan Penipuan

MAKASSAR, BKM — Perjalanan kasus dugaan penipuan dan penggelapan uang senilai Rp1 miliar yang menjerat terdakwa mantan Bendahara Brimob Polda Sulsel, Iptu Yusuf Purwantoro, terus berlanjut di Pengadilan Negeri Makassar.
Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi (ad charge) oleh pihak terdakwa menghadirkan saksi meringankan, yakni perwira di Markas Komando (Mako) Brimob Kelapa II Jakarta, Kombes Totok Lisdiarto dan staf Irwasda Polda Sulsel, Kompol Rudik. Sidang lanjutan berlangsung di ruangan Prof BAGIR MANAN, Senin siang (16/3).
Dalam kesaksiannya di bawah sumpah kitab suci Al Quran, Totok Lisdiarto mengaku mengetahui kejadian awal sehingga Yusuf Purwantoro ditetapkan sebagai tersangka. Yang mana bermula dari dirinya meminta tolong kepada terdakwa mencarikan dana pinjaman untuk pengurusan bisnis tanahnya seluas 5,8 hektare.
”Pada waktu itu saya meminta tolong kepada Yusuf Purwantoro mencarikan dana untuk pengurusan bisnis tanah. Uang yang dibawa sebesar Rp1,3 miliar. Uang saya tahu dari saudara Jaya (Andi Saad Asma Wijaya) itu dari Yusuf,” aku Totok dalam kesaksiannya.
Hanya saja, lanjut Totok, dia tidak mengetahui adanya komitmen atau perjanjian antara Jaya dengan Yusuf. Khususnya mengenai waktu pembayaran. Uang yang disetor Yusuf kepada dirinya sebesar Rp1,3 miliar diserahkan secara bersamaan. Uang digunakan oleh timnya untuk biaya pengurusan bisnis tanahnya.
”Saya tidak tahu adanya komitmen. Uang dari Yusuf Rp1,3 miliar digunakan sebagian untuk biaya pengurusan bisnis tanah. Uang diberikan secara tunai. Saya tidak tahu bagaimana cara atau pembicaraan Yusuf dengan Jaya. Yang kembali baru Rp 300 juta. Uang digunakan oleh tim untuk pengurusan bisnis tanah,” terangnya.
Sidang lanjutan ini dipimpin Ketua Majelis Hakim, Zulkifli Atjo. Nomor perkaranya 115/Pid.B/2020/PN Mks. Dalam dakwaan, terdakwa yakni Iptu Yusuf Purwantoro sekitar tanggal 25 Mei 2018, bertempat di Jalan Pelita Raya, terdakwa datang meminjam uang kepada korban Andi Saad Asma Wijaya senilai Rp1 miliar.
Kemudian ditanggal 27 Mei 2018, kembali datang menemui korban dan meminta tolong untuk meminjam uang sebesar Rp300 juta dengan alasan beragam. Yang mana, peruntukan uang tersebut berbeda sesuai pengakuan terdakwa kepada saksi Andi Saad Wijaya pada saat terdakwa meminta bantuan.
Seperti untuk operasional kantor Brimob. Melainkan kenyataannya terdakwa diduga menggunakan dana tersebut untuk keperluan bisnis tanah atasannya yang bernama Kombes Totok Lisdiarto.
Terdakwa tidak mengembalikan uang kepada saksi Andi Saad Asma Wijaya sampai dengan batas waktu yang telah dijanjikan. Saksi Andi Saad Asma Wijaya yang selalu menagih namun terdakwa hanya menjanji-janji dan tidak mengembalikan.
Sekitar tanggal 27 Juni 2018, terdakwa hanya mengembalikan pinjaman uang sebesar Rp300 juta melalui stafnya (saksi Khaerul Alam) dan diterima saksi Andi Saad Asma Wijaya. Sedangkan pinjaman dana sebesar Rp1 miliar berikut fee dan satu unit HP merk Samsung Galaxy S9 yang telah dijanjikan tidak dikembalikan atau diserahkan sampai saat ini kepada saksi Andi Saad Asma Wijaya.
Akibat perbuatan terdakwa, Andi Saad Asma Wijaya pun mengalami kerugian sebesar Rp 1 miliar. Perbuatan terdakwa tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHPidana. (arf/mir)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.