Headline

Dilamar Kala Hj Nir Bertemu Calon Suami Lain


Perjalanan Kisah Suami yang Diantar Nikah Ketiga Kali oleh Istri Pertama (2-habis)

PERJALANAN kisah pasangan suami istri Ustas H Andi Syamsir dan Hj Nirfawana tergolong unik. Selain waktunya yang tergolong singkat, lamaran diterima kala Hj Nir bertemu dengan calon suaminya yang lain.

UPAYA ibunda Hj Nir, yakni Hj Indo Are berkonsultasi tentang poligami dilatarbelakangi oleh taarufan yang dilakukan sang putri dengan seorang pria. Seorang ustas yang telah memiliki istri dan beberapa orang anak.
Di bulan Februari 2020 lalu, Hj Nir janjian bertemu dengan pria itu di Makassar, tepatnya 21 Februari. Di antara keduanya memang sudah kenal sejak tahun 2016 silam. Sang pria merupakan pimpinan pondok pesentren di mana salah seorang anak dari Hj Nir mondok di pesantren tersebut.
Namun, saat itu tidak ada hal yang istimewa. Hanyalah hubungan antara pimpinan pondok dan wali santri. Semuanya biasa saja, hingga akhirnya anak Hj Nir pindah mondok ke pesantren lain.
Setelah terpisah kurang lebih empat tahun lamanya, mereka dipertemukan kembali. Bahkan Hj Nir mengambil untuk dipelihara satu anak dari ustas tersebut dari istri keduanya.
Sang ustas bahkan sudah pernah bertemu dengan ibunda Hj Nir di Kolaka dalam sebuah perjalanan. Orangtua Hj Nir memang memiliki rumah di sana. Hj Indo Are pun ‘jatuh hati’ dan menilai ustas tersebut cocok untuk menjadi calon pendamping putrinya. Hal itu pun ia sampaikan ke Hj Nir, dan direspons dengan baik. Selanjutnya disusun rencana untuk bertemu.
Dalam pertemuan di Makassar pada 21 Februari, rencananya sang ustas bersama-sama dengan Hj Nir ke Bulukumba untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Namun rencana itu batal, karena tiba-tiba sang ustas terima telepon bahwa istri pertamanya yang ada di Polman sedang sakit.
”Malam itu jam 12 malam kami berangkat ke Polman bersama-sama dengan sopir. Gantian kami bertiga bawa mobil. Saya sempat tiga hari bermalam di sana. Saya sudah kenal dengan istri pertamanya dan enam orang anaknya. Saya memang pecinta anak-anak,” tutur Hj Nir yang datang ke redaksi BKM bersama suaminya, Kamis sore (5/3).
Saat berada di Polman, Hj Nir mendapatkan chat yang menyampaikan informasi bahwa di rumahnya akan dilangsungkan proses lamaran. Ia kaget, karena tidak tahu siapa yang bakal datang melamar.
Memang, kata dia, ketika Ustas Syamsir diberi nomor HP oleh Hj Indo Are beberapa hari sebelumnya, ia langsung berkomunikasi lewat chatting media sosial Whatsapp dengan Hj Nir. Dia menyampaikan keinginannya untuk menjalani ta’arufan dan berniat menyegerakan rencananya melamar.
”Waktu itu saya memberikan jawaban, bahwa kalau orangtua sudah merestui, itu yang akan saya ikuti. Tapi terus terang, saya hanya mengucapkannya dari bibir. Bukan dari hati. Karena waktu itu saya sedang berhadapan dengan calon saya yang lain,” tutur Hj Nir lagi.
Berpegang pada jawaban itu, H Syamsir kemudian membulatkan niat untuk datang melamar. Dengan diantara istri pertama bersama anak-anaknya, ia datang pada sore hari pukul 16.00 Wita.
Pada hari itu, Hj Nir sudah tiba kembali di Makassar setelah perjalanan pulang dari Polman. Ia masih bersama dengan calonnya yang lain.
”Waktu hendak berangkat ke Bulukumba, dia bertanya ke saya. Saya antarki? Ini yang membuat saya kaget. Jauh-jauh saya sama-sama ke Polman untuk bertemu istri dan anak-anaknya, dia bertanya seperti itu ke saya. Saya kemudian jawab, tidak apa-apa kalau tidak diantar. Saya sudah terbiasa dengan keadaan dan kesendirian seperti ini,” terangnya.
Dengan perasaan gundah, hari itu juga Hj Nir melajukan kendaraannya menuju Bulukumba. Sendirian. Ibundanya kemudian menelepon dan menanyakan dengan siapa dia kembali ke Bulukumba. Dijawab Hj Nir dengan mengatakan sendiri.
Ternyata, pada saat itu proses lamaran tengah berlangsung di rumahnya. Memasuki wilayah Jeneponto, ia kembali ditelepon. Kali ini informasi yang disampaikan bahwa lamaran sudah diterima.
”Saya kemudian mendapat penjelasan kalau yang datang melapor adalah bapak yang disamping saya ini (sambil menunjuk H Syamsir yang duduk di sebelah kirinya). Memang saya sudah pernah sampaikan ke ibu, syarat calon suami saya itu harus ustas, gagah, serta mapan. Saya juga hanya mau jadi istri kedua. Bukan ketiga atau keempat. Dan semuanya ada di beliau ini,” terang Hj Nir.
Usai mendapat informasi tersebut, Hj Nir kemudian melakukan cross cek lima orang ustas Bulukumba yang dikenalnya selama ini. Mereka pun menyatakan persetujuannya dengan proses lamaran tersebut.
Salah seorang teman dekat pasangan suami istri ini, Ustas Abd Halim Amsur menjelaskan, pencarian jodoh untuk Ustas Syamsir sudah berlangsung lama. Ia sekaligus menampik jika apa yang dilakukan Ustas H Syamsir dan Hj Nir sekadar ‘meniru’ kejadian di pulau Jawa, di mana seorang ustas juga diantara istri pertamanya untuk menikah lagi.
”Banyak yang bereda di media sosial seperti itu, bahwa ini meniru yang kejadian di Jawa sana. Saya tegaskan bahwa pencarian jodoh untuk Ustas Syamsir sudah cukup lama, tapi baru kali ini ketemunya sehingga bar dinikahkan,” tandasnya, yang ikut mendampingi Ustas Syamsir dan Hj Nir di redaksi BKM.
Ia pun menyebut Juspiawati, istri pertama H Syamsir sebagai seorang perempuan yang langka dan sulit ditemukan saat ini. ”Beliau sendiri yang menyampaikan dan meminta tolong ke beberapa ustas agar suaminya dicarikan istri lagi. Semua itu dilakukannya sebagai bagian dari menjalankan syariat agama,” jelasnya. (*/rus)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.