Headline

Masker Ditimbun di Rumah ASN dan Dua Ruko


70 Ribu Gagal Dikirim ke Malaysia

MAKASSAR, BKM — Kelangkaan masker yang tengah terjadi saat ini nyatanya dipicu oleh adanya praktik penimbunan. Ada pula yang memperjualbelikannya ke luar Sulsel hingga luar negeri. Satu persatu berhasil dibongkar aparat kepolisian.
Setelah Polrestabes Makassar dan Polsek Ujung Pandang yang menggagalkan pengiriman masker 200 boks besar dan menetapkan dua mahasiswa sebagai tersangka, hal serupa kembali dilakukan. Di dua lokasi berbeda dalam dua hari, yakni Selasa (3/3) dan Kamis dinihari (5/3), petugas menemukan ratusan ribu masker.
Pada Kamis dinihari, tim Resmob Polsek Panakkukang menggerebek sebuah rumah di kompleks Perumahan Dosen Universitas Hasanuddin Jalan Moncongloe, Kecamatan Biringkanaya.
Dari rumah itu tiga orang diamankan. Masing-masing seorang ibu yang merupakan pemilik rumah, beserta anak dan rekannya. Ikut disita ribuan barang bukti berupa masker yang diduga ditimbun di dalam rumah. Selanjutnya mereka digiring ke kantor polisi.
Kepada polisi, pemilik rumah bernama Lince mengaku berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN). Ia bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya. Sementara dua orang lainnya, yakni anak Lince berinisial Ds bersama temannya Rm.
Menurut penjelasan Lince, masker yang ia simpan di rumahnya biasanya dipasarkan lewat online. Setiap boks dibelinya seharga Rp260 ribu, kemudian dijual Rp290 ribu. Lince mengaku sudah tiga pekan melakoni bisnis ini.
”Kami masih dalam proses pengembangan. Mereka yang diamankan saat ini merupakan hasil penangkapan oleh Polsek Panakkukang,” ujar Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Yudhiawan, kemarin.
Di Mapolda Sulsel, Kamis (5/3) digelar rilis kasus pengungkapan kasus yang sama. Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel dan Bea Cukai bandara yang berhasil menyita dan menggagalkan pengiriman 70 ribu masker siap edar ke Malaysia. Turut diamankan sabun cair antiseptik dan satu unit mobil boks di tempat berbeda.
Kasubid Penmas Polda Sulsel Muh Arsyad menjelaskan, pada hari Selasa (3/3), aparat mendapat informasi dari masyarakat tentang adanya pelaku usaha alat kesehatan menyimpan masker dalam jumlah yang cukup banyak.
“Penyidik menemukan barang bukti di toko milik PT Interaco Media Indah Pratama, dengan pemilik berinisial AW. Di tempat itu menyimpan sebanyak 48.550 lembar masker. Termasuk beberapa jerigen sabun cair antiseptik,” terang Muh Arsyad.
Dalam kasus ini, polisi telah menginterogasi sopir berinisial IJ dan pemilik ruko berinisial C. Pasal yang diterapkan adalah Undang-Undang Perdagangan pasal 62 ayat (1), juncto pasal 10 huruf (a) Undang-Undang nomor 8 tentang Perlindungan Kosumen, juncto pasal 2 ayat (1) Permendag nomor 5 tahun 2012 tentang Pencatuman Harga dan Tarif Barang yang Diperdagangkan. Acaman pidananya 5 tahun penjara, serta denda sebesar Rp2 miliar.
Meski begitu, lanjut Muh Arsyad, belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Masih berstatus terlapor.
Kasubdit I Ditreskrimsus Polda Sulsel Kompol Arisandi, dalam keterangannya menjelaskan, ada lokasi milik PT Intraco Media Indah Pratama yang telah dilakukan pemeriksaan. Masing-masing ruko di Jalan Gunung Latimojong, dan ruko di Jalan Sumba, Makassar.
Di toko pertama, pelaku usaha menyalurkan atau memperdagangkan alat-alat kesehatan, masker dan handsanitizer. Barang tersebut ditemukan di dalam toko. Masker dalam jumlah besar didapati di ruko Jalan Sumba.
“Satu dos masker dijual dengan harga antara Rp300 ribu hingga Rp350 ribu,” beber Arisandi.
Kepala P2 Bea dan Cukai Arie Papiano, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengamankan 11 karton masker wajah dengan pelaku usaha berinisial AJ. Barang tersebut disita di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar dan rencananya akan dikirim ke Malaysia. Pemilik usaha CV Bina Bahari Internusa hendak mengirimkannya melalui maskapai Air Asia.
Yang disangkakan adalah pasal 106 Undang-Undang nomor 7 tahun 2014 tentang Pelaku Usaha yang Melakukan Perdagangan, tidak Memiliki Perizinan di Bidang Perdagangan oleh Menteri Perdagangan. Ancaman pidananya maksimal 4 tahun penjara, atau pidana denda Rp10 miliar.
“Barang bukti yang disita sebanyak 22 ribu masker,” tukas Arie Papiano. (ish-mat)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.