Headline

Viral, Istri Pertama Antar Suami Nikah Ketiga Kalinya


BULUKUMBA, BKM — Sebuah video singkat berdurasi 50 detik beredar luas dan viral di linimasa media sosial, Rabu (4/3). Berisi rangkaian proses akad nikah seorang pria dan wanita.
Yang lelaki mengenakan jas warna hitam dipadu celana panjang kain warna hitam. Berbalut baju kain warna putih berkrah hitam di bagian dalamnya. Memakai songkok tradisional khas Bugis-Makassar. Mempelai wanita bergaun pengantin warna pink dengan hijab di kepala.
Ada pula seorang perempuan yang duduk di tengah dan berada pas di antara keduanya. Wanita yang mengenakan baju dan jilbab pink muda itu bahkan mengarahkan kedua mempelai untuk saling bersentuhan. Mempelai pria pun mengecup kening perempuan yang ada di hadapan. Bukan hanya sekali, namun tiga kali.
Pernikahan tersebut berlangsung, Selasa (3/3) di Jalan Bakti Adiguna, Kabupaten Bulukumba. Mempelai pria adalah Ustas A Syamsir. Ia pemilik Klinik Ruqyah Ainun Syam. Sementara pengantin wanitanya bernama Hj Nirfawana. Perempuan yang akrab disapa Hj Nir ini merupakan owner UD Sipatuo Reski dan Martabak Chantik.
Pernikahan ini bukanlah antara gadis dan bujang. Yang pria sudah berkeluarga dan masih menyandang status sebagai suami dari wanita lain. Bahkan, pernikahan ini merupakan yang ketiga kalinya bagi A Syamsir. Demikian pula Hj Nirfawana. Ia pernah tiga kali membangun rumah tangga, namun tidak langgeng.
Lalu, siapa wanita yang berada di antara keduanya? Ternyata, perempuan tersebut adalah istri pertama dari A Syamsir. Namanya Juspiawati. Dia pula yang mengantar suaminya ke rumah istri ketiganya.
Juspiawati tidak datang sendirian. Ia yang turut mengantar suaminya untuk menikah lagi, membawa serta anak-anaknya yang masih kecil beserta menantunya.
Prosesi akan nikah dipandu Ustas Ikhwan Bahar. Sementara yang bertindak sebagai saksi nikah Ustas Abd Halim dan Ustas Muslim. Akad nikah disaksikan kedua orangtua Hj Nirfawana, yakni H Syamsir (ayah) dan Hj Indo Are (ibu).
“Wahai ananda A Syamsir AS,SE bin AM Saleh, kunikahkan engkau dengan putriku yang bernama Hj Nirfawana,AMd binti H Syamsir dengan mahar seperangkat alat salat dan sebidang tanah karena Allah,” ucap H Syamsir saat menikahkan anaknya yang diikuti mempelai laki-laki.
Usai akad nikah, dilangsungkan acara adat Bugis mappasikarawa (menyentuh istri) oleh A Syamsir. Lagi-lagi A Syamsir didampingi istri pertamanya menemui istri barunya yang berada di dalam kamar pengantin. Prosesi ini berlangsung cukup lama, karena banyak ibu-ibu yang mengabadikan momen langka ini.
‘Alhamdulillah, prosesi nikah telah selesai sesuai rencana, terima kasih semua atas kehadiran dan doanya,” ucap A Syamsir.
Saat ditemui, Hj Nirfawana bercerita tentang proses lamaran. Kala itu ia tidak berada di rumah. Melainkan sedang berada di Makassar dan taaruf dengan seorang ustas dari Polman.
“Saya benar-benar tidak tahu kalau ummiku di rumah sudah menerima pinangan. Sementara saya sendiri sedang melakukan taaruf dengan orang lain,” ungkapnya.
Kejadian tersebut membuatnya benar-benar percaya bahwa jodoh sudah diatur oleh Sang Pencipta. Nirfawana mengaku selalu berdoa di setiap salat malam agar diberikan jodoh seorang yang saleh, seorang ustas. Ia sendiri tidak masalah jika harus menjadi istri kedua, asal istri pertama ridho dan ikhlas.
Ada syarat khusus yang ia sering sampaikan, bahwa suaminya haruslah seorang yang mapan dan tampan. “Hehehe… saya memang selalu bilang begitu. Saya tidak pernah sangka takdir memposisikan saya dalam syariat ini. Makanya bagi saya, tidak boleh ada yang terzolimi agar pernikahan tetap dalam rangka ibadah. Kerelaan istri pertama mutlak bagi saya. Semoga ini menjadi ladang pahala bagi kamu semua sekeluarga,” ujarnya.
Nirfawana sadar bahwa keputusan untuk dimadu akan melahirkan banyak komentar. Tapi ia bersyukur keluarga besarnya mendukung dan anak-anaknya ikut hadir dalam prosesi pernikahannya. “Anak-anak saya yang sekolah di Jakarta datang semua. Mereka orang-orang paham agama dan tahu yang terbaik untuk ibunya,” terangnya.
Saat ini Nirfawana mengaku lebih memperdalam ilmu agama bersama sang suami. Ia sendiri tetap tinggal di rumahnya, terpisah dari istri pertama yang juga tinggal di rumahnya sendiri.
Dari dua kali pernikahan sebelumnya, A Syamsir memiliki 10 orang anak. Masing-masing enam dari istri pertama dan empat dari istri kedua. Sementara Hj Nir memiliki lima anak dari pernikahan terdahulunya.
”Kalau Allah masih kasih rezeki untuk punya anak lagi, Insyaallah. Doakan ya,” ujarnya sambil tersenyum.
Proses menuju ke mahligai pernikahannya kali ini, diakui Hj Nir cukup singkat. Hal itu karena kedua keluarga saling mendukung. ”Kami memohon doata semua, semoga ini pernikahan yang terakhir bagi saya,” tuturnya.
Ada tiga ustas yang mengisi ceramah nikah (walimatul urusy) secara bergantian. Masing-masing dai muda ustas A Armayadi Al-Ghifari, ustas M Yusuf Shandy yang juga ketua Baznas Bulukumba, dan ustas Fadhlullah Marzuki (pimpinan Pondok Pesantren Al-Markaz Al-Islami Kabupaten Sinjai).
Di antara ratusan undangan yang hadir, nampak beberapa komunitas yang turut memberi doa restu. Di antaranya Komunitas Pejuang Subuh, Bikers Muslim Bulukumba bersama captennya ustas Maulana Khadafi. Ada pula guru dan santri dari beberapa pesantren di Kabupaten Bulukumba, panti asuhan, serta santri TPA Al-Fitrah Desa Topanda yang didirikan Hj. Nirfawana atas nama anaknya almarhum A Atrian Fitrawan.
Anggota DPRD Bulukumba Muh Tamrin juga hadir. Ketua dan pengurus Srikandi PP Bulukumba, A Nini Madjid istri dari A Makkasau Karaeng Lompo, politisi Hj Hilmiyati Asip, Majelis Taklim Samawa beserta para pejabat dan tokoh publik lainnya. (min/b)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.