Headline

Menulis Buku Terakhir Sebelum Masuk Rumah Sakit


Perginya Sang Guru Besar Pertanian Prof Dr Rady A Gani

BKM/ARDHITA ANGGRAENI UPACARA PELEPASAN-Rektor Unhas Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu memimpin prosesi pelepasan jenazah almarhum Prof Rady A Gani di Lantai I Rektorat Unhas, Kamis (13/2).

INNALILLAHI wainna ilaihi rojiun. Duka kembali menyelimuti masyarakat Sulawesi Selatan. Seorang tokoh, Prof Dr Ir Rady A Gani megembuskan napas terakhirnya di ICU RS Unhas, Kamis dinihari (13/2) pukul 02.00 Wita.

LAHIR di Watangsoppeng, 30 Oktober 1942, almarhum pernah menjabat sebagai rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) selama dua periode, yakni tahun 1997 hingga 2006. Ia merupakan rektor pertama Unhas yang berhasil terpilih melalui pemungutan suara.
Sebelum berpulang, Rady diketahui dua kali berpindah rumah sakit akibat sakit komplikasi yang dideritanya. Sebelum masuk RS Unhas, almarhum sempat menjalani operasi usus buntu di RS Wahidin Sudirohusodo. Kemudian, pada Desember tahun lalu, kembali dirujuk ke RS Unhas akibat penyakit paru-paru yang diidapnya.
”Sakit memang. Sebelumnya dua kali masuk rumah sakit. Pertama di Wahidin operasi usus buntu. Kedua, di RS Unhas. Dokter bilang sakit paru-paru,” ungkap Hj Patimah, sepupu Prof Rady yang ditemui di rumah duka Jalan Perintis Kemerdekaan 18, Kamis (13/2). Ia mendampingi istri almarhum, Andi Dahlia yang tengah berduka.
Ditanya tentang firasat keluarga akan kepergian almarhum, Hj Patimah mengaku tidak ada. Beberapa hari sebelumnya, Prof Gary masih bercengkerama dengan sanak keluarga. ”Waktu ada keluarga yang datang membesuk, mereka masih bicara,” imbuhnya.
Prof Rady meninggalkan dua orang putra dan dua putri. Keluarga dan teman sejawatnya di Unhas turut mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir di pekuburan Unhas Pa’tene. Upacara pelepasan jenazah dilakukan di lantai I gedung rektorat Unhas.
Rektor Unhas Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu mengaku terkejut dengan kepergian Prof Rady. Menurutnya, civitas akademika Unhas kehilangan sosok teladan seorang pemimpin.
“Kami seluruh civitas akademika Unhas menyampaikan rasa duka cita yang mendalam. Beliau adalah guru besar kami. Sosok almarhum dikenal sangat akademis. Rektor yang memiliki karakter kepemimpinan yang kuat, disiplin, tegas dan mandiri. Namun di balik itu, beliau memadupadankan tutur kata yang lembut dan penuh santun,” kenang Prof Dwia.
Selain itu, dalam ingatan Prof Dwia, almarhum begitu banyak memberikan sumbangsih besar atas keberhasilan Unhas sebagai perguruan tinggi yang mencetak banyak alumni dan memberikan sumbangsih untuk negara.
“Selama mengenal sosok almarhum, beliau mampu menghasilkan alumni yang memiliki wawasan ke-Unhas-an, berkompeten, mandiri dan interkonektivitas yang tinggi. Juga aktif berperan dalam kebijakan pembangunan bangsa ini. Sosoknya yang sangat peduli dengan sosial politik. Seingat saya, beliau juga banyak menghadirkan pembangunan di Unhas,” terangnya.
Ha yang begitu mengejutkan bagi Prof Dwia, informasi yang didapatkan dari rekan-rekan almarhum sewaktu memimpin, seperti Prof Idrus Paturusi, terungkap bahwa Proy Radi masih menyempatkan menulis buku yang bakal dikenang sebagai buku terakhir sebelum dirawat di RS. Isinya membahas tentang sosial politik.
“Sampai detik ini beliau masih berperan di Unhas. Ketika sakit pun saya dapat informasi beliau masih menulis sebuah buku di usia 77 tahun. Yang paling menggesankan, saat sakit pun rasa humor beliau masih tinggi. Saya merasa sangat kehilangan dan berterima kasih atas seluruh jasa-jasa beliau untuk Unhas,” kuncinya.
Selain menjadi rektor Unhas dua periode, almarhum juga pernah menjadi bupati Wajo tahun 1988-1993. Guru besar Unhas di bidang pertanian ini juga pernah dipercaya sebagai Dewan Pertimbangan Presiden bidang pertanian di erra kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla tahun 2007 hingga 2010. (ita)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.