Bisnis

Menjaga Ekspor Sulsel ke Tiongkok


Di Tengah Merebaknya Wabah Corona

Eva Arifah

MAKASSAR, BKM — Dalam beberapa waktu terakhir, perhatian masyarakat dunia termasuk Indonesia, tertuju ke Tiongkok yang terserang wabah virus korona. WHO telah mengumumkan, wabah ini adalah kejadian darurat internasioal.
Beberapa negara telah mengambil langkah-langkah terkait. Termasuk dengan melakukan evakuasi terhadap warganya yang berada di Tiongkok. Para pengamat ekonomi menguatirkan kejadian kemanusiaan ini akan berdampak pada ekonomi Tiongkok dan dunia.
Nicholas R. Lardy, pakar senior terkait Tiongkok pada Peterson Institute for International Economics, Washington sebagaimana dikutip media online New York Times, memperkirakan dampak ekonomi dari virus corona akan lebih besar dari dampak SARS yang menekan pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari 11,1 persen ke 9,1 persen pada triwulan kedua tahun 2003 silam.
Penurunan ekonomi Tiongkok sangat mungkin akan berpengaruh ke perekonomian dunia termasuk Indonesia. Salah satu dampak yang perlu diantisipasi semua pihak adalah kemungkinan penurunan permintaan barang ekspor dari Indonesia termasuk Sulawesi Selatan.
Arus barang ekspor Sulawesi Selatan saat ini dilayani Bea dan Cukai dengan proses pengangkutan langsung melalui Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar dan Malili, serta melalui pelabuhan lain seperti Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya. Selain itu berbagai barang ekspor perishable termasuk hewan hidup juga dikirim ke Tiongkok menggunakan pesawat udara.
Berdasarkan data pada Sistem Komputerisasi Pelayanan Bea dan Cukai, nilai devisa ekspor Sulawesi Selatan ke Tiongkok pada bulan Januari sebesar USD9 juta. Angka ini lebih rendah sekitar USD5 juta jika dibandingkan devisa ekspor pada bulan yang sama tahun 2018 yang mencapai USD14 juta.
Nilai devisa ini berasal dari komoditas Karagenan dan Ferro Nickel sebesar USD5,4 juta. Komoditas lain yang diekspor adalah rumput laut, merica, marmer dan produk perikanan.
Jika dilihat dari proses pengangkutannya, barang ekspor Sulawesi Selatan ke Tiongkok didominasi proses pengangkutan direct call dari Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar. Nilai Ekspor melalui proses direct call mencapai USD8 juta selama Januari 2020.
Menurut Eva Arifah, Kepala Kantor Bea dan Cukai Makassar, penurunan nilai devisa ekspor Sulawesi Selatan selama bulan Januari telah menjadi peringatan bagi eksporter dan para pemangku kepentingan, di tengah kontraksi ekonomi dunia dan dampak wabah virus Corona di Tiongkok.
Ia menyarankan agar semua bersiap dengan kondisi-kondisi tak terduga yang mungkin terjadi dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi. Misal menambah negara-negara tujuan ekspor selain Tiongkok.
”Kejadian di Tiongkok juga dapat dijadikan sebagai peluang dalam pengembangan kegiatan ekspor. Dalam kondisi saat ini, banyak kegiatan perekonomian yang terhenti. Tiongkok akan membutuhkan bahan pangan yang juga merupakan produk ekspor Sulawesi Selatan,” papar Eva.
Di tengah berbagai tantangan saat ini, Eva menegaskan, perlu optimisme para eksporter dalam menghadapi kondisi global saat ini. ”Kita berharap wabah ini segera berakhir. Semua kembali sehat dan perekonomian kembali normal,” tutup Eva sebelum melanjutkan aktivitasnya.

(mir)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.