Headline

Hakim Pingsan Usai Sidang Tengah Malam


PAREPARE, BKM — Hari baru saja berganti, dari Selasa (21/1) ke Rabu (22/1). Jarum jam menunjuk pukul 00.30 Wita.
Walau sudah tengah malam menjelang dinihari, suasana di kantor Pengadilan Negeri (PN) Parepare tampak ramai. Satu unit mobil ambulans terparkir di depan.
Seorang lelaki paruh baya digotong beramai-ramai ke atas ambulans. Selanjutnya dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Makkassau. Jarak antara PN dengan RS kurang lebih 500 meter.
Pria yang tengah sakit itu adalah Novan Hidayat. Hakim PN Parepare ini baru saja mengikuti sidang yang digelar hingga tengah malam. Kira-kira pukul 23.53 Wita. Ia menyidangkan perkara dugaan pelanggaran Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Secara tiba-tiba, tubuhnya langsung lunglai dan pingsan ketika turun dari lantai dua kantor PN. Kala itu, rencananya Novan Hidayat hendak pulang ke rumahnya.
Novan jatuh tersungkur tanpa ada yang melihatnya. Beruntung, sejumlah karyawan dan pengunjung sidang masih berada di gedung PN saat kejadian. Mereka yang mendengar ada sesuatu yang jatuh di lantai, langsung bergegas mencari sumber suara tersebut. Ternyata, sosok Novan ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri.
Tanpa menunggu waktu, pegawai PN Parepare langsung menghubungi call center 112. Tidak lama berselang mobil ambulans tiba dan mengangkut Novan ke rumah sakit.
Musradi, petugas UGD RSUD Andi Makkasau langsung memberikan pertolongan. Novan secepatnya mendapat penanganan medis.
”Untung cepat dievakuasi sehingga terhindar dari stroke. Badannya sakit akibat benturan tembok saat jatuh,” ujar Musradi.
Usai ditangani petugas media UGD RSUD Andi Makkasau, kondisi Novan berangsur membaik. Tekanan darahnya yang sebelumnya diperiksa di PN mencapai 185/80 mmHg, turun menjadi 150/30 mmHg.
Pengakuan dari sejumlah pegawai PN, menyebut bahwa sebelum sidang dilaksanakan Novan mengaku agak pusing. Namun ia tetap memaksakan diri agar sidang tetap digelar.
Menyikapi kejadian ini, seorang advokat Rahmat S Lulu meminta kepada Mahkamah Agung (MA) untuk menambah hakim di PN Parepare. ”Coba bayangkan, saat ini setiap sidang kita harus antre. Malam baru bisa pulang. Itu karena hakim di sini kurang,” ungkap Rahmat, kemarin.
Saat ini, hakim di PN Parepare tercatat empat orang. Yang biasa diganti untuk sidang hanyalah ketua majelis hakim. Sementara anggotanya tidak diganti. Akibatnya, mereka kelelahan dan kecapaian. Kondisi tersebut berdampak pada fisik hakim.
”Seperti yang dialami Pak Novan selaku hakim anggota, harus bekerja tanpa kenal lelah hingga akhirnya tumbang. Hakim itu juga manusia biasa. Mereka butuh istirahat, Tidak bisa terus bekerja. Karena itu kami minta agar MA segera menambah hakim di PN parepare,” tandas Rahmat.
Penanggungjawab Pos Bantuan Hukum (Posbakum) PN Parepare Muh Y Rendy, mengatakan kelemahan yang ada dan dirasakan selama adalah kurangnya hakim. Hal itu berakibat terjadinya antrean, yang membuat advokat Posbakum biasanya harus menunggu hakim bersidang.
”Harapan kami agar MA bisa segera menambah hakim. Begitu pula jaksa, karena jumlahnya kurang,” tuturnya. (smr/rus/b)

Komentar Anda


Comments

To Top