Headline

Dia Sangat Periang dan Disukai Temannya


NA Melayat ke Rumah Bocah yang Meninggal Akibat Banjir

BKM/RUSDI NASARUDDIN MELAYAT-Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah melayat ke rumah duka keluarga bocak yang meninggal akibat banjit di Kelurahan Takkalasi, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Senin (13/1).

BARRU, BKM — Bunyi sirine ambulans terdengar tanpa henti di sepanjang jalan, Senin (13/1). Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah dalam wilayah Kelurahan Takkalasi, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru. Sesosok mayat anak kecil diturunkan dari ambulans puskesmas itu. Keluarga langsung histeris.
Bocah malang itu bernama Muhammad Fikri Naklarafi. Usianya baru 5 tahun. Ia putra pertama dari pasangan Jamaluddin (27) dan Musdalifah (25). Mereka tak henti-hentinya menangis menyambut kedatangan jasad anaknya.
Jamaluddin lebih banyak diam, tetapi air matanya membasahi pipi. Demikian pula Musdalifah. Ia seakan tak rela Fikri yang masih belia itu pergi untuk selama-lamanya.
Ayah almarhum merasa paling bersalah atas musibah ini. Karena sebelum Fikri dinyatakan hilang, Jamaluddin sempat bersama-sama dengan korban menuju sawah. Mereka memasang jala untuk mèncari ikan di area persawahan belakang kantor camat Balusu sekitar pukul 17.00 Wita, Minggu (12/1).
Namun, ketika selesai memasang jala, Jamaluddin kemudian memulangkan anaknya ke rumah. Ia khawatir air semakin tinggi, karena hujan masih terus berlangsung.
Ayah dua anak ini menjadi kaget saat kembali ke rumahnya karena tidak melihat lagi mendapati Fikri. Saat berusaha mencari keberadaan anaknya, ia bertemu dengan kerabatnya Muhammad Basri (50).
Basri menyampaikan bahwa ia sempat melarang Fikri ke sawah bermain-main. Namun sang anak terus saja ke sawah bersama teman-temannya. Setelah itu Jamaluddin kembali lagi ke sawah mengecek jala ikan yang dipasang sekitar pukul 18.10 Wita, sembari berusaha mencari putranya.
Kegelisahan keluarga semakin bertambah, karena hingga usai magrib, sosok Fikri belum juga ditemukan keberadaannya. Nanti setelah warga selesai salat Isya di masjid, beredar informasi bahwa ada bocah tenggelam di sekitar persawahan belakang kantor camat Balusu. Warga melihat sosok bocah itu tertelungkup di persawahan. Mereka lalu berusaha menolong korban dan membawanya ke Puskesmas Madello. Namun sekitar pukul 20.20 Wita, tidak lama setelah pihak puskesmas memberikan pertolongan, Fikri dinyatakan meninggal dunia.
Jamaluddin tak menyangka anaknya ditemukan tenggelam di genangan banjir pada area persawahan Kelurahan Takkalasi. Dari pengakuannya, pada Minggu sore ia masih sempat bersama Fikri sebelum kejadian.
“Saya berjalan bersama-sama pergi memasang jala ikan. Namun karena air semakin tinggi, saya antar dia kembali ke rumah. Ini anakku yang pertama laki-laki kasian,” ucap Jamal dengan nada sedih.
Salah seorang kerabat korban Sudiati (50), mengaku kehilangan atas kepergian Fikri. “Nasalai tongenna appo anaureku (Benar-benar sudah ditinggalkan oleh cucu kemankanku). Anak ini sangat periang dan disukai teman sebayanya karena suka bergaul dan bermain,” ujar Sudiati dengan wajah sembab.
Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah yang melakukan kunjungan ke Kabupaten Barru, Senin (13/1), menyempatkan diri melayat ke rumah duka. Ia didampingi Bupati Barru Suardi Saleh, bersama sejumlah pejabat pemprov dan pemkab, serta unsur forkopimda.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, NA menyampaikan rasa duka cita mendalam kepada keluarga Jamaluddin. “Semoga anak kita almarhum ini diterima di sisi Allah Swt, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran,” kata NA dihadapan keluarga korban.
Selain ke rumah keluarga almarhum Fikri, NA juga melihat langsung kondisi wilayah yang terendam banjir sehari sebelumnya.
Ini kali kedua NA berkunjung ke Kelurahan Takkalasi. Tujuannya sama, untuk melayat ke rumah korban banjir.
Tahun 2018 silam, Nurdin juga berkunjung ke kelurahan ini. Saat itu ada juga korban meninggal dari kelurahan ini akibat banjir. Malah ketika itu ada orang yang menjadi korban banjir, yakni Sulfiah (14) dan Muhammad (53).
“Saya menyampaikan rasa duka meninggalnya anak kita yang dalam proses pertumbuhan. Kita merasa kehilangan. Semoga dilapangkan jalannya dan kuburannya dijadikan taman-taman surga,” kata Nurdin.
Bupati Barru, Suardi Saleh, mengatakan, korban masih berusia lima tahun dan berada pada tingkat pendidikan Taman Kanak-kanak (TK). Korban saat itu ikut menemani ayahnya ke empang.
“Kemarin ke empang menemani bapaknya. Kemudian diantar pulang oleh bapaknya. Tapi ternyata anak ini kembali ikut lagi (di belakang) bapaknya,” kata Suardi Saleh. (udi/rus/b)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.