Headline

Lecehkan Gerakan Salat, Tiga Remaja Diamankan


BKM/RUSDI VIRAL--Ketiga warga DPsa Mattiro Bulu pulau Karanrang, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Pangkep, yang videonya viral di medsos karena melakukan tambahan gerakan salat. Ketiganya diamankan aparat Polsek Tupabbiring dan selanjutnya dibawa melalui kapal motor ke Polres Pangkep untuk dimintai keterangan, Selasa(7/1) siang.

PANGKEP,BKM–Ketenangan warga di Kabupaten Pangkep diusik dengan beredarnya video berdurasi lima menit yang memperlihatkan tiga remaja melakukan salat berjamaah, yang berbeda dengan salat berjamaah seperti biasanya sesuai tuntutan Islam.
Dua remaja mengenakan celana panjang dan satunya mengenakan sarung, tampak serius melakukan ibadah.
Imam salat sempat membacakan ayat yang digabungkan antara bahasa arab dan bahasa Makassar. Bahkan mereka menambah gerakan-gerakan yang tidak sesuai dengan gerakan salat.
Ketiga pemuda tersebut berasal dari Pulau Karanrang, Desa Mattirobulu, Kecamatan Liukang Tupabbiring. Mereka adalah AR(16),KH(17) keduanya berperan sebagai makmum dan TS(17) sebagai perekam video. Para terduga pelaku langsung diringkus oleh aparat Polsek Tupabbiring dan selanjutnya digelandang ke Mapolres Pangkep. Mereka diduga telah melakukan penistaan dan penodaan agama.
Hingga Rabu (8/1), Pelaku masih sedang dalam proses pemeriksaan tim penyidik reskrim Polres Pangkep.
Dari kasus ini Polisi masih memburu satu pelaku yang disebut-sebut sebagai imam dalam praktek pelecehan salat tersebut.
Bukan hanya salat dengan menambah gerakan aneh. Dalam vidio itu pula, setiap pihak imam selesai ruku dan sujud. Justru kedua ma’mum dibelakang melakukan gerakan tangan diluar ketentuan dari salat umumnya.
Menyikapi hal itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pangkep, H Abubakar Sapa mengaku sudah melihat juga vidio dari praktek salat yang dilakukan ketiga remaja itu.
Meski terkesan bergurau, tetapi karena videonya sudah tersebar luas, sehingga apa yang dilakukan sangat berbahaya. Sebab publik bisa menilai kalau yang bersangkutan melakukan penistaan kepada agama Islam.
Semestinya gurauan ketiga remaja ini tidak diviralkan lagi dan orang tua, tokoh masyarakat, aparat pemerintah setempat serta para warga di sekitar tempat kejadian memberikan peringatan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Jika sudah diingatkan, lalu masih diulangi baru diinformasikan kepada pelaku bahwa apa yang kau lakukan bisa berdampak hukum.
“Secara kelembagaan, MUI merasa prihatin dan telah membahas secara informal karena kemarin sebelum informasi ini beredar luas. MUI membahas masalah lain. Nanti setelah selesai rapat baru kita terima telepon tentang adanya perkara tersebut. Vidio itu pun nanti dirumah saya terima,” kata Abubakar Sapa.
Udstaz Abubakar juga berharap kasus ini tidak diprovokasi dan jangan dibesar-besarkan. Apalagi terduga pelaku masih tergolong anak dibawah umur, sehingga lebih baik diberikan efek pembelajaran dengan cara mengingatkan dan menyadarkan bahwa apa yang dilakukan sesuatu yang salah.
Ketua MUI Pangkep ini juga berharap agar pelaku tidak terburu-buru dilakukan proses hukum karena terkesan bergurau dan pelakunya masih tergolong anak dibawah umur.
” Apa yang dipraktekkan ketiga remaja ini sesuatu perbuatan salah, namun kami berharap kepada penegak hukum, agar memberikan efek jera. Saya yakin pihak Kepolisian akan memberikan pertimbangan matang sebelum membawa masalah ini ke ranah hukum,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala desa Mattiro Bulu, H Tamsir, menyayangkan video tersebut beredar luas. Dia menyatakan sebenarnya vidio itu merupakan rekaman lama. Kejadian setahun lalu dan bukan dilakukan di pulau Karanrang, melainkan di Pulau Sarappo Caddi, ketika ketiga remaja ini pergi mencari ikan di sekitar pulau Sarappo Caddi.
“Ketiga warga kami yang tergolong di bawah umur itu berprofesi sebagai nelayan. Anak-anak ini sebelumnya mengaku jika apa yang dilakukan hanya bergurau dan sama sekali tidak mengetahui jika perbuatannya melanggar hukum. Apalagi dengan jeratan hukuman UU IT. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan yang ia lakukan bisa berdampak luas dan dinilai melecehkan agama Islam,” ujar Tamsir.
Bahkan Tamsir menambahkan, jika perilaku keseharian anak ini sangat baik, rajin salat lima waktu. “Makanya saya atas nama masyarakat dan Pemerintah Desa Mattiro Bulu memohon maaf yang sebesar-besarnya dengan adanya peristiwa ini, dan berharap secepatnya video itu ditarik dan tidak lagi diviralkan. Sekali lagi saya mohon maaf. Harapan kami mari kita menilai perkara ini secara wajar,” ucap Tamsir dengan suara serak.
Awalnya Tamsir juga tak berharap warganya dibawa ke Polres untuk diamankan. Tetapi kami menghargai langkah Kepolisian untuk memintai keterangan ketiga anak ini, agar duduk masalahnya bisa selesai secara cepat.
“Kami sudah meminta warga desa Mattiro Bulu di pulau Karanrang supaya tetap tenang. Begitu pula kepada ketiga orang tua dari ketiga anak ini, untuk mempercayakan kepada pihak kepolisian dalam melakukan proses hukum. Sebab Polisi juga harus menindaklanjuti laporan kasus ini. Apalagi perkara ini dilaporkan oleh salah satu ormas Islam di Pañgkajene,” jelasnya.
Sementara itu Ketua Forum Pembebasan Islam (FPI) Kabupaten Pangkep, Aco M Parenrengi, mengaku, telah melaporkan tiga remaja asal Pulau Karanrang ke Polres Pangkep.
Dasar pelaporan berawal dari video viral yang melecehkan agama Islam yang dipraktekkan ketiga remaja itu dengan memperagakan gerakan salat dalam video berdurasi lima menit.
“Kita laporkan karena ketiga remaja ini mengolok-ngolok dan melecehkan agama Islam. Salat itu bagian dari agama Islam. Agama apapun yang resmi tidak boleh diolok-olokkan. Apalagi dilecehkan dengan cara bermain-main terhadap tata cara salat. Kami minta pihak Polres menindaklanjuti kasus ini sesuai hukum yang berlaku,” tukas Aco.
Pimpinan Laskar FPI ini menilai terlalu sering diviralkan penistaan terhadap agama Islam. Sehingga kepada siapa pun pelaku yang melecehkan agama harus diproses hukum. Soal keinginan pelaku minta maaf tidak boleh kepada orang. Tetapi harus memohon maaf kepada Allah dan ummat Islam.
“Harapan kami kepada Polres atas kasus ini harus tetap berjalan sesuai hukum dan semua pihak harus menjadikan hal ini sebagai pembelajaran yang tidak boleh berulang dan kepada pihak pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama agar intens melakukan pembinaan kepada masyarakat, supaya tidak mudah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama,” tegasnya.
Secara terpisah Kapolres Pangkep, AKBP Ibrahim Aji, yang dikonfirmasi membenarkan, jika pihaknya menerima laporan dari salah satu ornas Islam yang melaporkan praktek penambahan cara salat diluar dari aturan salat sesungguhnya.
“Kasus ini masih terus didalami dan ketiga terduga pelaku dari vidio viral itu sedang dimintai keterangan. Saya berharap menunggu perkembangan informasi selanjutnya karena releasenya sementara kita susun agar tidak salah dalam penyebaran informasi tersebut,” tandas Ibrahim Aji.(udi)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.