Headline

Amankan Barang Berharga Jelang Purnama


Angin Monsun Asia Mengarah ke Sulsel

MAKASSAR, BKM — Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb mengimbau masyarakat agar mewaspadai segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi saat full moon alias bulan purnama penuh pada 10-11 Januari mendatang. Sebab, fenomena alam ini bisa menyebabkan rob atau naiknya permukaan air laut.
“Berdasarkan pemantauan satelit, full moon diprediksi pada 10 atau 11 Januari mendatang,” ungkap Iqbal, Selasa (7/1).
Jika full moon ini berlangsung disertai dengan hujan deras, maka bisa berakibat banjir lantaran saluran primer kanal yang seharusnya membuang aliran air ke laut, justru tertahan akibat rob.
Iqbal menegaskan, untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada saat full moon nanti, pihaknya telah mengecek kesiapan penggunaan pintu air dan pompa air. Begitu juga dengan saluran sekunder agar berfungsi dengan baik. Sehingga apabila kondisi rob disertai hujan deras terjadi, maka bisa dilakukan rekayasa aliran air.
Meskipun pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi bencana banjir, namun pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Terutama saat malam hari. Ia menyarankan agar barang-barang berharga disimpan di posisi yang lebih tinggi dan aman.
Kepala Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar Darmawan, mengatakan perkembangan kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan terjadinya peningkatan aktifitas Monsun Asia.
Hal ini yang dapat menyebabkan penambahan massa udara basah, pola pertemuan massa udara (konvergensi) dari Laut Jawa hingga Sulawesi, dan adanya Madden Julian Oscllation (MJ0) fase basah yangbergerak menuju Indonesia bagian Tengah.
“Kondisi dinamika atmosfer tersebut meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Sulawesi Selatan,” jelasnya.
Saat ini, tambah dia, telah terjadi peningkatan intensitas curah hujan secara berturut-turut dengan kategori lebat hingga ekstrem, yakni
50 mm/hari. Kondisi itu berlangsung dalam kurun waktu satu pekan terakhir pada beberapa pos pengamatan curah hujan di Kabupaten Pangkep, Barru hingga Kota Pare-pare.
Dalam empat hari ke depan (9 -12 Januari 2020), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang diperkirakan masih dapat berpotensi terjadi di wilayah Sulawesi Selatan bagian Barat, meliputi Kota Parepare, Kabupaten Pinrang, Barru, Pangkep Kepulauan, Maros, dan Makassar.
Juga di wilayah Sulawesi Selatan bagian tengah meliputi Kabupaten Soppeng dan Sidenreng Rappang. Wilayah Sulawesi Selatan bagian Utara meliputi Kabupaten Luwu Utara, Luwu Timur, Luwu, dan Toraja Utara. Serta potensi angin kencang di pesisir barat, selatan, dan timur Sulawesi Selatan.
Selain itu, masyarakat diimbau agar mewaspadai gelombang tinggi di perairan sekitar Sulawesi Selatan. Gelombang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter terjadi di Selat Makassar bagian selatan, perairan Spermonde Makassar, perairan Pare-pare, perairan Sabalana, perairan Selayar, Teluk Bone bagian selatan, dan Laut Flores bagian barat.
Rough sea gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter terjadi di Laut Flores bagian utara, Laut Flores bagian timur, dan Perairan Pulau Bonerate-Kalotoa.
“Masyarakat dan pengguna layanan transportasi darat, laut dan udara dihimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan dari curah hujan tinggi, angin kencang, dan gelombang tinggi yang akan terjadi pada empat hari ke depan,” ungkap Darmawan.
Dampak dari hujan deras dan cuaca buruk, kata Darmawan, bisa berpotensi banjir, genangan, tanah longsor, anginkencang, pohon tumbang, meluapnya area tambak budidaya, dan keterlambatan jadwal-penerbangan/pelayaran.
“Jadi masyarakat diharapkan tetap memperhatikan informasi dari BMKG serta instansi terkait untuk memastikan mitigasi bencana hidrometeorologi dapat dilakukan dengan baik,” tandasnya.
Kasubdit Pelayanan Bidang dan Jasa BMKG Wilayah IV Siswanto mengatakan, posisi angin monsun Asia saat ini antara 0 derajat hingga 5 derajat khatulistiwa sampai 5 derajat lintang utara. Pergeserannya saat ini dari Selat Kalimata dan akan berjalan menuju ke Sulsel.
“Fenomena angin Monsun Asia ini disebabkan karena adanya pergerakan massa udara basah (MGO) di Samudera Hindia yang mengarah di wilayah Timur Indonesia. Saat ini berada di bagian tengah atau di wilayah Sulsel,” kata Siswanto.
Menurutnya, angin Monsun Asia ini mengakibatkan pertumbuhan awan yang sangat intens dan memengaruhi kecepatan angin cukup ekstrem hingga 31 knot.
“Saat ini sudah ada di Selat Kalimata dan mulai berjalan menuju tengah. Puncak posisinya di Sulsel itu pada 10 hingga 12 Januari mendatang yang berakibat terjadi curah hujan tinggi dan angin kencang yang berpotensi terjadi banjir maupun longsor,” kata Siswanto.
Konsentrasi lintasan angin Monsun Asia ini berdampak di tiga kabupaten/kota, yakni Kabupaten Pinrang, Kota Parepare dan Kabupaten Barru. Dampak dari hal ini akan terjadi peluang banjir yang cukup besar.
“Saat ini perkiraan BMKG berdasarkan pengembangan terkonsentrasi di tiga daerah. Hanya saja kami mengimbau agar pemerintah kabupaten/kota lainnya di Sulsel tetap melakukan langkah antisipasi karena di waktu terjadinya itu, hujan akan merata,” tambahnya.
Khusus di wilayah Kabupaten Gowa, kata Siswanto, untuk saat potensi hujan lebat masih kecil, tapi pihaknya tetap akan melihat perkembangan yang terjadi. Hal tersebut dengan melihat perkembangan cuaca dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu tetap dilakukan antisipasi.
“Di tahun ini puncak musim hujan akan terjadi sepanjang Januari, sehingga seluruh pemerintah daerah diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaannya. Karena bagaimana pun di Sulsel adalah wilayah yang sering terjadi kondisi bencana, terutama di Kabupaten Gowa yakni banjir dan tanah longsor,” ucapnya. (sar-rhm/rus)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.