Headline

Rumah Potong Hewan dalam Harapan Manfaat


POLEMIK keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) milik Pemerintah Kota Makassar mengaum tak henti. Wacana pemberhentian berproduksi, hingga pergantian pola manajemen berkutat di banyak pikiran orang-orang yang merasa harus peduli dengan eksistensinya, menimbulkan empati dan menggali keberfungsian untuk kemashalatan orang banyak.
RPH tidak hanya persoalan gedung dan manajemen pengelolaan sesuai standar Undang-Undang No 18 tahun 2009 dan Undang-Undang No 33 Tahun 2014. Tetapi ada pula pemenuhan hak terhadap setiap hewan yang tersembelih untuk kepentingan masyarakat. Hak dasar hewan sembelihan adalah perlakuan secara ihsan (animal welfare) untuk mencapai taraf konsumsi yang layak sebagaimana yang diistilahkan oleh negara dengan sebutan Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).
Dalam lingkaran RPH, ada bisnis yang penuh dengan dinamika, baik terkait suplay and demand, maupun terkait suplay chain serta unsur pendukung oprasional lainnya. Berdinamika berbagai faktor sehingga banyak pihak yang harus terlibat mulai dari hulu hingga hilir.
Sebuah RPH akan menjadi tempat bisnis yang berprospek jika memiliki ideologi dan jaringan yang saling mendukung. Ideologi diperlukan karena menghasilkan produk yang halal dan thoyyibah bagi konsumen dan jaringan diperlukan untuk menjaga sustainability usaha yang berjalan di RPH.
Langkah-langkah praktis yang hendaknya terjadi di RPH adalah sebagai berikut :

Buffer stock ektern dan Intern

Buffer stock ekstern adalah tempat asal muasal ternak sapi atau ruminansia lainnya yang direncanakan untuk disembelih di RPH. Berada di luar RPH tetapi memiliki saling keterkaitan sebagai penyedia ternak sapi sesuai dengan keperluan. Jaminan awal perlakuan secara ihsan (animal welfare) sudah harus terjadi di tempat ini sehingga mampu menekan tingkat kerugian 5% penurunan berat badan sapi sebelum disembelih.
Di samping itu pula, rekam jejak ternak sapi sudah dapat diketahui. Itulah mengapa sebuah RPH secara manajerial tidak bisa mengandalkan pasokan ternak sapi hanya berasal dari blantik sapi atau pedagang sapi.
Sedangkan buffer stock intern adalah sebuah wadah yang berada dalam kawasan RPH yang masih bersifat seperti pasar hewan. Namun di tempat ini, sapi-sapi yang akan dibawa masuk ke RPH untuk disembelih sudah mendapatkan perlakuan pemeriksaan antemortem oleh paradmedis yang ditunjuk bertanggungjawab untuk maksud tersebut.

Tenaga professional untuk paramedik/ dokter hewan, juleha atau keurmaster serta butcher.

Tenaga-tenaga professional yang ditempatkan di RPH adalah tenaga profesional yang kompeten dan sudah mendapatkan pengakuan dari negara. Hal ini untuk menghindari serangan isu ekonomis dan non ekonomis yang sudah mengglobal. Salah satu kegagalan RPH di mata dunia adalah ketidaktepatan perlakuan terhadap hewan-hewan sembelihan tersebut.
Para tenaga profesional tersebut akan membagi tugas sebagaimana tupoksinya. Seorang tenaga medis atau dokter hewan akan melakukan pemeriksaan antemortem untuk menjamin kesehatan dan kelayakan sapi potong sebelum disembelih dan melakukan pemeriksaan postmortem sebelum karkas terpilah antara tulang, daging, dan ikutannya.
Adapun juru sembelih halal (Juleha) akan melakukan penyembelihan dengan baik dan benar, sehingga saat sapi potong tidak mengalami rasa sakit sebagaimana sunnah mengajarkan penyembelihan terhadap sapi potong.
Sementara butcher professional, akan melakukan aktivitas penentuan nilai ekonomis dan nutrisi pada sapi potong yang tersembelih sehingga pemanfaatan sumberdaya yang terdapat pada sapi potong tidak termubasirkan. Tenaga Butcher ini juga akan memberikan rekomendasi daging-daging yang terjual langsung dengan nilai ekonomis dan nutrisi tinggi untuk menjadi bahan pangan langsung dan untuk menjadi bahan baku, pembuatan pangan olahan berasal dari ternak potong.

Kandang peristirahatan atau kandang penampungan sementara

Kandang peristirahatan adalah tempat di mana sapi-sapi atau ternak ruminansia lainnya untuk bisa merasa rileks sebelum disembelih. Hal ini diperlukan agar berat badan tidak menyusut saat proses penyembelihan dan kualitas daging menjadi lebih baik. Ternak potong yang dimasukkan di tempat ini benar-benar sudah menjalani proses pemeriksaan antemortem dan dianggap layak untuk mengalami penyembelihan, risiko kasus zoonosis tidak terjadi lagi.

Tempat penyembelihan

Tempat penyembelihan adalah suatu tempat di mana ternak potong akan mengalami proses perubahan dari otot hidup menjadi otot mati, atau dikenal dengan istilah perubahan dari siklus hidup ke siklus mati. Peranan Juleha sangat penting di sini, karena banyak kasus di mana ternak sapi mengalami penurunan berat badan dan penurunan kualitas daging justru terjadi pada proses tersebut.

Tempat pengkarkasan dan pelayuan

Tempat pengkarkasan dan pelayuan serta penanganan jeroan menjadi tanggungjawab penuh dari seorang butcher. Selain menjamin pengidentifikasian terjadi terhadap nilai ekonomis daging, tulang serta ikutannya, butcher juga bertanggungjawab atas higienitas daging sebelum tiba di konsumen langsung dan atau di pasar.
Sebenarnya masih ada beberapa hal teknis penting yang harus terpenuhi untuk sebuah RPH, sehingga benar-benar semua bisa maksimal. Perlu diskusi bersama untuk melahirkan sebuah standar operasional prosedur untuk menuju RPH yang layak dan pantas sebagai sumber proses bahan pangan bagi rakyat.

Muh Nur Taqwim, S.Pt.
Butcher Bersertifikat Kompoten LSP-BNSP dan Pengamat Ruminansia Sulsel.

Komentar Anda




Comments
To Top
.