Metro

Ada Rezeki Dibalik Pekerjaan Saya


Arifuddin Sopir Mobil Sampah Tangkasa Kecamatan Tallo (2-Habis)

BKM/JUNI SEWANG SOPIR--Arifuddin menikmati profesinya sebagai sopir sampah Tangkasaki. Ia mengaku tidak ada lagi pekerjaan yang sesuai tingkat pendidikannya di SMA.

DI USIANYA yang masih terbilang muda, Arifuddin mengaku belum ada niat untuk menekuni profesi lain. Ia menegaskan, jika ia masih akan bertahan menjadi sopir pengangkut sampah.

Laporan: JUNI SEWANG

”Saya setiap hari membawa truk untuk mengangkut sampah dan membuangnya ke TPA Antang, di TPA inilah banyak cerita dan realita kehidupan rakyat kecil yang sangat menarik,” katanya.
Profesinya sebagai sopir pengangkut dan pembuang sampah menjadikan Arifuddin mengenal ratusan pemulung yang menggantungkan hidup dari TPA Antang.

Selain kisah tentang kerja keras para pemulung yang mengais rezeki dari sampah yang ia bawa ke TPA, Arifuddin mengaku sedikitnya dari pekerjaan yang ia geluti membawakan rejeki kepada orang lain.
“Ada rejeki orang lain dibalik dari pekerjaan saya, ada amal jariah yang saya dapat setiap saya melakukan pekerjaan saya,” katanya.
Pukul delapan pagi, kemarin, suhu yang masih sedikit dingin, terasa di tempat pengelolaan sampah terbesar ini.
Arifuddin sempat menikmati minuman hangatnya. Mengaku, berlatar belakang pendidikan Tingkat Sekolah Menengah Atas, Arifuddin siap bekerja mengumpul dan mengangkut sampah warga di wilayah Tallo.
Pria yang beralamat di Jalan Pongtiku 1, lorong 7, No 5 Kelurahan Suangga ini awalnya seorang buruh bangunan.
Pria berumur 30 tahun ini-pun menjadi petugas pengangkut sampah bukanlah cita-citanya. Namun, pria beristri ini mau tidak mau kini harus menekuni ‘karir’ sebagai petugas pengangkut sampah, karena pekerjaan lain yang lebih menjanjikan sulit didapatkannya.
Sebagai lulusan SMA, tidak banyak alternatif pekerjaan kantoran yang bisa didapatkannya. Maka, ketika pada 2016 lalu ada tawaran menjadi petugas pengangkut sampah, ia pun dengan senang hati menjalani pekerjaan yang di mata banyak orang tidak cukup bergengsi itu.
Meskipun awalnya terasa berat, Arifuddin mengaku kini merasa enjoy dengan pekerjaannya. Ia mengaku menjalani hidup dengan prinsip layaknya air mengalir.
“Ya hidup ini mengalir saja, jalani saja. Dari pengalaman sebelumnya, menjadi sopir mobil sampah penghasilan lebih baik, dan waktu untuk mencari rejeki diluar pekerjaan sedikit lebih ada,” ujar Arifudddin.
Hampir Empat tahun dirinya bekerja sebagai sopir truk pengangkut sampah, tepatnya lokasi terminal transfer sampah yang akrab disebut zona 2 Jalan Sultan Abdullah Raya, stand by menunggu para sopir fukuda memindahkan sampahnya ke dalam truk lalu diantar oleh kelokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menurutnya, menjadi sopir pengangkut sampah bukanlah hal yang mudah. kurang lebih Empat tahun menjadi sopir pengangkut sampah, sudah banyak suka dan duka dialami Arifuddin.
”Suka dukanya banyak sekali. Sukanya ketika dapat pemberian dan senyuman dari tuan rumah yang diangkut sampahnya dijalan jalan poros. Dukanya, ketika hujan deras datang dan sampah yang diangkut volumenya banyak dimana aroma sampah lebih menyengat, hingga di marahi warga,” kata pria yang belum dikaruniai anak ini. Meskipun berpenghasilan pas-pasan, Arifuddin.(*)

Komentar Anda




Comments
To Top
.