Gojentakmapan

Konsumsi Industri Kurangi Debit Air Sawah


MAROS, BKM — Musim kemarau mulai dirasakan masyarakat di Kabupaten Maros. Sejumlah areal persawahaan dipastikan mengalami krisi air lantaran debit air yang bersumber dari mata air Bantimurung mulai berkurang. Terlebih adanya penggunaan air untuk kepentingan industri disana.
Melihat kondisi ini, Asosiasi Pemerintahan Desa Indonesia (Apdesi) Maros meminta pihak terkait untuk berembuk, mencari solusi bersama atas dampak kekeringan yang terjadi disebagian besar areal perswahaan di Kabupaten Maros.
“Kami minga pihak-pihak yang menggunakan air Bantimurung untuk berembuk. Mereka masing-masing Dinas Pertanian, PT Semen Bosowa, dan PDAM Maros. Koordinasi ini penting agar menemukan solusi bagi petani yang terancam krisis air,” kata Ketua Apdesi Maros, Abdul Asiz, Senin (3/8).
Asiz menggambarkan, debit air dari Bantimurung yang digunakan banyak pihak disebut menjadi berkurang apalagi terlebih memasuki musim kemarau. Salah satu wilayah yang dipastikan mengalami fuso (gagal pananen) yakni Kecamatan Lau. Di wilayah ini, ada sekira 300 hektare sawah irigasi yang bergantung pada pasokan air dari Bantimurung.
“Jika tidak, petani mulai memikirkan apakah harus mengurangi luas areal sawah yang dialiri air, atau menghentikan sama sekali penanaman padi IP300 yang bisa dipanen tiga kali setahun. Sebagai perbandingam tahun 2014 lalu saat panen tiga kali, petani Maros berhasil meraup 8-9 ton per Ha, dengan luas keseluruhan 2700 Ha,” jelasnya.
Terpisah, Camat Lau, Erhan mengakui gagal panen telah menjadi kekhawatiran para petani di berbagai desa di Lau. “Dua tiga hari lagi tidak dapat air bisa-bisa fuso,” keluhnya.
Erhan mengatakan, daerahnya juga disulitkan dengan air irigasi yang tidak pernah lagi sampai di Lau. Debit air yang kurang, dan jalur irigasi banyak yang bocor atau berbelok ke daerah lain. “Akibatnya air tidak pernah sampai kesini, petani jadi kebingungan dapat air dari mana,” urainya.
Sebelumnya, Bupati Maros, HM Hatta Rahman mengaku, pihaknya telah mengusulkan pembuatan waduk ke pihak Kementerian PU. Waduk itu akan dibangun di sekitar area karst dan sementara menunggu persetujuan pemerintah pusat. “Waduk itu untuk menampung potensi air yang dimiliki karst Rammang-rammang yang mencapai 500 ribu kubik. Kita masih tunggu jawaban dari pusat,” ujar Hatta. (ari-ril/c)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.