Metro

Ganti “Pak Ogah”, Dishub Turunkan Personel


MAKASSAR, BKM–Dinas Perhubungan Kota Makassar, Senin (3/8) hari ini, menurunkan ratusan personel untuk menjaga setiap titik kemacetan di sejumlah ruas jalan. Termasuk mengatur perputaran kendaraan disetiap bukaan.
Langkah yang diambil dishub tersebut untuk mengurangi gerak dari “pak ogah” yang dinilai salah satu biang kemacetan dan meresahkan pengguna jalan. Apalagi Mereka telah menguasai semua putaran jalan dari setiap bukaan yang ada.
Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto telah menginstruksikan menurunkan personel Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar di jalan untuk menata serta mengatasi masalah kemacetan, sekaligus mengurangi aktivitas ” pak Ogah”.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Makassar, Muchlis Mas’ud menegaskan, dishub akan membantu aparat kepolisian dalam menangani masalah kemacetan di Kota Makassar. Sementara sekaitan dengan keberadaan “pak ogah”, akan dilakukan pendekatan, agar tidak terjadi kesalapahaman.
“Iye sudah ada instruksi dari pak wali kota, agar dishub membantu kepolisian menangani kemacetan. Sedangkan keberadaan “pak ogah” kami akan melakukan pendekatan agar tidak terjadi kesalahpahaman,”kata Muchlis.
Sementara itu, Kepala Bidang Operasional Dishub Makassar, Andi Angkasa mengatakan, keberadaan “pak ogah” yang menggunakan rompi tidak jelas dasarnya apa. Disisi lain keberadaan mereka didukung kepolisian, sementara warga banyak yang tidak simpatik terhadap keberadaan “pak ogah”.
“Kita sementara persiapkan personil di lapangan. Jumlahnya seratusan, Senin mereka akan bertugas efektif mengatur lalu lintas. Sementara ini kita lakukan persiapan penempatan personil dititik jalan,”kata Angkasa.
Salah satu jalan yang akan ditempatkan personel dishub, ujar Angkasa, seperti di ruas Jalan Hertasning, A P Pettarani, Sultan Alauddin dan beberapa ruas jalan lainnya.
“keberadaan “pak ogah” tetap akan ditertibkan. Apalagi, dishub telah melakukan penambahakan personil yang bertugas di lapangan sebanyak 100 personil baru,”katanya.
Terpisah, Ramli, warga Tamalate II mengatakan, keberadaan pak ogah di sejumlah titik bukan membantu polisi mengatur lalu lintas, tetapi justru malah menambah kemacetan.
“Mereka ada di titik yang tidak dijaga polisi,” ujar Ramli.
Seharusnya, tambah Ramli, aparat kepolisian bisa lebih tegas dalam menjalankan tugas menertibkan lalu lintas, bukan malah meminta bantuan dari jasa “pak ogah”.
“Kami kadang kesal juga pak, saat ingin berbelok, tiba-tiba spontan menginjak rem mendadak karena “pak ogah” sudah ada didepan mobil. Tidak diberi imbalan uang, malah mereka membentak dan memukul bodi mobil. Keberaaan “pak ogah” ini juga banyak dikeluhkan para pengendara motor dan pengendara mobil,”ujarnya.(war)

Komentar Anda



Channel


Comments
To Top
.