"Kondisi ini mungkin akan beda ceritanya jika, pemerintahan dijabat oleh Penjabat Bupati seperti di Kabupaten Bantaeng, Sinjai, Bone, dan beberapa daerah lainnya di Sulawesi Selatan," jelas Andi Muhammad Asbar.
Namun, dosen STAI Al-Gazali Bulukumba ini, berpandangan, penantang petahana dengan tagline 'Jadimi' akan memberikan perlawanan sengit. Ia mencontohkan di Pilkada Bulukumba tahun 2010 punya memori kelam bagi petahana saat itu Andi Muh Sukri Sappewali dikalahkan oleh rivalnya Zainuddin Hasan dalam head to head putaran kedua.
Alasan lain yang rasional, lanjut Asbar, Bupati punya titik kelemahan dalam kontestasi Pileg 2024 setelah orang terdekatnya gagal masuk DPR. Hal ini menjadi celah bagi lawan tandingnya, untuk merebut suara yang antipati terhadap petahana.
"Soal isu yang akan menghiasi panggung Pilkada kali ini, akan membreakdown narasi Pilpres yaitu 'Keberlanjutan dan Perubahan' tapi konteksnya di ranah lokal Bulukumba," katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indeks Politica Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir berpendapat bahwa ada dul hal yang memungkinkan bisa terjadi di Pilkada Bulukumba jika terjadi head to head.
Pertama menurut Suwadi, Andi Utta-Edy Manaf bisa melenggang mulus ketika Jamaluddin Syamsir-Tomy Satria Yulianto hanya berbekal semangat saja tanpa membawa persiapan yang matang, atau tidak siap dari segi kos politik untuk mengimbangi petahana yang tentu akan berdampak pada kerja-kerja politik.
"Kemungkinan kedua, kondisi itu bisa berbanding terbalik jika Jamaluddin Syamsir-Tomy Satria Yulianto maju dengan persiapan matang. Sebab keduanya adalah tokoh muda yang tak bisa diremehkan, keduanya membawa nama figur aktivis muda," ujarnya.
"Siapa yang tak kenal Jamaluddin Syamsir, aktivis berpengaruh di Sulawesi Selatan di masanya. Dia adalah tokoh muda yang berpengaruh, memiliki kader-kader yang kuat dan tentu memiliki jejaring di kalangan milenial yang kuat di Bulukumba," sambung Suwadi.
Ia lebih tajam menguraikan analisisnya tentang posisioning Tomy Satria sebagai mantan Wakil Bupati sekaligus mantan calon Bupati di Bumi Panritalopi. Suwadi menyebut, Tomy Satria memiliki basis yang kuat dan tentu bisa memberi perlawanan.
"Tetapi menghadapi petahana dibutuhkan persiapan, tidak boleh setengah-setengah kalau ingin menang. Kalau Jamaluddin Syamsir-Tomy Satria bisa menghadirkan ini, maka pertarungan ide dan gagasan akan sengit," imbuhnya.
Pakar politik Universitas Hasanuddin Makassar, Profesor Sukri Tamma berpandangan bahwa Pilkada Bulukumba akan terjadi persaingan yang ketat. Alasannya kedua pasangan ini adalah tokoh-tokoh Bulukumba yang sangat terkenal, ada dalam top of mind dalam perbincangan masyarakat.
Menurutnya Andi Utta-Edy Manaf yang didukung oleh koalisi gemuk, diuntungkan dengan tim kerja masing-masing partai. Sehingga lanjut Sukri Tamma, kalau memang bisa dimaksimalkan kader-kader partai hingga anggota DPRD, maka itu menjadi modal kekuatan bagi Andi Utta-Edy Manaf.
"Hanya saja seringkali ada persepsi politik kalau partai politik bukanlah yang utama. Yang utama adalah faktor kandidatnya atau pencapaian-pencapaian kandidatnya," urainya.
Sukri Tamma lebih jauh berpandangan jika hal itu terjadi, maka pasangan penantang bisa memanfaatkan celah yang ada. Apalagi pada akhirnya yang akan dipengaruhi oleh para kandidat adalah preverensi pemilih masyarakat.
"Jadi semua masih dinamis, masih menantikan kerja-kerja tim di masa kampanye hingga hari pencoblosan nantinya," jelasnya.(*)