"Hasil dari curahan tenaga, pikiran, dan karya kita di sektor transportasi beberapa tahun ini telah berbuah manis. Telah banyak pembangunan dan pengembangan infrastruktur transportasi yang telah kita laksanakan," katanya.
Sejumlah bandara baru, pelabuhan baru, modernisasi pelabuhan utama, peningkatan konektivitas rute pelayaran, peningkatan rute jembatan udara, pengembangan dan pembangunan sistem angkutan umum massal perkotaan, peningkatan kuantitas dan kualitas jalur kereta api, pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT), hingga pada penyediaan program tol laut dan jembatan udara.
Yang kesemuanya itu tidak saja menjadi capaian yang mengangkat harkat dan martabat Indonesia di mata Internasional, namun juga mendeklarasikan bahwa Infrastruktur dan Layanan Transportasi di Indonesia Tidak Kalah dengan Negara Lain di dunia.
"Meski begitu, kita tidak boleh berpuas diri, karena ke depan, dunia terus berkembang dan perubahan yang terjadi begitu cepat. Kita dihadapkan pada tantangan era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity) dan disrupsi, di mana perubahan yang terjadi menjadi sangat cepat dan cenderung tidak bisa ditebak," sebutnya.
"Apalagi, dengan adanya transformasi digital, kita dituntut untuk melakukan sejumlah inisiatif dalam rangka mengeksplorasi dan memanfaatkan teknologi digital yang baru seperti artificial intelligence, blockchain, big data, dan internet of things. Hal itu dilakukan untuk merevolusi dan mendorong integrasi teknologi digital ke dalam proses bisnis organisasi sehingga organisasi memiliki keunggulan kompetitif," jelasnya.
Pada sektor transportasi, implementasinya adalah bagaimana menghadirkan sebuah Sistem Transportasi Cerdas (Intelligent Transport Systems). Dan hal itu, menurut Robby Kurniawan, telah dilakukan misalnya melalui pengembangan aplikasi pada program Teman Bus, integrasi sistem yang digunakan sebagai driving behaviour monitoring, Integrasi platform perizinan, Integrasi sitem pembayaran dan tarif.
Kemudian percepatan bongkar muat pelabuhan yang berbasis machine learning, penggunaan RFID, angkutan online (taxi dan ojek) dan penerapan green and smart mobility di kota-kota besar Indonesia. Robby mengatakan, upaya mewujudkan berbagai cita-cita sektor transportasi ke depan bukanlah tugas pemerintah sendiri.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, maka dibutuhkan peran semua pihak terutama Generasi Muda Insan Transportasi yang melek teknologi, adaptif, berpikir terbuka, digital native dan achiecement-oriented. Oleh karena itu, ini merupakan era Generasi Muda Insan Transportasi.
"Tidak ada pilihan lagi kecuali kita harus mampu berubah dan bertransformasi menjadi SDM Unggul Generasi Muda Transportasi Nasional yang Profesional dan Berkelas Dunia menuju pembangunan sektor transportasi di era Society 5.0," tutupnya. (*)