Headline

Gedung Tanpa Plafon, Meja-Pintu dari Bambu


Kondisinya Memprihatinkan, SMKN 6 Selayar Butuh Bantuan

MAKASSAR, BKM — Miris dan memprihatinkan. Begitulah kondisi kekinian Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 Selayar.
Sekolah ini terletak di Pulau Kalao Toa, Desa Lembangmate’ne, Kecamatan Pasilambena. Berada di pulau terluar Sulawesi Selatan. Dari kota Benteng yang merupakan ibukota Kabupaten Selayar, dibutuhkan waktu 24 jam untuk sampai ke sana. Itu jika menggunakan kapal laut biasa dan langsung dari Benteng.
Jika menumpang kapal fery, waktu tempuh bisa mencapai 26 jam. Karena kapal transit di empat pulau. Ada pula kapal milik Pelni bernama Sabuk Nusantara. Waktunya lebih lama lagi, yakni 28-30 jam. Juga karena singgah dari pulau ke pulau.
SMKN 6 Selayar berdiri sejak tahun 2011. Saat ini dipimpin Daeng Pabeta sebagai kepala sekolah. Ada tiga kelas di sekolah ini. Masing-masing kelas I, II, dan III. Jurusan yang ada hanya satu, yakni Agribisnis, Tanaman Pangan dan Holtikultura.
Untuk ruang belajar, ada satu gedung memanjang. Tiga ruang kelas dipisahkan dengan tembok. Ada satu kelas yang di dalamnya terpaksa disekat dengan bambu. Sebagian untuk empat belajar, sebagian lainnya dipakai sebagai tempat salat.
Saat ini SMKN 6 Selayar menampung 56 siswa. Untuk kelas I sebanyak 18 orang. Kelas II berjumlah 32 orang. Sementara kelas III hanya enam orang. Mereka berasal dari sekitar sekolah. Ada pula yang datang dari pulau lain.
”Sebenarnya banyak lulusan SMP yang ingin melanjutkan ke sekolah kami. Namun terkendala tempat tinggal. Mereka tidak bisa pergi pulang setiap hari naik jolloro. Karena waktu tempuh dari pulau terdekat 1,5 jam sampai 2 jam. Mereka mau bersekolah kalau ada asrama yang disiapkan,” terang Daeng Pabeta yang berbicara melalui sambungan telepon selular, Selasa (11/2).
Karena keterbatasan fasilitas pendukung di SMKN 6 Selayar, akhirnya banyak anak-anak dari pulau yang memilih melanjutkan sekolah ke kota Benteng, atau Bulukumba.
Daeng Pabeta menyebut, Pulau Kalao Toa berbatasan langsung dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan, dari pulau ini sudah jelas terlihat pulau Flores, NTT. Jarak tempuh dari Kalao Toa ke Flores berkisar delapan jam.
Jarak yang jauh berdampak terhadap pembangunan SMKN 6. Ruang praktik yang diperuntukkan bagi siswa, terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang guru dan staf administrasi. Terdapat lima orang guru ASN di sekolah ini. Ditambah 10 orang non ASN, serta tenaga administrasi lima orang.
Gedung yang tak begitu luas disekat-sekat untuk menjadi ruang kepala sekolah, tata usaha, hingga perpustakaan. Bahkan ada yang menggunakan bambu yang telah dibelah. Ruangan ini masih berlantai pasir. Juga tanpa plafon. Guru dan staf juga memanfaatkan meja dari bale-bale.
Ruang kelas siswa kondisinya tak kalah memprihatinkan. Tegel yang terpasang sejak sekolah dibangun tahun 2011, saat ini sudah banyak yang pecah. Plafonnya juga tidak ada. Rangka atap terlihat jelas.
Jangan ditanya tentang bangku dan mejanya. Di sekolah ini hanya ada 20 pasang tempat duduk siswa beserta meja. Semuanya ditempatkan di kelas II, dengan alasan memiliki banyak siswa. Itu pun tidak mencukupi. Karena siswa kelas II berjumlah 32 orang. Selebihnya belajar dengan meja yang terbuat dari bale bambu.
”Untuk kelas II ada 20 kursi dan mejanya. Tapi kelas I dan III tidak ada. Siswa kelas I belajar dengan alas bale bambu. Sementara yang kelas III pakai lapangan tenis meja,” jelas Daeng Pabeta lagi.
Ia mengakui bila suasana belajar tersebut tidaklah nyaman. Namun sebagai kepsek, dirinya hanya bisa berinisiatif membuat bale bambu guna mendukung proses belajar mengajar. Padahal, banyak siswa di sekolah ini yang sebelumnya berasal dari SMP dengan kondisi fasilitas cukup lumayan.
Sebelumnya, pada tahun 2019 SMKN 6 mendapat bantuan dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan jamban sebanyak dua unit. Ada pula pemberian bantuan untuk pembangunan laboratorium IPA.
Hanya saja, menurut Daeng Pabeta, bantuan sebesar Rp200 juta itu tak diterimanya. Karena ia memperkirakan anggaran pembangunan kab bisa mencapai Rp400 juta. Itu sudah memperhitungkan biaya transportasi material agar bisa sampai ke pulau Kaloa Toa.
”Kalau seandainya disuruh memilih, kami utamakan bantuan pengadaan mobiler. Khususnya 56 pasang kursi dan meja sesuai jumlah siswa. Bisa juga dipakai guru-guru,” harap Daeng Pabeta.
Ia juga mengungkap, sejak berdiri hingga sekarang, SMKN 6 Selayar belum dipasangi pagar. ”Dulu pernah dipasang pagar dari bambu, tapi tidak bertahan lama dan rusak lagi. Kalau bisa sekolah kami mendapatkan bantuan rehabilitasi gedung,” imbuhnya.
Apakah permasalahan yang dihadapi sekolahnya sudah disampaikan ke Dinas Pendidikan Sulsel sebagai OPD yang berkompeten? Daeng Pabeta mengatakan sudah pernah. Pihak Disdik telah mencatat apa saja yang dibutuhkan.
”Disdik menyampaikan kepada kami, mudah-mudahan tahun 2020 ini bisa direalisasikan,” tandas mantan kepala SMKN 8 Selayar ini.
Menurutnya, masih banyak kekurangan di sekolah yang dipimpinnya. Seperti laboratorium IPA. Juga butuh ruang praktik siswa dan peralatannya. Termasuk satu unit gedung baru untuk membuka jurusan baru, yakni perikanan. Jurusan ini dianggap dibutuhkan, karena rerata masyarakat pulau berprofesi sebagai nelayan dan petani.
Disdik Turunkan Tim

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel Basri yang dikonfirmasi, kemarin mengatakan sejak dua hari lalu dirinya telah memerintahkan kepala bidang yang menangani untuk segera melakukan pengecekan lapangan. Pihaknya pun telah mengirimkan tim untuk memastikan kondisi SMKN 6 Selayar yang sebenarnya.
“Semua sekolah yang tidak berstandar, itu akan kita turunkan tim
untuk dilakukan pengecekan di lapangan. Apa kebutuhannya. Menghitung apa-apa saja yang diperlukan. Karena kita mau siswa belajar dengan nyaman,” ujar Basri, kemarin.
Di Selayar, dikatakan Basri, juga terdapat cabang Dinas Pendidikan Sulsel. Tim di sana, dikatakannya juga tengah melakukan pengecekan terhadap sekolah tersebut.
“Saya juga minta kepala bidang yang menangani untuk berkoordinasi dengan cabang dinas yang ada di Selayar. Supaya segera melakukan penghitungan dan pengecekan hal-hal apa yang dibutuhkan,” ucapnya.
“Sementara masih menunggu cabang dinas di Selayar. Nanti setelah ada laporan, baru kita turun benahi. Termasuk menghitung berapa anggaran yang dibutuhkan,” tambahnya. (nug/rus)



Comments

To Top