Headline

Kian Menjamur, Pak Ogah Kumpul Rp1,2 Juta Sehari


NA: Itu Keluhan Saya dari Dulu

MAKASSAR, BKM — Entah sampai kapan permasalahan Pak Ogah bisa dituntaskan. Mereka yang biasanya mengatur lalulintas kendaraan di setiap bukaan dengan imbalan uang ini, masih tetap eksis hingga sekarang.
Bahkan, jumlah mereka kian bertambah dan semakin menjamur. Padahal, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait mengklaim rutin turun melakukan operasi.
Coba tengok di berbagai bukaan Jalan Urip Sumohardjo. Seperti di depan Universitas Bosowa, atau bukaan yang tak jauh dari RS Awal Bross. Demikian pula di Jalan Hertasning.
Banyaknya warga Makassar yang turun ke jalan menjadi Pak Ogah sepertinya cukup beralasan. Karena dari pekerjaan ini mereka bisa mendapatkan uang yang relatif besar untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Pengakuan Ilham –bukan nama sebenarnya– bisa menjadi rujukan. Ia mengaku, uang yang diperolehnya dari menjadi Pak Ogah paling rendah Rp100 ribu seriap harinya. Jika dikumpulkan hasil dari rekannya yang berjumlah 12 orang pada satu bukaan, bisa mencapai Rp1,2 juta lebih per hari.
“Ada 12 orang teman saya. Satu orang paling rendah kita dapat Rp100 ribu,” ujarnya, kemarin.
Menurutnya, aktivitas ini dilakoninya setiap hari dan sudah menjadi pekerjaan rutin. “Kita mau kerja apa? Mendingan jadi Pak Ogah, daripada pergi mencopet,” cetusnya.
Ilham juga mengaku, razia yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kota Makassar tidak menjadi solusi agar dirinya tidak turun ke lapangan. “Kita tidak butuh arahan, tapi pembinaan. Makanya, ketika dirazia ujung-ujungnya kita dipulangkanji,” ujarnya lagi.
Berdasarkan penelitian Laboratorium Transportasi Universitas Hasanuddin (Unhas), keberadaan Pak Ogah dalam mengatur lalulintas tidak sesuai dengan ketentuan.
Menyikapi kondisi ini, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengatakan, kemacetan dan persoalan Pak Ogah di Kota Makassar harus mendapatkan solusi. Karena sejak dirinya menjabat sebagai gubernur, hal tersebut sudah menjadi menjadi keluhan.
“Jadi dari awal Pak Ogah ini menjadi keluhan saya. Saya sudah sampaikan ke teman-teman di pemprov maupun di pemkot, supaya Pak Ogah itu ditertibkan,” kata Nurdin.
Adapun yang menjadi solusi kemacetan di Kota Makassar yang disebabkan oleh Pak Ogah, sambung Nurdin, yakni memaksimalkan petugas di Dinas Perhubungan (Dishub), baik dari Dishub Makassar maupun provinsi dengan melakukan koordinasi lintas sektor. Utamanya kepolisian dan lalulintas.
“Memang harus kerja sama dan itu harus dibuatkan surat penugasan. Sampai akhirnya tidak ada lagi Pak Ogah,” tandasnya.
Lebih lanjut Nurdin menambahkan, selama ini Pak Ogah lebih mementingkan mendapatkan upah dibandingkan mengatur lalulintas.
Ia menekankan sebuah sistem yang dibangun untuk mengatasi hal tersebut.
“Kalau saya memang harus ada sistem. Ini sudah berkali-kali saya sampaikan, baik ke perhubungan provinsi, maupun perhubungan kota,” terangnya.
Kepala Dinas Perhubungan Sulsel Syamsibar, berjanji dalam waktu dekat dirinya akan melakukan pertemuan dengan Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb. Agendanya untuk membahas bagaimana penanganan Pak Ogah di Makassar.
“Saya akan rapat dengan Pak Wali terlebih dahulu. Nanti selesai rapatnya saya akan informasikan bagaimana penanganannya,” tutupnya. (nug/rus)



Comments

To Top