Gojentakmapan

JICA-BNPB Edukasi Warga Pangkabinanga


GOWA, BKM — Puluhan warga Lingkungan Mappala dan sekitarnya di Kelurahan Pangkabinanga, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, berkumpul di pelataran gedung Yayasan Arifah, Kelurahan Pangkabinanga, Rabu siang (22/1).
Warga tersebut berkumpul guna mengikuti latihan peringatan dini bencana banjir yang difasilitasi JICA Expert on Conprehensive Disaster Risk Reduction, Konsultan CTI Engineering Internasional Jepang bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Latihan pra bencana ini dihadiri Deputi Penanggulangan Bencana Nasional BNPB, Lilik Kurniawan, sekaligus melakukan edukasi langsung cara-cara memahami tingkatan status peningkatan elevasi air sungai Jeneberang mulai dari status waspada (garis kuning), siaga (garis orange), dan awas (garis merah).
Menurut Lilik, masyarakat harus tahu jenis-jenis status peningkatan level air sungai. Agenda BNPB di Gowa adalah bagaimana sistem itu dibangun dan masyarakat terdampak bencana dilatih. Masyarakat harus pandai memaknai bukan sekadar mengamati setiap kondisi.
”Ada 4 fase. Fase 1, kita harus tau daerah mana yang rawan banjir, harus kita punya data otentik. Fase 2, kita harus tahu apa penyebab banjir itu. Misal karena hujan lokal dan hujan daerah hulu. Kalau hujannya dari hulu maka sistem pengawasannya bagaimana. Dan yang paling penting dipahami masyarakat khususnya yang ada di Mappala ini adalah status elevasi aor sungai. Kuning itu bahwa kita harus waspada. Dalam kondisi waspada ini kita punya waktu dua jam untuk melakukan penyelamatan awal terhadap orang lanjut usia, ibu hamil, anak-anak di bawah usia lima tahun, dan tentunya penyandang disabilitas atau cacat. Itu dulu yang pertama kita selamatkan. Pada status orange atau siaga kita mulai selamatkan barang berharga dan dokumen-dokumen penting ini juga ada waktu dua jam mengamankan itu lalu kita ke status merah atau awas dimana di dua jam terakhir ini kita lakukan penyelamatan akhir di kawasan permukiman. Dimana dipastikan tidak ada warga tersisa. Semuanya sudah dievakuasi ke pengungsian,” ulas Lilik.
Sementara itu, Tada, JICA Expert on Conprehensive Disaster Risk Reduction, menjelaskan, Jepang dan Indonesia banyak kesamaan. Utamanya dalam status rawan bencana. Karena itu, JICA pun kata Dr Tada berkomitmen bekerjasama dengan pemerintah Indonesia melalui BNPB melakukan edukasi peringatan dini bencana.
Kegiatan latihan peringatan dini bencana ini dipusatkan di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan difokuskan dititik rawan bencana banjir, yakni di Kelurahan Pangkabinanga, Kecamatan Pallangga.
Gubernur Sulsel diwakili Asisten Bidang Ekonomi, Muh Pirda, mengatakan, terjadinya bencana itu tidak dapat diprediksi. Bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Dikatakan, Sulsel termasuk daerah yang rawan bencana.
Sulsel adalah daerah yang curah hujannya tinggi saat musim hujan. Padatnya lahan permukiman di Sulsel, sehingga memberi andil berkurangnya daerah resapan air yang kemudian berpotensi menimbulkan kantong-kantong air dan membuat genangan.
Sementara itu, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Gowa, Muchlis mewakili bupati Gowa dalam latihan pra bencana yang turut dihadiri Syamsu Niang, anggota Komisi VIII DPR RI, Kementerian PUPR, Kadis BPBD Gowa, Ikhsan Parawansyah, Kadis Damkar Gowa, Rostam Razak, Forkopimda Gowa, Camat Pallangga, Muh Taufik Akib, serta Lurah Pangkabinanga, Muh Syahrir tersebut, menyampaikan apresiasinya kepada pihak BNPB serta JICA yang memilih Kabupaten Gowa sebagai lokus latihan peringatan dini bencana tersebut.
Muchlis pun berharap agar masyarakat setempat sebagai korban terdampak banjir tahun lalu dapat mengambil pembelajaran bahkan memiliki pengetahuan tentang bagaimana sistem penyelamatan awal sebelum bencana terjadi. (sar/mir)



Comments

To Top