Headline

Biasa Memancing di Laut untuk Lauk Keluarga


Remaja yang Lehernya Ditembus Moncong Ikan Sori Membaik

DI Ruang Perawatan Lontara 3 kamar 4 kelas III Rumah Sakit Umum Pusat dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Selasa (21/1). Seorang remaja berbaju kotak-kotak berwarna terang dan mengenakan sarung biru terbaring di atas tempat tidur.
Dia adalah Muh Idul. Berasal dari Desa Wakinamboro, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Remaja berusia 16 tahun ini telah menjalani masa kritisnya usai menjalani operasi.
Dokter berhasil mengeluarkan moncong ikan sori berukuran besar yang menancap dan tembus di lehernya. Bekas luka itu telah dipasangi perban. Infus juga masih melengket di tubuh Idul.
Peristiwa tragis itu bermula ketika Idul dan lima orang temannya bermaksud menangkap ikan di laut. Setiap hari Sabtu dan Minggu, mereka memang kerap melakukannya. Biasanya dari sore pukul 17.00 Wita hingga tengah malam pukul 24.00 Wita.
Saat itu, empat orang rekannya lebih memilih berada di pesisir. Mereka menangkap kepiting. Sedangkan Idul dan satu temannya lagi bersama-sama menumpangi perahu menuju ke tengah laut untuk memancing ikan.
“Memang mereka sering pergi main-main sekaligus tangkap ikan di laut. Enam orang sama temannya. Cuman yang naik perahu dia (Idul) dengan satu temannya,” ungkap Ernawati, tante Idul yang menemaninya di RS Wahidin, kemarin.
Ketika berada di tengah laut, lanjutnya, Idul terkena tusukan moncong ikan di lehernya. Peristiwanya berlangsung pukul 22.00 Wita. Saat itu juga ia jatuh ke laut. Selanjutnya ditolong oleh temannya dan dibawa ke pinggir laut.
”Kita juga tidak tahu bagaimana kejadiannya sehingga bisa tertusuk mulut ikat seperti itu. Karena temannya cerita, bilangnya begini dan begitu. Ikan seperti ini memang selalu melompat kalau melihat cahaya. Ada temannya yang bilang, waktu kejadian ada yang menyalakan senter ke arah Idul, sehingga ikan itu melompat dan menusuk leher korban,” jelas Ernawati.
Sesaat setelah kejadian, teman-teman Idul tidak berani membawanya pulang dengan kondisi leher tertancap moncong ikan sori. Namun, Idul berusaha meyakinkan teman-temannya bahwa dirinya harus pulang dan mendapatkan pertolongan secepatnya.
“Mungkin temannya takut. Tapi anak ini (Idul) bilang, bawa saya pulang ke orangtuaku. Makanya, waktu pulang dia sudah pegang terus ikan di lehernya. Selanjutnya kita bawa ke RS Siloam, Bau-bau,” bebernya.

Pada pukul 00.00 Wita, Idul akhirnya dirujuk ke RSUP Wahidin Sudirohusodo. Pukul 02.00 Wita, ia berangkat menuju Makassar dan selanjutnya dilakukan operasi bedah. Di RS, Idul ditangani langsung dr Rasyanti.
“Jam 12 malam kita keluar dari RS Siloam dan terbang ke Makassar,” kata Ernawati.
Idul adalah anak kedua dari empat bersaudara. Bapaknya seorang buruh bangunan dan jarang berada di rumah. Sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga biasa.
Saat ini Idul duduk di bangku kelas II SMP Negeri 3 Sioumpu. Oleh teman-temannya, ia dikenal super aktif dan kuat. Biasa ke laut memancing untuk mencari lauk guna dimakan bersama keluarganya.
”Saya kebetulan lagi di rumah. Baru pulang kerja. Katanya pas ditusuk itu, dia jatuh ke laut terus berenang sambil pegang di perahu. Tangannya yang satu memegang ikan di lehernya. Temannya yang bawa ke rumah. Saya kaget dan langsung dibawa ke rumah sakit,” tutur ayah Idul, Saharuddin Lakudu.
Menurut Saharuddin, dirinya sudah sering melarang anak laki-lakinya itu bermain terlalu jauh di laut. Tapi dirinya tidak bisa mengontrol, sebab dirinya harus kerja.
“Biar dilarang kalau anaknya mau. Biasanya dia bawa pulang ikannya untuk dimakan sehari-hari,” katanya.
Untuk biaya perawatan di RS, ayah Idul mengaku mengandalkan BPJS. Hanya saja, untuk uang transportasi bisa sampai ke Makassar, Saharuddin yang terbatasa dalam hal ekonomi, mendapat bantuan dari om dan tante Idul
“Biaya ke sini itu mahal. Saya ada tiga orang. Untung ada omnya. Ada juga bantuan dari orang yang datang menjenguk” imbuhnya.
Usai menjalani operasi, kondisi Idul mulai berangsur membaik. Sempat mengalami pembengkakan, namun sudah diberikan obat oleh dokter.
BKM sempat berbicara sedikit dengan Idul. Sambil berbaring, ia mengaku memang sering memancing di laut bersama teman-temannya. ”Biasanya bisa mengumpulkan 30 ekor atau lebih,” ujarnya.
Apakah ia trauma pergi memancing di laut setelah kejadian yang dialaminya? ”Tidak tahu (trauma),” ujarnya. Lehernya masih terasa sakit ketika berbicara. (ita/rus)



Comments

To Top