Sulselbar

Mulai Jualan Hijab Sejak Ayah Meninggal


Ismiati Sirajuddin, Mahasiswi yang Raup Untung dari Bisnis Daring (1)

BKM/ARDHITA ANGGRAENI JUALAN HIJAB-Ismiati Sirajuddin dengan hijab yang dipasarkannya melalui daring.

DALAM keterbatasan, banyak orang yang berusaha untuk terus bertahan hidup. Peluang dijajaki. Belajar berbisnis menjadi salah satu pilihan.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

NAMANYA Ismiati Sirajuddin. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Sehari-harinya ia lakoni antara kuliah dan berjualan melalui daring alias online.
Sejak lima tahun silam, cewek kelahiran Jeneponto, 14 September 1996 ini sudah harus bekerja keras menghidupi dirinya untuk bersekolah, bahkan hingga lanjut kuliah di Makassar.
Di tengah keterbatasan, ia mencoba beberapa pekerjaan. Ia menyelinginya dengan bersekolah sampai kuliah. Pekerjaan ibunya yang hanya katering, menjadi pemicu Mia –sapaan akrabnya– untuk bisa mencari uang sendiri. Sampai pada akhirnya dia membuka usaha berjualan hijab, tentu dengan modal tidak seberapa.
“Awalnya tidak terpikir mau buka usaha atau bekerja. Saya sama seperti anak-anak lainnya. Ketika itu bapak masih ada. Tapi setelah beliau meninggal, semua berubah. Ibu sudah harus berkerja menghidupi tiga anaknya. Saya dan kakak membantu dengan berjualan kue. Kita tiap hari menabung untuk sekolah. Sampai kita berdua memutuskan buka usaha hijab ini juga sama-sama,” terang Mia yang ditemui di rumah butik olshopnya, kemarin.
Sejak dirinya beranjak remaja, Mia sudah ditempa untuk memiliki tanggug jawab terhadap keluarga. Melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi, diakuinya tidak hanya butuh perjuangan, namun juga materi.
“Alhamdulillah, saya mampu yakinkan orang tua kalau saya bisa kuliah dengan mendapatkan beasiswa. Awalnya, saya dan kakak punya usaha, tapi tidak banyak stoknya. Hasil itu kita putar dan jadikan modal. Sempat berhenti karena terbentur dengan kuliah saya,” bebernya.
Mia kemudian melanjutkan bisnisnya itu di tahun 2014, sambil ia kuliah di Makassar. “Saya kebetulan kuliah di UMI yang mewajibkan untuk memakai jilbab. Menurutku juga, jilbab itu kebutuhan bagi seorang muslimah. Saya melihatnya sebuah peluang usaha untuk membuka olshop, atau membuka booth di event kampus maupun di luar kampus,” jelasnya.
Untuk urusan lainnya, Mia merasa banyak terbantu dengan peran kakaknya yang awalnya sudah jauh lebih awal terjun berbisnis olshop. “Kendalanya mungkin tidak ada, karena saya modalnya dari hasil jual baju dan hijab preloved yang terkumpul Rp750 ribu. Itu yang saya pakai memulai usaha. Kalau yang memotivasi saya untuk berbisnis itu adalah kakak saya. Memang dia sudah lebih dulu menggeluti usaha ini,” akunya.
Dari usahanya, Mia yang dulunya hanya mendapatkan Rp500 ribu-Rp1 jutaan per bulan, kini sudah meraup untung hingga Rp10 juta lebih. Koleksi hijabnya pun beraneka macam, seperti pashmina dan jilbab segitiga, serta pakaian. (*)



Comments

To Top