Headline

Hasto: Stunting Ancaman Bonus Demografi


MAKASSAR, BKM — Stunting atau biasa dikenal dengan kekerdilan merupakan kondisi di mana tubuh anak tidak tumbuh sesuai dengan umurnya, yaitu lebih pendek bahkan sangat pendek. Hal ini disebabkan kurangnya asupan gizi pada janin ketika masih di dalam kandungan.
Untuk mencegah stunting pada anak harus dimulai di 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak anak masih dalam kandungan hingga usia 2 tahun.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, mengungkapkan hal itu ketika memberi materi pada seminar nasional kesehatan bertema; Stunting Ancaman Bonus Demografi. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Al-Jibra, kampus UMI Makassar, Minggu (12/1).
Seminar dilaksanakan Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (Himakesmas FKM UMI). Dihadiri mahasiswa dan tenaga kesehatan di Makassar, seminar membahas permasalahan stunting di Indonesia.
Lebih jauh dijelaskan Hasto, Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2 persen. Sedangkan pada tahun 2018, prevalensi stunting menurun menjadi 30,8 persen. Artinya, 3 dari 10 anak Indonesia usia di bawah 5 tahun mengalami stunting.
Hasto menjelaskan, stunting saat ini masih menjadi salah satu ancaman bagi anak Indonesia. Selain membawa dampak negatif tidak pada hidup anak, juga menjadi ancaman bonus demografi.
“Untuk itu, BKKBN bekerja di hulu dengan mengoptimalkan pengasuhan di 1.000 hapi Pertama kehidupan (HPK) untuk mencegah terjadinya stunting pada anak,” ungkap mantan bupati Kulonprogo ini.
Dalam pengasuhan 1.000 HPK, BKKBN mendapat peran untuk melaksanakan tugas pemberdayaan keluarga, yaitu pengasuhan yang dilakukan saat kehamilan sampai dengan anak berusia 2 tahun setelah kelahiran.
Orang tua, lanjut Hasto, harus mempersiapkan kesehatannya, agar stunting tidak terjadi pada anaknya kelak. “Stunting dapat dicegah dimulai dari masa remaja, di mana seorang remaja dapat mempersiapkan dan merencanakan masa depan dan kehidupan berkeluarganya dengan pemenuhan gizi yang tepat semasa remaja,” tutur Hasto.
Tidak terpenuhinya salah satu komponen zat gizi pada masa remaja, khususnya remaja putri sebagai calon ibu, dapat mengakibatkan stunting pada bayi yang dilahirkan nanti. Sedangkan tidak optimalnya pemberian stimulasi pada periode 1000 HPK berdampak pada terhambatnya kemampuan otak anak untuk menangkap dan mengolah informasi secara tepat di masa mendatang.
Untuk itu, Hasto menegaskan sangat penting mengatur jarak kelahiran anak. ”Jarak yang tidak terlalu dekat memungkinkan kita untuk memberikan ASI secara 2 tahun penuh kepada anak. Dengan mengatur kelahiran anak akan mendapatkan asupan gizi dan ASI, serta kasih sayang yang cukup,” imbuhnya.
Stunting, menurut Hasto, dapat dicengah dengan menghindari faktor empat terlalu. Yaitu, terlalu muda melahirkan, terlalu tua melahirkan, terlalu banyak melahirkan, dan terlalu sering melahirkan.
“Jarak kelahiran antaranak yang baik paling tidak adalah tiga tahun. Selain mencegah stunting, pengaturan jarak ini juga dapat mencegah risiko kematian ibu dan bayi,” tandas Hasto.
Turut hadir sebagai narasumber lainnya, anggota Komisi IX DPR RI Ashabul Kahfi, Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Bachtiar Baso, Wakil Dekan I FKM UMI M Ikhtiar, serta Eha Sumantri dari Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi).
Kahfi dalam kesempatan itu mengemukakan, ada lima pilar penting yang harus dilaksanakan agar semua program pengentasan stunting bisa sukses dan berjalan. Yakni komitmen presiden, kampanye, konvergensi program, akses pangan bergizi dan monitoring evaluasi program.
Dalam kesempatan yang sama, Plt Kadis Kesehatan Sulsel Bachtiar Baso menjelaskan salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Tujuannya agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal disertai dengan kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang sehat.
Pengentasan stunting di Sulawesi Selatan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai sektor pemerintah dan kampus. “Saya mendapat informasi jika BKKBN sangat intens berperan melakukan penanganan stunting di berbagai daerah, khusunya di Kabupaten Enrekang dan Bone,” jelas Bachtiar. (rls)


Comments
To Top