Headline

Dipecat karena Poligami, Mantan Polisi Jual Sabu


IST PESTA SABU-AM (kiri) dan As dihadirkan dalam rilis kasus di halaman Polres Gowa, Senin (13/1).

GOWA, BKM — Dua orang berbaju kaos warna oranye digiring ke halaman Mapolres Gowa, Senin siang (13/1). Satu berambut gondrong dikuncir mengenakan celana prasut warna biru tua. Satunya lagi berkepala plontos bercelana training hitam.
Lelaki rambut panjang itu berinisial AM. Berusia 41 tahun. Ia mantan personel kepolisian yang pernah bertugas di Polres Bombana, Sulawesi Tenggara. Ia dipecat dari keanggotaan polri pada tahun 2017. Penyebabnya, AM melakukan praktik poligami. Sementara pria lainnya berinisial As (40) yang berprofesi sebagai mekanik. ”Saya dipecat karena poligami,” ujar AM kepada wartawan.
Personel Satuan Reserse Narkoba Polres Gowa meringkus keduanya terkait penyalahgunaan narkoba jenis sabu. Dari hasil pemeriksaan, AM mengakui jika pilihannya menjadi pengedar berawal ketika ia mulai menyukai barang haram tersebut usai terkena sanksi pemecatan.
Kini, pria yang menjadi polisi di tahun 1997 itu kini harus merenungi nasibnya di balik sel tahanan Polres Gowa. Keduanya diringkus ketika tengah berpesta sabu di rumah As.
Kedua pria ini memang berperan sebagai pengedar sekaligus pemakai. Sabu yang dijualnya diperoleh dari seorang bandar. Uniknya, karena bandarnya selama ini ditahan di Rutan Klas II Makassar.
Menurut pengakuan As, dia dan AM diarahkan oleh sang bandar dari tahanan untuk menjemput barang. Selanjutnya dibawa untuk dijual. AM dan As dibekuk Kamis (9/1) pukul 11.30 Wita di rumah As di Dusun Sarite’ne, Desa Bilibili, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. AM sendiri bertempat tinggal di Kelurahan Bontoparang, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.
Dari tangan As dan AM, polisi menyita sejumlah barang bukti. Masing-masing 13 saset berisi kristal bening yang diduga narkotika jenis sabu. Dua saset bening kosong. Dua pack plastik bening kosong. Sebuah alat isap sabu lengkap dengan kaca pireks. Tiga buah korek api. Satu sendok plastik dan satu bungkus rokok.
Kasatres Narkoba Polres Gowa AKP Maulud, menjelaskan penangkapan kedua pelaku berawal dari informasi tentang adanya satu rumah dijadikan tempat transaksi narkoba. Polisi kemudian turun melakukan penyelidikan. Selanjutnya, rumah As digerebek. Pemilik rumah bersama rekannya AM yang tengah menikmati sabu langsung dibekuk.
Polisi lalu melakukan penggeledahan. Di badan mereka ditemukan berbagai barang bukti. Aparat kemudian masuk ke dalam kamar. Kembali didapati barang bukti lainnya.
”Dari pengakuan pelaku, mereka menjual sabu kepada masyarakat umum. Khususnya sopir truk,” ujar AKP Maulud didampingi Kasubag Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan.
AKP Maulud menguraikan modus kedua pelaku kala melakukan aksinya. Mereka menjual sabu dengan menerima pesanan melalui telepon. Transaksi kemudian dilakukan di rumah pelaku.
“Pelaku membeli sabu untuk dipasarkan melalui pesanan telepon ke seorang napi yang ternyata adalah bandar mereka di Lembaga Pemasyarakatan Makassar,” terangnya.
Dari pengakuan As, ia menjual sabu sejak 2019 lalu. Kepada para sopir truk ia memasang harga Rp100.000 per saset. Transaksinya juga biasa dilakukan di pinggir jalan.
“Sekali memesan sabu seberat 1 gram dan dibeli seharga Rp1 juta. Kemudian dikemas dalam bentuk saset kecil lalu diperjualbelikan. Untuk As dan AM ini dijerat Pasal 112 UU No 35 tahun 2009 ancaman hukuman minimal 4 tahun penjara,” tambah AKP Mangatas Tambunan. (sar/rus)


Comments
To Top