Metro

Harapan Besarnya Bisa Merubah Nasib Keluarganya


Abdullah Penarik Retribusi Pajak di Pasar Daya (2-Habis)

BKM/ARDHITA IKHLAS--Abdullah mengaku senang dan ikhlas bekerja sebagai penarik pajak atau retribusi di Pasar Daya. Menurutnya, ia tidak punya keahlian lain untuk bekerja, sehingga petugas pemungut retribusi ia kerjakan maksimal.

DICELAH dan dianggap sebelah mata sudah tidak dipedulikan lagi oleh Abdullah. Sebab, harapannya hanya semata-mata menghidupi keluarga kecilnya di rumah.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Apalagi, di dalam hatinya tersimpan prinsip, kalau nasib orang tidak ada yang tahu.
Meskipun tinggal mengkontrak bersama istri, tiga orang anak dan orangtuanya, Abdul sapaan akrabnya tetap semangat dan giat mencari rezeki sebagai penarik retribusi di Pasar Daya Makassar. Meskipun anak-anaknya sering diusik oleh tetangga, kalau pekerjaan Abdul hanya sebatas penarik retribusi.
“Saya bilang ke anak jangan malu jika apa yang kita lakukan tidak merugikan orang lain. Menarik pajak seperti ini sudah kewajiban saya, yang mau masuk memang diwajibkan bayar retribusi begitu juga pedagang. Kalau saya dibilangi preman atau tukang tagih-tagih tidak apa-apa karena itu sudah tugasku memang,” ungkapnya, kemarin.
Diukur secara finansial, Abdul bukanlah apa-apa karena status sosialnya. Namun dibalik itu, ia masih mampu menyekolahkan anaknya hingga saat ini, jika dibandingkan dengan teman-teman sesama penarik retribusi yang tidak bisa menyekolahkan anaknya karena keterbatasan dana.
“Meski kurang, saya bisa ji sekolahkan anak. Saya tidak mau anak saya sama dengan anak-anak di pasar yang tidak sekolah. Saya tidak mau anak saya sama dengan nasib orangtuanya, biar saya saja seperti ini,” ujarnya.
Bagaimana tidak, sejak kecil Abdul sudah dibesarkan dan didik bagaimana hidup mandiri. Di umur masih kecil harus mengumpulkan uang, sebelum menjadi petugas penarik retribusi pajak, ia sudah merasakan menjadi tukang bangunan, buruh, hingga tukang sapu pasar.
“Saya sudah rasakan itu bagaimana kerja-kerja berat. Digaji Rp20 ribu sampai Rp50 ribu itu suda pernah saya alami, itu kalau dulu. Jadi susah hidup itu kalau dulu, berat sekali. Cukup mi saya saja anak tidak usah kasian,” bebernya.
Harapan terkecilnya saat in, bagaimana nasib keluarganya suatu saat nanti bisa berubah lebih baik lagi. “Kita punya nasib mau jadi apa nanti tidak ada yang tahu, syukuri saja siapa tahu nanti bisa jadi kepala pasar atau apa-apa nanti kan tidak tahu. Yah begini hidup kita syukuri saja,” katanya.
Setiap hari pria berumur 42 tahun ini sudah mulai berjaga di pintu masuk Pasar Daya mulai pukul 05.00 pagi hingga pukul 18.00 sore. Banyaknya tuntutan kerja dan target yang diberikannya, membuat dirinya mengakui bekerja sebagai -retribusi pasar bukanlah pekerjaan mudah.
“Dari pagi saya sudah keluar sampai jam 6 sore berjaga. Kalau sudah puggut dari pedagang, saya setor baru berjaga disini lagi. Kadang kita juga sering bertengkar dengan pedagang atau pembeli, tapi ini kewajiban saya untuk menjalankannya karena setiap hari retribusi itu harus disetor,” ungkapnya.
Diupah sebesar Rp800 ribu setiap bulan di luar dari punggutan retribusi, diakui Abdul tidak sebanding dengan kerjanya memunggut pajak pasar. Walaupun begitu diakuinya, tetap ia syukuri dikarenakan tidak adanya keahlian lain dimilikinya.
“Kalau kita mau hidup dari upah tiap bulan tidak bisa kodong. Seperti ini tiap pembeli masuk kita kasih karcis Rp2.000 perkendaraan, pedagang juga begitu. setiap hari saya mengumpulkan retribusi sampai R 750.000 per hari, disitu biasa kami dapat upah lebih,” bebernya.
Memungut pajak retribusi juga diakui bapak tiga orang anak ini tidak semudah yang dipikirkan. Dimana terkadang ia harus bertengkar dengan pedagang ataupun ditabrak oleh penggunjung pasar yang ogah membayar pajak masuk pasar sudah menjadi makanan Abdul.
“Biasa itu, tapi kita tetap kasih mereka karcis masuk karena nanti saya ditegur kalau mereka tidak bayar karcis. Awal ji dulu sering (bertengkar) karena masih baru, tapi pedagang sini sudah tahu semua harus setor setiap hari atau perbulan,” bebernya. (*)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top