Headline

Sempat Antar Korban ke RS lalu Menghilang


Paman Lempar Ponakan Hingga Tewas

MAKASSAR, BKM — Suara teriakan histeris meminta tolong seorang bocah laki-laki terdengar. Beberapa orang datang. Mereka mendapati seorang anak dalam kondisi tak sadarkan diri. Di tubuhnya terdapat sejumlah luka.
Ia lalu dievakuasi ke Rumah Sakit Sayang Rakyat. Namun Tuhan berkehendak lain. Oleh tim medis, bocah berusia 14 tahun yang belakangan diketahui bernama Fikram itu dinyatakan meninggal dunia. Ia mengembuskan napas terakhir sebelum tiba di rumah sakit.
Peristiwa itu berlangsung Sabtu sore (30/11) sekitar pukul 15.30 Wita. Lokasinya di kawasan proyek PT Al Min Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.
Tak lama setelah kejadian, aparat kepolisian tiba di lokasi. Selanjutnya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Disamping itu mengumpulkan keterangan saksi-saksi.
Hasilnya, terkuak bahwa Fikram tewas setelah dianiaya oleh orang terdekatnya. Polisi pun mengantongi identitas pelaku, yang tak lain adalah pamannya sendiri berinisial R. Petugas masih melakukan pengejaran terhadapnya.
Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Indratmoko menjelaskan, pihaknya telah meminta keterangan empat orang saksi terkait kasus ini. Masing-masing Randi (24), Mardas (31), Arfah (30), dan Ahmad (40). Mereka adalah pekerja proyek yang sementara bekerja dan mendengar teriakan minta tolong dari korban.
”Ada empat saksi yang telah diperiksa. Dari keterangannya, korban disebutkan meninggal dunia setelah dianiaya. Mereka mendapat informasi dari pihak Rumah Sakit Sayang Rakyat. Penyebabnya, terdapat luka pada bagian telinga yang mengakibatkan pembuluh darah korban pecah,” jelas Indratmoko, Minggu (1/12).
Awalnya, menurut Indratmoko, saksi Randi mendengar suara korban yang berteriak meminta tolong. Ia lalu bergegas mendekatinya. Didapati Fikram dalam kondisi pingsan.
Randi kemudian berusaha meminta bantuan rekannya yang lain. Tak lama datanglah rekannya bernama Mardas dan Ibnu. Ketiganya lalu membawa korban ke tempat teduh. Mereka lalu memeriksa tubuh Fikram. Randi melihat ada luka bengkak pada bagian belakang telinga kiri korban.
Saksi Mardas dalam keterangannya, menjelaskan bahwa dirinya mengetahui korban ditemukan pingsan setelah mendapat informasi dari Randi. Mardas juga mengaku bersama terduga pelaku R, ketika ia dan rekannya membawa korban ke RS Sayang Rakyat.
”Mardas juga ikut ke rumah sakit. Ia juga sempat berbicara dengan dokter. Disampaikan bahwa korban sudah meninggal dunia sebelum sampai di rumah sakit, akibat luka bengkak pada bagian belakang telinga kiri. Ada pembuluh darah yang pecah. Mulutnya juga mengeluarkan busa,” jelas Kasat Reskrim menirukan pengakuan Masdar.
Pengakuan senada disampaikan saksi Arfah. Bahkan, kata dia, terduga pelaku R meminjam motornya lalu mengevakuasi korban ke rumah sakit. Selanjutnya mereka bersama-sama membawa korban ke rumah sakit. Setelah itu R menghilang.
Saksi lain bernama Ahmad, mengaku melihat korban terjatuh. Pada saat bersama tampak batu di depannya.
“Saksi Ahmad yang tengah bekerja berjarak 10 meter dengan korban. Ia melihat korban jatuh, lalu berteriak minta tolong. Saksi kemudian memberikan pertolongan,” ujarnya.
Ahmad mengungkapkan, saat kejadian Fikram dan R terlihat saling bercanda. Namun, tidak lama kemudian R marah-marah. Kemungkinan ada kata-kata kotor yang menjadi pemicunya. Hingga akhirnya R melemparinya dan terjatuh,” terang Indratmoko.
Meski keluarga korban menolak untuk dilakukan otopsi, namun petugas kepolisian tetap mendalami penyebab kematian Fikram. Ia meninggal dunia diduga akibat terkena pukulan benda tumpul. (ish/rus)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top