Headline

Piring Hingga Pisau Seharga Rp353 Juta


Penghias Lantai Rujab Gubernur Rp404 Juta

MAKASSAR, BKM — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel betul-betul membahas Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Sulsel tahun 2020 secara maraton. Hanya dalam hitungan tiga hingga empat hari, pembahasannya telah rampung di tingkat komisi.
Hingga Kamis (28/11), rapat lima komisi bersama 54 organisasi perangkat daerah (OPD) mulai memasuki tahap pembahasan di badan anggaran (Banggar). Dipimpin politisi PDIP Rudi Pieter Goni (RPG) dan Partai Golkar Fachruddin Rangga.
Pemprov Sulsel mengusulkan belanja perlengkapan rumah tangga sebesar Rp5,7 miliar. Item belanja terdiri dari berbagai jenis perabot atau peralatan untuk rumah jabatan gubernur, wakil gubernur, dan sekretaris provinsi. Belanja tersebut diusulkan Biro Umum Pemprov di komisi A DPRD Sulsel.
Pantauan BKM kemarin, para pimpinan alat kelengkapan dewan (AKD) sedang menggelar rapat tertutup guna finalisasi. “Kami akan rapat,” ujar RPG.
Sehari sebelumnya, lima komisi menggelar rapat dengan OPD hingga pukul 22.00 Wita. Anggota dewan mempertanyakan mengapa belanja perabot kembali dianggarkan di masa pemerintahan Gubernur Nurdin Abdullah. Padahal di akhir masa jabatan Gubernur Syahrul Yasin Limpo pernah diajukan anggaran pembelian untuk item yang hampir sama.
“Hampir semua item peralatan rumah tangga, aset yang selama ini ada, diadakan di akhir masa jabatan Pak Syahrul. Masuk gubernur baru, diadakan lagi. Lalu dikemanakan aset yang diganti?” tanya legislator Fraksi Partai Demokrat Rismayanti Kadir Nyampa dalam rapat, Rabu malam (27/11).
Berdasarkan rencana kerja dan anggaran (RKA) yang diajukan Biro Umum Pemprov, terdapat berbagai macam item perabot rumah tangga yang masuk. Seperti ranjang dan kasur, lemari, meja, sofa, piring, dan gelas. Lalu ada karpet, gorden, serta lain-lain.
Pada salah satu item belanja, tertera rencana pengadaan piring, gelas, mangkok, cangkir, sendok, garpu, dan pisau. Nilai totalnya Rp353.237.900.
Item ini meliputi berbagai jenis pembelian. Misalnya, cangkir anchor hocking fire king untuk rujab wagub dengan nilai Rp2,7 juta per lusin. Karena dianggarkan pembelian delapan lusin, nilai totalnya mencapai Rp21 juta lebih.
Ada pula item pengadaan penghias lantai senilai Rp404 juta lebih. Meliputi pembelian satu set karpet rujab gubernur senilai Rp200 juta, satu paket karpet rujab wagub Rp125 juta, dan sejumlah item lainnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Umum Pemprov Idham Kadir, menjelaskan bahwa belanja perabot rujab dianggarkan sesuai kebutuhan. Menurut dia, semua barang telah diusulkan dengan nilai sesuai harga standar biaya yang ditetapkan lewat peraturan gubernur. Pengadaan perabot, menurutnya, wajar dilakukan oleh pejabat baru. Dia mencontohkan pembelian ranjang dan kasur baru untuk gubernur, wakil gubernur, dan sekprov.
“Tempat tidur, siapa pun pimpinan pasti mengganti. Saya rasa begitu,” ujar Idham.
Untuk pengadaan perabot rujab dalam APBD Sulsel tahun 2019, Biro Umum mengajukan anggaran belanja sebesar Rp4,8 miliar lebih. Lalu, bagaimana nasib perabot lama peninggalan pejabat sebelumnya?
Idham memastikannya tidak dibuang. Barang-barang perabot rujab yang tidak terpakai lagi, kata dia, disimpan di gudang.
“Kita tidak bisa lelang, karena belum sampai berapa tahun. Kecuali tidak layak lagi, dilakukan pemusnahan,” ucapnya.
Ketua Komisi A DPRD Sulsel Selle KS Dalle mengatakan, belanja perabot dianggarkan untuk digunakan pada masa pemerintahan Gubernur Nurdin Abdullah. Anggaran belanja dianggap wajar, meski sebagian besar item belanja pernah dianggarkan pada akhir jabatan gubernur sebelumnya Syahrul Yasin Limpo.
“Kalau mau bicara efisiensi, semua yang masih layak tetap dipakai.Tapi saya lihat tidak ada kepala daerah yang mau pakai bekasnya orang lain,” ujar Selle, kemarin.
Menurut Selle, pengadaan perabot rujab sudah biasa terjadi. Terlebih pada awal masa jabatan kepala daerah. Tak hanya di Sulsel, hal serupa disebut juga terjadi di mana-mana.
“Ini memang menjadi budaya. Feng shui-nya mungkin. Semua pejabat baru saya lihat begitu, rata-rata tidak mau pakai gelas bekas, piring bekas, tempat tidur bekas. Ada bahkan beberapa kepala daerah, biar kursi pun tidak mau bekas,” ucapnya.
Saat ini, RAPBD Sulsel akan dibahas melalui finalisasi di tingkat banggar. Selle mengakui ada sejumlah item yang mencolok. Namun sebagian besar dianggap sudah wajar. Dia mencontohkan item pembelian satu paket gorden rujab gubernur senilai Rp200 juta lebih.
“Sebagian memang ada yang nampak mencolok, dan mungkin bisa dirasionalisasi. Makanya saya bilang, tolong diperhatikan apa yang menjadi saran tim TAPD,” pinta Selle.

Perjalanan Dinas 193 Kali

Adapun untuk perjalanan dinas gubernur dan wakil gubernur pada tahun 2020 akan berlangsung selama 193 kali. Masing-masing untuk gubernur dan wagub tiga perjalanan, yakni dalam daerah, luar daerah, dan luar negeri.
Komisi A DPRD Sulsel melalui anggotanya Anwar A Recca juga mempertanyakan perjalanan dinas tersebut ke Biro Umum untuk dijelaskan secara detail.
Dari draft yang dilihat tampak gubernur akan memanfaatkan 115 kali perjalanan, wagub 78 kali, termasuk para ajudannya.
Menurut Idham Kadir, perjalanan dinas tersebut sudah sesuai dengan aturan yang ada. “Itu semua perjalanan dalam setahun, dan akan dikali tiga hari. Termasuk untuk masing-masing ajudan,” katanya.
Ketua Komisi A DPRD Sulsel Selle KS Dalle pun mengamini bahwa perjalanan dinas tersebut sudah sesuai. Tidak ada yang harus dipermasalahkan.
“Saya kira sudah sangat rasional, baik anggaran dan asas kemanfaatan perjalanan dinas gubernur dan wagub,” ucap Selle. (rif)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top