Headline

Menerka Siapa Jadi 02 di Pilwali


MAKASSAR, BKM — Siapa yang akan menjadi calon 01 di pilwali Makassar 2020 mendatang sudah mengerucut. Moh Ramdhan Pomanto, Munafri Arifuddin, Irman Yasin Limpo, dan Samsu Rizal digadang-gadang jadi cawali yang akan diusung partai politik. Sementara untuk jalur perseorangan, Syarifuddin Dg Punna bakal maju sebagai cawali.
Lalu siapa yang akan menjadi calon wakil wali kota? Sejumlah kandidat yang dihubungi, terkesan masih menutup diri untuk mengakui akan maju sebagai 02.
Seperti politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Dr Andi Yagkin Padjalangi. “Masih panjang. Nanti bulan Juni baru pendaftaran di KPU. Kepastiannya setelah ada hasil survei internal,” ujar Andi Yagkin yang pernah tercatat sebagai anggota DPRD Sulsel tiga periode, Kamis (7/11).
Balon wali kota Muhammad Ismak juga akan menyebut pada Desember nanti. “Sebenarnya tentang pasangan baru akan fokus di bulan Desember hingga Januari nanti. Saat ini masih terus menyerap aspirasi warga, dan tentunya sambil memperkenalkan diri langsung ke warga,” jelas Ismak.
Soal kriteria pasangan, menurut Ismak, yang paling utama adalah bisa satu prinsip dengan isu yang selama ini dibawa dalam sosialisasi. “Itu yang tidak bisa ditawar-tawar sebenarnya. Misalnya menjalankan politik tanpa jual beli suara. Mengembalikan demokrasi ke ruh sebenarnya. Mengubah pola pikir penguasa menjadi pelayan masyarakat,” terangnya.
Selain itu, lanjutnya, membangun kota dengan memperhatikan faktor kelayakan hidup dan lingkungannya. Pro kepada kota layak perempuan. Membangun kota tanpa menghilangkan kebudayaan warganya, serta membenahi kesemrawutan dan memberikan hak warga terhadap RTH.
Demikian pula kandidat dr Fadli Anada. Ia tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.
“Pendamping kita tetap melihat hasil survei nanti. Insyaallah bulan Desember makin mengerucut siapa-siapa yang bakal bertarung di pilwali nanti,” jelas dr Fadli.
Nurmal Idrus dari Nurany Strategic, mengemukakan agak sulit untuk menerka komposisi pasangan saat ini. Itu karena banyaknya figur yang berminat bertarung.
Selain itu, ada banyak kepentingan yang bermain. Karena semua figur rerata punya king maker di belakangnya.
“Jadi, penentuan pasangan nanti para king maker lah yang berperan besar. Maka kemungkinan munculnya paslon ‘kawin paksa’ berpeluang terjadi. Mereka berpasangan tapi tak cinta. Itu bisa berakibat buruk di belakang hari. Menurut saya, figur-figur di posisi atas masih ditempati top four, yaitu Danny, Deng Ical, Appi, dan None,” terang Nurmal
Ia melanjutkan, agak sulit untuk menyebut bahwa akan ada figur baru yang menyaingi keempatnya. Figur-figur di posisi kedua seperti dr Onasis, dr Fadli, Sukriansyah, Sadap, dan lain-lain masih sulit untuk menyaingi top four itu.
Dedy Alamsyah Mannaroi dari Duta Politika Indonesia (DPI), menilai jika None bisa saja berpasangan dengan kalangan muda dari partai. “Kemungkinan bisa saja pasangan dengan Waris Halid, Nurhaldin Halid, atau Zunnun Halid. Sementara Deng Ical bisa juga berpasangan dengan Syarifuddin Daeng Punna, atau dr Faldi Ananda,”ujar Dedy.
Dedy juga memberi gambaran bila Mohammad Ramdhan ”Danny” Pomanto bisa saja berpasangan dengan dr Onasis.
Soal pasangan yang menempuh jalur perseorangan, Dedy mengaku jika peluangnya tidak begitu besar.
“Untuk independen saya pikir harus kerja keras, karena semua kembali lagi pada strategi mereka untuk mengelola pemilih,” ujarnya.

Tokoh Lama

Dosen politik Unismuh Makassar Luhur A Prianto, menyebut pilwali Makassar memang semakin dinamis. Ketiadaan tokoh-tokoh baru yang cukup kuat, membuka akses yang luas bagi para tokoh lama untuk mencoba kembali peruntungan di kontestasi. Mereka memanfaatkan betul momentum kepemimpinan transisi guna mendongkrak elektabilitas.
“Tanpa menafikan pergerakan elektoral figur-figur baru, setidaknya sudah ada poros kekuatan yang mulai mengerucut. Secara umum kekuatan tokoh-tokoh lama prospektif di kontestasi pilwali Makassar ini bisa di bedakan dalam empat poros utama. Figur dalam poros inilah yang berpotensi mencari calon wakil untuk menjadi pasangan kandidat,” jelas Luhur.
Menurutnya, simulasi-simulasi paket-paket pasangan biasanya menunggu hasil pergerakan elektoral. Momentum sekarang masih sementara berlangsung upaya peningkatan popularitas.
“Poros pertama ada mantan petahana Danny, yang telah memiliki kekuatan elektoral dan kinerja kepemimpinan yang sudah terukur. Kekuatan Danny masih sangat layak diperhitungkan dengan pengalaman kontestasinya. Meskipun tantangan utama bagi Danny adalah di proses kandidasi atau seleksi di partai politik. Danny punya pengalaman buruk soal ini. Aksesnya terbatas ke elit partai politik di tingkat nasional,” terang Luhur.
Poros kedua ada Deng Ical. Mantan wakil wali kota ini punya keistimewaan untuk menggunakan basis elektoral jejaring politik Ilham Arief Sirajuddin. Basis politik yang cukup spartan. Namun tantangan pada Deng Ical ada di soal merebut usungan partai politik. “Deng Ical harus punya kekuatan non-politik untuk diusung partai Golkar dan mencukupkan syarat dukungan partai. Ia perlu pasangan yang kuat untuk membantunya merebut kendaraan partai politik,” jelasnya.
Poros ketiga ada Munafri Arifuddin. Appi punya pengalaman merebut dukungan elit partai politik. Meskipun jejaring elektoralnya harus lebih kokoh untuk tidak mengulangi peristiwa kemenangan kotak kosong.
Tantangannya, Appi harus menjaga basis dukungan partai sekaligus memperluas basis dukungan pemilih. “Meskipun ia harus juga pandai mengatur posisi para avonturir politik, yang berasal dari kubu lawannya,” ucap Luhur.
Poros keempat yakni Irman YL atau None. Ia telah memiliki pengalaman kontestasi di pilwali. Ia paham peta dukungan. Hanya saja None harus menaklukkan tantangan sebagai penerus klan YL, yang kali ini tidak lagi bisa memanfaatkan mesin birokrasi.
“Di luar figur-figur itu, masih tersedia tokoh yang cukup potensial. Terutama untuk posisi sebagai calon wakil wali kota. Sementara peluang tokoh perseorangan tidaklah cukup prospektif, kecuali berstatus sebagai kandidat incumbent. Kandidat perseorangan adalah yang telah kalah dalam perebutan usungan di partai politik,” pungkasnya.
Dosen komunikasi dari UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhammad, juga menilai belum ada kandidat menguat akibat belum ada pasangan pasti. “Usungan partai juga riil. Padahal penentu adalah paket dan partai,” jelas Firdaus.
Sementara dosen politik Unibos Arief Wicaksono, berpendapat bila belum ada kecenderungan pasangan yang fiks saat ini. Karena memang hal itu juga sangat bergantung dari partai pengusung dan pendukung terlebih dahulu.
Menurutnya, beberapa simulasi memang wajar saja diprediksikan. Tetapi persoalan pasangan pilkada ini memang sangat dilematis. Salah satunya adalah potensi pecah kongsi di tengah jalan pada saat terpilih nantinya.
“Selain itu, tahapan pencalonan perseorangan/parpol juga dianggap masih bersoal pada beberapa penyesuaian regulasi yang terkait. Antara lain soal cuti/tidak cuti dari ASN/anggota DPRD/TNI-Polri dan lainnya. Jadi, kemungkinan besar, komposisi pasangan ini akan terlihat lebih jelas ketika tahapan sudah jelas,” ucap Arief. (rif)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top