Sulselbar

Oktober 2019 Mamuju Inflasi 0,14


PENJELASAN -- Kepala BPS Perwakilan Sulbar, Winrizal (tengah), ketika memberi penjelasan terkait inflasi dan deflasi.

MAMUJU, BKM — Kepala BPS Perwakilan Sulbar, Winrisal, SE. ME Sulbar, mengemukakan, hasil survei harga konsumen dari 82 kota di Indonesia pada Oktober 2019, telah menunjukkan 43 kota mengalami inflasi dan 39 yang mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,22 persen. Sedangkan deflasi terendah terjadi di Tual.
”Untuk inflasi di Mamuju pada Oktober 2019, itu terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan peningkatan indeks harga pada enam kelompok pengeluaran, yakni kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,24 persen serta perumahan, air, listrik, gas, serta bahan bakar 0,05 persen, sandang 0,16 persen, kesehatan 0,58 persen, serta pendidikan reaksi olahraga 0,82 persen,” beber Winrisal, kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (1/11).
Untuk perbandingan antarkota di Pulau Sulawesi, dari 11 kota yang terdapat di Sulawesi, lima kota mengalami inflasi dan enam kota mengalami deflasi. Sedangkan terendah itu terjadi di Palopo dan Gorontalo. Mamuju sendiri mengalami inflasi 0,14 persen.
Winrizal memaparkan, dalam perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) di Sulawesi Barat pada bulan Oktober 2019 sebesar 112,23 atau naik 0,04 persen dibandingkan NTP pada bulan September 2019 dan juga pada bulan sebelumnya. Pada Oktober 2019, NTP Sulbar menempati urutan ke 13 dari 18 provinsi yang telah mengalami deflasi perdesaan.
Sementara untuk perkembangan pariwisata dan transportasi pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang di Sulawesi Barat pada periode September sebesar 48,62 persen. Dan itu telah mengalami peningkatan 1,5 poin dengan membandingkan pada periode bulan Agustus 2019 yang tercatat sebesar 47,11 persen.
Untuk pertumbuhan pada produksi industri manufaktur di Sulawesi Barat hanya terdiri dari industri makanan dan untuk industri pengelolaan kelapa sawit dan turunnya industri tekstil. Untuk pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang Provinsi Sulawesi Barat pada triwulan ketiga 2019, naik sebesar 2,03 persen dibandingkan periode yang tahun 2018. Kenaikan tersebut disebabkan naiknya produksi industri makanan sebesar 1,94 persen.
Untuk pertumbuhan pada produksi IMK ditriwulan ketiga 2019, naik 7,52 persen. Untuk jenis industri mikro dan kecil di Sulawesi Barat terdiri dari berbagai macam jenis industri. Maka pada pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil Provinsi Sulawesi Barat pada triwulan ketiga 2019 naik sebesar 18,56 persen.
”Sementara pertumbuhan produksi Industri Mikro dan Kecil (IMK) nasional memiliki arti penting dan strategis bagi pembangunan di daerah, papar Winrizal. (alaluddin)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top