Headline

”Binatang pun tidak Begitu ke Anaknya”


Orang Tua Mansyur Sebut Ada yang Provokasi Anaknya

BKM/MUH AMIN SEKAP ANAK-Penning dan Humairah yang ditemui di sel tahanan unit PPA Polres Bulukumba, Rabu (16/10).

BULUKUMBA, BKM — Dua orang tua Mansyur kini menjadi tahanan Polres Bulukumba. Ayahnya Penning berada dalam ruang sel Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Sementara istrinya Marhumah dijadikan tahanan kota.
Ia diperbolehkan pulang ke rumahnya pada malam hari, dan kembali lagi ke kantor polisi keesokan paginya. Langkah tersebut diambil penyidik dengan pertimbangan tidak ada yang bisa memasak dan mengantarkan makanan untuk mereka jika keduanya ditahan.
BKM menemui keduanya di ruang tahanan mapolres, Rabu (16/10). Penning mengenakan celana pendek warna putih, berbaju kaus berkerah garis-garis, serta kopiah. Sementara istrinya Humariah duduk di sampingnya. Memakai hijab hitam, berbaju kaus putih merah, dan bercelana jins.
Dalam keterangannya, keduanya tak memungkiri telah menyekap anaknya. Namun tidak sampai sembilan tahun seperti yang mencuat belakangan ini. Hanya 14 hari.
Itupun dirinya tetap memberi makan kepada anaknya Mansyur. Tindakan itu dilakukan semata untuk memberi efek jera. Juga agar Mansyur tidak bebas keluar rumah.
”Memang kami ikat tangan dan kakinya. Itu kalau saya mau berangkat ke sawah. Setelah pulang, saya lepas kembali. Ini berlangsung 14 hari,” jelasnya.
Penning khawatir, Mansyur akan berulah seperti hari-hari sebelumnya jika ia tak diikat. Misalnya, mengambil barang milik orang lain, dari mulai makanan hingga barang berharga berupa gawai. Bahkan Mansyur kerap berulah melepas ternak orang lain, yang mengakibatkan hewan tersebut berkeliaran secara bebas dan memakan tanaman padi milik warga. Ujung-ujungnya, mereka meminta ganti rugi kepada orang tua Mansyur.
Kekhawatiran serupa disampaikan Marhumah, ibunda Mansyur. ”Saya juga takut dia (Mansyur) terus-terusan seperti itu. Makanya, saya ikut saja apa yang dilakukan bapaknya,” ujarnya.
Marhumah mencontohkan, anak laki-lakinya itu pernah berulah di Desa Bialo. Dia mengambil barang milik orang lain. Akhirnya Mansyur jadi sasaran amukan massa, hingga mukanya babakbelur dipukuli. Warga juga merasa dirugikan kemudian meminta ganti rugi.
Ditanya tentang pengakuan Mansyur yang panjang lebar, baik Penning maupun Marhumah kompak membantahnya. ”Kami saya anak saya, Pak. Tidak mungkin saya perlakukan dia seperti itu. Binatang pun tidak mungkin seperti itu. Apalagi manusia,” bebernya.
Sebagai orang tua, Penning dan Marhumah menduga ada yang sengaja memprovokasi Mansyur untuk melaporkan kedua orang tuanya. Mereka disebutkan sakit hati dengan keberhasilan pasangan suami istri ini sekembalinya dari Negeri Jiran, Malaysia.
Meski begitu, keduanya hanya bisa pasrah atas musibah yang menimpanya. Mereka yakin Tuhan tahu siapa yang berbuat salah dan benar.
Sebelumnya, BKM berkunjung ke kediaman Penning dan Marhumah di Kelurahan Jalanjang, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Rumah yang dicat warna kuning tersebut masih tampak baru. Bangunannya cukup besar. Pekarangannya tergolong luas. Pagar depan terbuat dari tembok. Pintu pagarnya besi.
Di bagian samping rumah batu ini, terdapat rumah kayu. Bangunan berdinding kayu ini merupakan tempat tinggal Sakati, nenek dari Mansyur. Suasananya pada kedua rumah ini tampak sepi. (min/rus/b)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top