Headline

Perbudakan Modern Terbongkar


Sembilan Tahun Disekap Orang Tua Kandung

MAKASSAR, BKM — Kasus penganiayaan dan penyanderaan terhadap anak yang dilakukan orang tua kandung terjadi di Kelurahan Galanggang, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Peristiwa itu dialami Mansyur, seorang pria yang kini berumur 26 tahun.
Selama sembilan tahun, dirinya disekap di kamar mandi (WC) oleh kedua orang tua kandungnya, yakni Penni dan Humairah. Kejadian miris itu terkuak setelah Mansyur berhasil lolos dengan cara menggigit pintu WC dan lari. Dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat, dia terpaksa melarikan diri dengan meloncat-loncat seperti pocong.
Dalam pelariannya, di perjalanan Mansyur bertemu dengan salah seorang kerabatnya. Diapun dibawa ke kantor polisi. Aparat kemudian langsung bergerak ke rumah korban untuk menangkap orang tuanya. Namun, hanya sang ayah, Penni yang ditahan. Sementara ibunya menjadi tahanan kota.
Mansyur lalu dirujuk ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bulukumba. Selanjutnya, didampingi tim reaksi cepat dan instansi terkait, Mansyur lalu dirujuk ke Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulsel untuk mendapat pertolongan.
Kepada wartawan di P2TP2A Sulsel, Senin (14/10), Mansyur menceritakan kondisi yang dialaminya selama bertahun-tahun. Di pergelangan tangan dan kakinya, masih terlihat bekas ikatan cukup kuat dan telah menghitam.
Mansur bercerita dirinya mendapatkan perlakuan kasar sejak kelas dua SD. “Saya dulu sekolah kelas dua. Saya juga rajin mengaji, tapi tidak lanjut sekolah oleh bapak,” kata Mansur terbatah-bata.
Lebih jauh Mansur menuturkan pengalamannya. Saat beranjak remaja, dirinya dipekerjakan di sawah menarik gerobak bajak menggunakan tali di mulutnya. Bahkan orang tua Mansur tega mengirim anaknya ke Malaysia untuk dipekerjakan di perusahaan kelapa sawit.
“Umur 14 tahun saya sudah ke Malaysia. Disuruh kerja di sana tarik gerobak. Isinya kelapa sawit. Tarik gerobak pakai mulut. Tanganku diikat,” lanjutnya.
Sekembali dari Malaysia, dia diikat pakai rantai di dalam kamar mandi. Tangan dan kaki juga diikat. ”Saya tidur begini (sambil mempraktikkan gaya tidur berdiri dengan tangan terikat di atas),” paparnya.
Sedihnya lagi, Mansur hanya diberi makan sekali dalam sehari. Itu pun jika orang tuanya ingat.

Perbudakan Modern

Kepala UPT P2TP2A Sulsel Meisy Papayungan membeberkan fakta mengejutkan terkait kasus yang menimpa Mansyur. Meisy mengatakan, Mansyur merupakan korban perbudakan modern.
“Orang tua kandungnya memperlakukan Mansyur bukan sebagai anak, melaikan seperti layaknya binatang,” ungkap Meisy.
Dia melanjutkan, berdasarkan keterangan yang dikorek dari korban, Mansyur waktu kecil dititip ke neneknya. Setelah sang nenek meninggal, umur 15 tahun Mansyur dibawa ke Malaysia oleh orang tuanya. Di sana Mansyur dipekerjakan secara kasar dan diperlakukan seperti binatang oleh orang tuanya. “Dia diikat agar bisa mengangkut barang,” jelas Meisy.
Penyiksaan terhadap Mansyur terjadi terus menerus. Berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, sehari-hari Mansyur diikat menggunakan rantai dengan posisi tangan di atas. Tragisnya, Mansyur diberi makanan yang tidak sepantasnya.
“Mansyur baru akan dilepas ketika musim tanam tiba. Dia dipekerjakan di sawah. Dijadikan seperti hewan. Setelah itu dia dikurung lagi,” beber Meisy.
Diakui Meisy, kasus seperti ini baru pertama kali ditangani UPT P2TP2A. Selama ini, pihaknya menangani kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur. Hanya saja, ia memberi pengecualian terhadap Mansyur, mengingat ia disiksa sejak masih kanak-kanak. (rhm/)


www.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa PPOB dll
Comments
To Top